Gambar GELAR

Suatu sore, seperti biasa, saya bertugas di poliklinik. Suasana berjalan tenang hingga tiba-tiba seorang perawat masuk dengan raut sedikit tergesa. Ia melaporkan bahwa ada seorang pasien yang tidak mau menunggu antrean dan memaksa untuk diperiksa lebih dulu.

Saya kemudian melihat daftar pasien. Nama itu tertera dengan deretan gelar yang panjang. Cukup membuat siapa pun terkesan yang membaca deretan gelarnya.

Saya bertanya pelan kepada perawat, “Apakah pasien ini dalam kondisi darurat?”

“Tidak, Dok. Keadaan umumnya stabil,” jawabnya singkat. Tapi bahasanya kasar Dok. Ngotot mau masuk duluan karena buru2 katanya.

Saya terdiam. Menarik napas panjang.

******

Ijinkan saya bertanya kepada kita semua: 

Apa sebenarnya ujung dari sebuah proses pendidikan?

Gelar? Ya, itu benar.

Profesionalisme? Tentu, tidak keliru.

Namun, ada sesuatu yang jauh lebih mendasar,  yaitu :

Perbaikan pola pikir dan pola sikap.

Sebab sejatinya, pendidikan bukan sekadar perjalanan mengumpulkan titel atau pengakuan. Ia adalah proses panjang yang bermutasi, mengubah cara kita memandang dunia, dan perlahan membentuk siapa diri kita. Dari sanalah karakter terbentuk. Ditempa oleh proses. 

Gelar bisa dipajang, bahkan dibanggakan. Namun cara berpikirlah yang menentukan arah langkah kita. Profesionalisme mungkin terlihat dalam pekerjaan, tetapi sikap tercermin dari hal-hal sederhana: bagaimana kita menghargai orang lain, bagaimana kita bersabar dalam keterbatasan, dan bagaimana kita tetap rendah hati saat memiliki alasan untuk merasa lebih tinggi.

Pendidikan yang utuh tidak selalu tampak mencolok. Ia hadir dalam kepekaan yang berproliferasi. Yaitu ketika kita mulai lebih banyak mendengar daripada berbicara, lebih memilih memahami daripada menghakimi, dan mampu menahan diri saat ego ingin mendominasi. 

Orang yang benar-benar terdidik bukanlah yang selalu memiliki jawaban, melainkan yang menyadari batas pengetahuannya. Bukan yang gemar memenangkan perdebatan, tetapi yang mampu menjaga kebijaksanaan dalam perbedaan.

Dunia tidak hanya membutuhkan kecerdasan, tetapi juga kejernihan hati. Tidak hanya kemampuan berpikir, tetapi juga kelapangan dalam bersikap.

Dan mungkin, di ruang tunggu seperti sore itu, kita diingatkan kembali bahwa pendidikan sejati tidak selesai di meja kuliah. Ia diuji justru dalam momen-momen kecil, dalam kesabaran menunggu, dalam kerendahan hati menghargai sesama,  dalam bergaul dengan sesama dan dalam kemampuan menempatkan diri dengan adab. 

Maka ketika perjalanan pendidikan sampai pada ujungnya, seharusnya  yang tertinggal bukan sekadar gelar di belakang nama, melainkan kedewasaan dalam cara berpikir, keteduhan dalam bersikap, dan kehadiran yang membawa makna bagi sesama.

Menjadi manusia yang bukan hanya berilmu, tetapi juga beradab.

Menjadi manusia yang bukan hanya berhasil, tetapi juga memberi dampak.

Makassar, 25 April 2026