Ngabuburit selalu punya cara untuk terasa akrab. Ia bukan sekadar aktivitas menunggu azan magrib, melainkan ruang jeda yang diisi dengan obrolan, tawa, dan kadang keheningan yang khusyuk. Di banyak kota di Indonesia, ngabuburit telah menjadi bagian dari lanskap sosial Ramadan, ritual kecil yang menghubungkan waktu, ruang, dan manusia dalam satu tarikan napas yang sama: menanti berbuka.
Dulu, ngabuburit terasa lebih fisik, lebih kasatmata. Anak-anak berlarian di lapangan, remaja berkumpul di pinggir jalan, keluarga berjalan santai menyusuri taman kota. Di Bandung, yang sering disebut sebagai asal populer istilah ini, ngabuburit identik dengan nongkrong sore sambil menikmati udara sejuk dan jajanan sederhana. Waktu berjalan lambat, dan menunggu menjadi pengalaman kolektif.
Kini, waktu seperti berlari lebih cepat, meski durasinya tetap sama. Perubahan paling terasa hadir lewat layar di genggaman. Ngabuburit tak lagi hanya tentang berada di suatu tempat, tetapi juga tentang hadir di ruang digital. Sambil duduk di teras atau di kafe, orang-orang menyusuri linimasa, menonton video pendek, atau membalas pesan yang tak ada habisnya.
Platform seperti TikTok dan Instagram membentuk wajah baru ngabuburit. Resep takjil viral, rekomendasi tempat bukber, hingga siaran langsung menjelang azan menjadi konsumsi harian. Menunggu berbuka kini diisi dengan menonton orang lain menunggu berbuka. Ada sensasi kebersamaan yang aneh: kita sendirian, tetapi tidak sepenuhnya merasa sendiri.
Fenomena ini melahirkan budaya baru: berburu takjil berdasarkan tren. Jika dulu orang memilih kolak atau gorengan dari pedagang langganan, kini pilihan sering dipengaruhi oleh apa yang sedang ramai diperbincangkan. Algoritma menjadi penentu selera, dan linimasa menjadi peta kuliner Ramadan. Ngabuburit berubah menjadi peristiwa yang terdokumentasi, difoto, dan diunggah.
Namun di balik kemeriahan digital itu, ada pertanyaan yang diam-diam muncul: apakah makna menunggu ikut berubah? Dulu, jeda sebelum berbuka adalah ruang refleksi—waktu yang terasa hening untuk menyadari lapar dan dahaga sebagai bagian dari latihan batin. Kini, notifikasi yang tak putus-putus seakan mengisi setiap celah keheningan itu.
Di satu sisi, teknologi membuka peluang kebaikan. Kajian Ramadan dapat diakses secara daring, ceramah bisa diputar ulang, dan penggalangan donasi menyebar lebih luas dalam hitungan detik. Ngabuburit tidak lagi terbatas oleh jarak; seseorang di kota kecil bisa mengikuti tausiah dari ulama di kota besar tanpa harus bepergian. Ruang digital memperluas cakrawala spiritual.
Di sisi lain, kita tak bisa menutup mata pada kecenderungan komersialisasi. Ramadan menjadi musim kampanye, diskon, dan promosi. Ngabuburit kerap diselipi ajakan belanja atau konten sponsor yang halus. Ada ironi ketika momen yang seharusnya mengajarkan pengendalian diri justru dibanjiri dorongan konsumsi.
Perubahan ini juga menggeser bentuk kebersamaan. Jika dulu orang bertemu secara fisik di alun-alun atau masjid, kini grup percakapan dan ruang siaran langsung menjadi tempat berkumpul. Tawa bisa hadir lewat komentar, doa dikirim lewat pesan suara. Kebersamaan tidak hilang, hanya wujudnya yang berubah.
Saya sering bertanya pada diri sendiri: apakah saya benar-benar menunggu waktu berbuka, atau sekadar menunggu baterai ponsel habis? Pertanyaan itu terasa sederhana, tetapi menyentuh inti dari pengalaman ngabuburit hari ini. Di tengah banjir konten, kita perlu memilih dengan sadar bagaimana mengisi waktu.
Barangkali evolusi ini bukan tentang baik atau buruk, melainkan tentang adaptasi. Setiap zaman memiliki caranya sendiri untuk merayakan Ramadan. Jika dulu suara bedug menjadi penanda kebersamaan, kini mungkin notifikasi pengingat azan di ponsel mengambil peran itu. Substansinya tetap sama: menanti dengan harap.
Pada akhirnya, ngabuburit di era digital adalah cermin dari diri kita sendiri. Ia bisa menjadi ruang distraksi yang melelahkan, atau justru kesempatan untuk memperkaya makna menunggu. Teknologi hanyalah alat; manusialah yang menentukan arah. Di sela-sela gulir layar dan detik yang berjalan, mungkin yang paling penting bukan bagaimana kita menunggu, tetapi untuk apa kita menunggu.
(*)
Alat AksesVisi