Menjelang akhir Ramadhan, kita sering mendengar satu istilah yang sangat akrab di telinga, kembali ke fitrah. Idul Fitri bahkan sering dimaknai sebagai momentum manusia kembali kepada kesucian. Namun pertanyaannya, apa sebenarnya yang dimaksud dengan fitrah itu?
Banyak orang memahami fitrah hanya sebagai keadaan bersih dari dosa setelah menjalani puasa selama sebulan. Pemahaman ini tidak sepenuhnya salah, tetapi sebenarnya fitrah memiliki makna yang jauh lebih luas dan mendalam.
Fitrah adalah keadaan asli manusia ketika ia diciptakan, suci, jujur, suka memaafkan, penuh empati, dan memiliki kecenderungan alami kepada kebaikan. Dalam fitrah itu, manusia memiliki nurani yang mampu membedakan antara yang benar dan yang salah. Ia memiliki hati yang mudah tersentuh oleh penderitaan orang lain dan memiliki keinginan untuk hidup dalam kebaikan.
Namun dalam perjalanan hidup, fitrah itu sering tertutup oleh noda yang bersumber dari ambisi, keserakahan, ego, dan kepentingan duniawi.
Ramadhan hadir untuk membuka kembali lapisan-lapisan itu. Ketika seseorang berpuasa, ia belajar menahan diri dari sesuatu yang sebenarnya halal. Ia tidak makan, tidak minum, dan menjaga perilakunya sepanjang hari. Latihan ini sebenarnya adalah proses mengembalikan manusia kepada kesederhanaan hidup yang sesuai dengan fitrahnya.
Fitrah manusia bukanlah hidup dalam keserakahan tanpa batas. Fitrah manusia adalah hidup dengan keseimbangan. Kita bisa melihat contoh sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Anak kecil pada dasarnya memiliki fitrah yang jujur. Jika ia melakukan kesalahan, sering kali ia langsung mengaku tanpa perlu ditekan. Ia juga mudah memaafkan dan cepat melupakan konflik. Namun ketika ia tumbuh dewasa, berbagai kepentingan mulai mempengaruhi sikapnya. Kejujuran yang dulu spontan kadang berubah menjadi perhitungan.
Begitu pula dengan empati. Secara alami manusia akan merasa sedih melihat orang lain menderita. Tetapi dalam kehidupan modern yang serba cepat, empati itu kadang tumpul. Kita bisa melihat berita tentang penderitaan orang lain di layar ponsel, tetapi hati kita tidak lagi mudah tergerak.
Ketika seseorang merasakan lapar sepanjang hari, ia diingatkan bahwa ada banyak orang yang hidup dalam keadaan seperti itu setiap hari. Dari pengalaman itu lahirlah empati yang lebih nyata. Karena itu Ramadhan selalu diiringi dengan zakat, infak, dan sedekah, sebagai bentuk konkret dari kembalinya manusia kepada fitrah kepedulian sosial.
Dalam konteks kehidupan masyarakat Indonesia hari ini, kembali kepada fitrah juga berarti kembali kepada nilai-nilai dasar kemanusiaan, kejujuran, kedisiplinan, tanggungjawab, kepedulian, dan kesederhanaan.
Kita sering mendengar berita tentang korupsi, manipulasi, dan penyalahgunaan kekuasaan. Fenomena seperti ini sebenarnya terjadi ketika manusia menjauh dari fitrahnya. Ketika ambisi mengalahkan nurani, maka kejujuran pun mudah dikorbankan.
Sebaliknya, orang yang hidup dengan fitrahnya biasanya terlihat sederhana tetapi menenangkan. Ia tidak perlu selalu tampil hebat. Ia cukup menjadi manusia yang jujur dalam pekerjaannya, adil dalam keputusannya, dan peduli kepada orang-orang di sekitarnya.
Itulah bentuk fitrah yang paling nyata. Kembali kepada manusia otentik, menjadi manusia yang lebih jujur, lebih sabar, lebih peduli, dan lebih rendah hati.
Fitrah bukanlah tentang menjadi yang paling kaya, paling berkuasa, atau paling terkenal. Fitrah manusia adalah menjadi manusia yang baik.
Sungguminasa 23 Ramadhan 1447 H
Alat AksesVisi