Gambar Filosofi RSIA: Ketika Ayah tak Boleh Sakit

ENLITE FEST FAH UIN Alauddin Makassar adalah sebuah kegiatan yang sangat apik dan menarik, digagas secara kolaboratif oleh dosen dan mahasiswa Bahasa dan Sastra Inggris bersama Universitas Fajar (UNIFA).

Festival ini menghadirkan berbagai adegan di antaranya international talkshow dan pentas drama panggung. Saya berkesempatan mengikuti kedua event tersebut. Pertama, international talkshow yang berlangsung di lantai 4 UIN Alauddin Makassar dengan menghadirkan Konsul Jenderal Australia. Kedua, drama panggung yang berlangsung di Gedung Universitas Fajar (UNIFA), Rabu, 15 Juli 2026.

Saya sangat menikmati setiap event yang disajikan. Ada energi kreativitas, keberanian berekspresi, dan pesan-pesan kehidupan yang disampaikan melalui panggung. Namun, di sela-sela pertunjukan itu, ada satu hal sederhana yang justru menarik perhatian dan mengajak saya untuk merenung lebih jauh.

Salah seorang aktor dalam momen tersebut menyebut istilah RSIA, singkatan dari Rumah Sakit Ibu dan Anak. Singkatan ini tentu sudah sangat umum di benak kita. Namun, yang menarik adalah pernyataannya " Maaf, tidak ada rumah sakit untuk bapak. Yang ada hanya rumah sakit ibu dan anak."

Kalimat itu mungkin terdengar sebagai sebuah humor sederhana. Tetapi bagi saya, di baliknya terdapat filosofi kehidupan yang dalam.

Mengapa ada Rumah Sakit Ibu dan Anak, tetapi tidak ada Rumah Sakit Bapak? Tentu saja, secara medis, seorang bapak tetap bisa sakit dan membutuhkan perawatan. Namun, jika dilihat dari perspektif simbolik dan filosofis, pernyataan itu seperti ingin mengatakan bahwa seorang bapak sering kali ditempatkan sebagai sosok yang "tidak boleh sakit". Ia harus selalu kuat. Ia dituntut untuk tetap berdiri ketika anggota keluarga lainnya membutuhkan perlindungan.

Bapak adalah salah satu benteng terdepan dalam keluarga. Ia memikul tanggung jawab untuk memastikan keluarganya tetap berjalan, bertahan, dan tumbuh. Ketika anak sakit, ia mencari pengobatan. Ketika istri mengalami kesulitan, ia berusaha memberikan ketenangan. Ketika keluarga menghadapi persoalan, ia sering menjadi orang pertama yang berpikir tentang jalan keluar.

Bahkan ketika dirinya sendiri sedang lelah, ia sering memilih diam.Ketika hatinya sedang gelisah, ia berusaha menyembunyikannya. Ketika kehidupannya sedang berat, ia tetap berusaha memperlihatkan wajah tenang di hadapan keluarga.

Di sinilah filosofi "RSIA" menjadi sebuah refleksi tentang peran bapak. Bukan berarti bapak tidak boleh mengeluh atau tidak boleh mendapatkan perhatian. Justru sebaliknya. Bapak juga manusia yang memiliki batas kekuatan. Ia bisa lelah, bisa sedih, bisa takut, dan tentu saja bisa sakit.

Karena itu, keluarga yang baik bukanlah keluarga yang hanya meminta bapak untuk selalu kuat. Keluarga yang baik adalah keluarga yang juga menjaga bapaknya. Sebab, orang yang selama ini menjadi pelindung juga membutuhkan perlindungan. Orang yang selalu menguatkan juga sesekali perlu dikuatkan.

Bapak bukan sekadar pencari nafkah. Ia adalah penjaga arah, pemberi rasa aman, dan sering kali menjadi tempat terakhir keluarga menggantungkan harapan. Perannya memang tidak selalu terlihat. Ia mungkin tidak banyak berbicara tentang pengorbanannya. Namun, banyak keluarga berdiri kokoh karena ada seorang bapak yang memilih untuk tetap bertahan.

Jika selama ini kita sering berkata, "Bapak harus kuat," mungkin sudah saatnya kita juga berkata, "Bapak harus dijaga agar tidak sakit"

Cirebon, 25 Juli 2026