Kemarin subuh saya memacu kendaraan menuju Pinrang. Tugas sebagai narasumber sebuah kegiatan menanti tepat pukul 08.00 pagi.
Tak ada pilihan lain, saya harus menembus dinginnya udara fajar demi mengejar waktu. Di balik kemudi, saya merenung, betapa waktu subuh adalah pintu rezeki yang penuh keberkahan, sebagaimana doa Baginda Nabi SAW.
Namun, perjalanan yang semula linear ini mendadak melambat saat kendaraan saya memasuki wilayah Soreang, Parepare.
Sekitar 300 meter sebelum SPBU Soreang, pemandangan unik menghentikan laju roda saya. Sebuah gardu kecil tampak dikerumuni pembeli.
Mulai dari sopir yang singgah melepas lelah hingga penumpang yang turun mencari sarapan. Penasaran, saya pun merapat.
Saya ingin melihat apa gerangan rezeki yang Allah tebar di sana hingga orang-orang rela berdesakan di pagi buta. Ternyata, itu adalah warung 'Gadde-Gadde' sederhana yang menjajakan aneka makanan tradisional.
Di dalamnya, tersaji Sokko' Pulu' Bolong (Songkolo Ketan Hitam) yang masih mengepulkan uap panas, Putu Soppa', hingga Burasa'.
Setahu saya, menu ketan hitam dan Putu Soppa’ yang otentik seperti ini sudah sangat sulit ditemukan di hiruk-pikuk Kota Daeng.
Semuanya dimasak langsung di tempat. Aromanya yang menggoda selera seolah menjadi pengingat bahwa nikmat Tuhan mana lagi yang ingin kita dustakan?
Di tengah kesibukan warung itu, mata saya tertuju pada seorang bapak yang mungkin usianya sudah menginjak kepala enam.
Beliau masih tegak berdiri dengan penuh kesabaran menanti gilirannya. Sebenarnya ada rasa segan melihat ketenangan beliau.
Tapi desakan lapar setelah perjalanan jauh membuat saya terpaksa mendahului masuk ke barisan.
Maafkan saya, Pak, ini murni urusan darurat lambung yang sudah tidak bisa diajak kompromi.
Setelah mendapatkan pesanan, saya pun duduk Massulengka (bersila).
Saya meniru gaya santai para sopir mobil tronton raksasa yang sedang beristirahat di samping saya.
Mumpung tidak ada orang kenal. Andai ada Prof Marjuni lewat, “Ai, Siri’-Siri’ E mana Je”.
Saat suapan pertama masuk, perpaduan Songkolo’ dan Putu Soppa’ itu terasa begitu membara.
Asapnya masih keluar dari mulut saya mirip asap knalpot motor jupiternya La Geno’. Segala rasa lelah luruh seketika saat piring beralas daun pisang muda itu mendarat di depan mata.
Bintang utamanya adalah dua toples sambal tomat yang dipadukan dengan Ikan Mero muda dan Tai Boka’.
Ikan Lure-Lure segar dengan telur bebek Sidrap itu bersatu padu dengan pedas-asam sambal yang pas.
Hemm Nyamang Na, Massapodda'! (Enaknya, mantap sekali!).
Dan yang paling juara, yang membuat lidah ini tak mau berhenti bergoyang mirip “Tarian aerobik Zumba” adalah siraman Tai Boka berminyak.
Lemak santan yang dimasak lama hingga menjadi minyak yang gurih dan kental itu menyelimuti setiap butir ketan hitam.
Nyameng Na! Rasanya begitu dalam, begitu Massadidu.
Sebuah kelezatan yang meresap hingga ke hati dan mengunci semua rasa di rongga mulut.
Dalam sekali tarikan napas, dunia seakan berhenti berputar sejenak.
Inilah momen "reset iman" yang sesungguhnya di pinggir jalan Soreang. Menyadari bahwa kelezatan yang jujur adalah salah satu bentuk ayat-ayat Kauniyah Allah di atas piring.
Begitu nikmatnya, sampai ada istilah yang sangat pas menggambarkan suasana hati saya: Yallupai Inrengnge Purae Iwaja'.
Sampai-sampai utang yang sudah dibayar pun ikut terlupakan!
Pikiran tentang materi bahasan di gedung di Pinrang sejenak terpinggirkan oleh keajaiban rasa ini.
Bagi kalian yang melintas, jangan hanya mencari kenyang. Carilah rasa Massadidu ini di gardu milik tiga ibu pekerja keras tersebut.
Di sanalah Anda akan diingatkan, bahwa kenikmatan dunia seringkali terselip di balik kesederhanaan yang berminyak dan sambal yang membakar lidah.
Itulah puncak dari Godaan Sokko' Pulu' Bolong dan Putu Soppa’ yang sebenarnya. Sebuah nikmat yang patut disyukuri agar Allah tambah keberkahannya.
Melo’ Mopa’ Makkoling! (Saya masih mau ke sana!).
5 April 2026 M
SK
Alat AksesVisi