Fenomena meluruhnya intensitas ibadah pasca-Ramadhan, atau yang sering disebut "Sindrom Syawal," merupakan kegagalan transformasi spiritual dari sekadar ritualitas musiman menjadi aktualitas kepribadian yang menetap.
Evaluasi berbasis dampak menjadi krusial untuk membedah akar masalah mengapa nilai-nilai takwa seringkali hanya menjadi output (hasil sesaat) tanpa menjadi outcome (dampak jangka panjang) yang merekonstruksi kecerdasan emosional dan sosial.
Kajian ini akan menelusuri strategi dekonstruksi mentalitas "garis finis", internalisasi nilai muraqabah dalam keseharian, serta perumusan indikator keberhasilan spiritual yang terukur secara fiqih dan psikologis agar energi Ramadhan tetap bertenaga menggerakkan kesalehan individu di sebelas bulan berikutnya.
Ya Allah, Sang Pemilik Hati yang membolak-balikkan keadaan, teguhkanlah hati kami di atas ketaatan kepada-Mu Ya Allah setelah berlalunya bulan suci Ramadhan.
Janganlah Engkau jadikan Ramadhan kami sebagai ritual yang sia-sia, melainkan jadikanlah ia lentera yang terus menyala dalam jiwa, menerangi langkah kami menuju kemuliaan akhlak dan kedekatan yang abadi kepada-Mu Ya Allah hingga maut menjemput. Amin.
Alat AksesVisi