Berbagai istilah yang sering digunakan pada saat merayakan Idulfitri. Misalnya, minal ‘Aidin wal Faizin, halalbihalal, maaf lahir batin, ketupat lebaran, pakaian dan busana baru. Memaknai Idulfitri tergantung pada bagaimana seseorang menikmati dan mengalaminya dengan cara berusaha memaksimalkan dan memperluas pemahaman terhadapnya.
Idulfitri bukanlah sekadar perayaan tasyakuran setelah puasa Ramadan, melainkan upaya maksimal untuk tetap memelihara kefitrian melalui pembentukan karakter dan kesucian hati pada hari-hari selanjutnya setelah puasa Ramadan berakhir. Di sana menanti dua pesan abadi Ramadan yakni imsak dan memaafkan untuk senantiasa dilaksanakan meskipun dalam bentuk dan bahasa yang berbeda.
Pertama, imsak dalam arti menahan diri dari segala sesuatu yang dapat meruntuhkan kemanusiaan kita. Apakah itu keserakahan, sifat sombong, hawa nafsu, dan keinginan yang berlebihan. Kalau Anda bergerak di bidang ekonomi kemudian karena desakan keuntungan yang menggiurkan, lalu Anda memanipulasi, merampas hak orang lain.
Kalau Anda seorang atasan, kemudian memeras tenaga orang yang menjadi bawahan Anda, atau menuntut agar semua keperluan Anda terpenuhi. Kalau Anda hanya pegawai dan karyawan atau bawahan yang mengorbankan keimanan Anda hanya karena sesuap nasi. Maka Anda perlu imsak dari sifat-sifat serakah seperti itu.
Kalau Anda merasa lebih mulia, lebih terhormat, lebih pintar, lebih berkuasa daripada orang lain boleh jadi karena ilmu, harta, kekuasaan atau pengaruh, dan keturunan. Kemudian Anda cenderung meremehkan orang lain, Anda perlu imsak dari kecenderungan-kecenderungan semacam itu.
Jika seseorang ingin memenuhi keinginan sensual, bersenang-senang, makan dan minum, merasa dan ingin diperlakukan sebagai orang yang paling penting, diistimewakan, biasa disebut dengan arogansi dan egoisme, semua itu karena dorongan hawa nafsu. Kita perlu imsak dari kebiasaan-kebiasaan seperti itu.
Ketika seseorang menginginkan sesuatu secara berlebihan, maka keinginan itu sering kali melumpuhkan pertimbangan dan akal sehat. Tengok saja kebiasaan umat Islam di akhir Ramadan yang sangat konsumerisme. Iming-iming diskon separuh harga, mengalahkan janji pahala yang begitu besar dari Allah bagi yang bersungguh-sungguh beribadah di akhir-akhir Ramadan.
Demikian pula yang terjadi pada Adam dan Hawa, tidak dibenarkan untuk mendekati apalagi memakan buah khuldi, karena keinginan yang berlebihan sehingga Adam dan Hawa melanggar apa yang diperintahkan oleh Tuhan, lalu keduanya pun terusir dari surga. Kita pun harus imsak dari keinginan-keinginan yang dapat menghalangi kita untuk memperoleh surga.
Kedua, memaafkan dengan tulus kesalahan orang yang pernah berbuat salah kepada kita. Dalam kehidupan ini, tampaknya memohon maaf lebih mudah daripada memaafkan orang lain. Karena banyak di antara kita begitu mudah melupakan kesalahan yang pernah dilakukan kepada orang lain, namun sangat susah melupakan kesalahan orang lain kepada kita.
Karena itu memaafkan orang lain dapat mengantar pelakunya kepada kemuliaan, dan memaafkan lebih utama daripada menunggu orang lain mengulurkan tangan memohon maaf. Memaafkan tidak hanya sebatas pegangan tangan sembari berucap mohon maaf lahir batin, namun memaafkan itu tempatnya di hati.
Halalbihalal yang dilakukan dengan ketulusan hati akan membawa pelakunya pada kemuliaan pribadi dan sosial. Karena halalbihalal bukan sekedar upacara maaf-memaafkan, makan bersama, berpegangan tangan bersalam-salaman, melainkan sebuah metode sosial yang diharapkan dapat merubah hubungan yang tadinya beku, menjadi cair. Dalam konteks tata hubungan sosial untuk meraih kemuliaan harkat kemanusiaan dengan cara memberikan sesuatu yang lebih baik kepada orang lain. (*)
Alat AksesVisi