Hari Asyura, yaitu tanggal 10 Muharram, merupakan salah satu hari yang memiliki kedudukan istimewa dalam tradisi Islam. Bagi umat Islam, hari ini tidak hanya diperingati sebagai momentum mengenang berbagai peristiwa bersejarah, tetapi juga sebagai kesempatan untuk meningkatkan kualitas amal ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Dalam berbagai literatur Islam disebutkan sejumlah peristiwa penting yang dikaitkan dengan Hari Asyura, antara lain:
- Diterimanya taubat Nabi Adam a.s. atas kesalahan yang pernah diperbuatnya.
- Diselamatkannya Nabi Musa a.s. dan Bani Israil dari kejaran Fir'aun di Laut Merah.
- Selamatnya Nabi Nuh a.s. beserta para pengikutnya dari banjir besar.
- Gugurnya cucu Rasulullah SAW, Husein bin Ali r.a., dalam Peristiwa Karbala.
Terlepas dari perbedaan pandangan mengenai validitas historis sebagian riwayat tersebut, Hari Asyura tetap menjadi salah satu hari yang dimuliakan oleh umat Islam.
Pada hari itu, umat Islam dianjurkan memperbanyak amal kebajikan, berdoa, bersedekah, serta menyantuni anak yatim dan kaum dhuafa.
Amalan yang paling dikenal adalah puasa Asyura. Dalam hadis Nabi Muhammad SAW disebutkan bahwa puasa Asyura diharapkan menjadi sebab diampuninya dosa-dosa kecil selama setahun yang telah lalu. Umat Islam juga dianjurkan berpuasa pada tanggal 9 Muharram (Puasa Tasu'a) sebagai pembeda dari tradisi keagamaan lain yang juga berpuasa pada hari tersebut.
Semua kelompok besar dalam Islam mengenal dan memperingati Hari Asyura, meskipun dengan penekanan yang berbeda. Di kalangan Sunni, Asyura lebih banyak dimaknai sebagai peringatan atas keselamatan Nabi Musa a.s. dari kejaran Fir'aun dan berbagai peristiwa keselamatan para nabi lainnya.
Sementara itu, di kalangan Syiah, perhatian lebih banyak tertuju pada Peristiwa Karbala, yaitu gugurnya Husein bin Ali r.a. pada tahun 680 M.
Peristiwa tersebut dipandang sebagai simbol perjuangan menegakkan kebenaran, keadilan, dan pengorbanan demi mempertahankan prinsip-prinsip agama.
Karena itu, sebagian penganut Syiah menjadikan bulan Muharram sebagai masa berkabung dan refleksi atas keteladanan Husein bin Ali r.a.
Perbedaan penekanan dalam memperingati Hari Asyura seharusnya dipahami sebagai bagian dari keragaman tradisi keagamaan dalam Islam. Perbedaan tersebut tidak semestinya menjadi alasan untuk saling menyalahkan atau melarang satu sama lain. Dalam ilmu budaya dikenal bahwa perbedaan sudut pandang sering kali melahirkan penilaian yang berbeda terhadap objek yang sama.
Karena itu, yang lebih penting adalah mengambil hikmah dari Hari Asyura. Bagi umat Islam, hari ini dapat dijadikan momentum untuk memperbanyak ibadah, memperkuat kepedulian sosial, memperdalam rasa syukur, serta meneladani keteguhan para tokoh yang berjuang menegakkan kebenaran.
Pada akhirnya, kemuliaan Hari Asyura tidak hanya terletak pada peristiwa-peristiwa yang dikenang, tetapi juga pada sejauh mana peringatan tersebut mampu mendorong peningkatan kualitas keimanan, ketakwaan, dan amal saleh dalam kehidupan sehari-hari.
Wassalam
Kompleks GFM, 25 Juni 2026