Gambar Episode Ujian di Poli Kandungan

Kemarin sore, seperti biasa saya bertugas di poli kandungan.

Seorang ibu masuk. Jalannya pelan. Tubuhnya kurus sekali. Wajahnya terlihat lebih tua dari usianya.
Sebut saja namanya Aminah.

Usianya sebenarnya baru 36 tahun. Tapi kalau hanya melihat wajahnya, orang mungkin menebak usianya sudah lewat 40. Mungkin bukan karena ia tidak merawat diri. Mungkin karena hidup yang terlalu sering menekannya.
Ia sedang hamil anak kelima.
Ini kali kedua ia datang berobat ke saya. Dan seperti sebelumnya, ia datang sendirian.

“Bagaimana kabarnya, Bu?” saya menyapa.

“Alhamdulillah baik dok… cuma sudah sering kontraksi palsu,” jawabnya.

Saya memeriksanya seperti biasa.
Denyut jantung bayi terdengar baik.
Gerakan bayi juga bagus.
Bayinya sehat.
Tapi ibunya sangat kurus.
Terlalu kurus untuk seorang ibu hamil.

Saya lalu bertanya pelan.

“Suaminya mana Bu? Tidak ikut?”

Ia tersenyum sedikit. Tapi senyum itu terasa berat.

“Suami saya tidak pernah peduli, Dok.”

Ia mulai bercerita.

“Kalau di rumah kerjanya cuma main HP. Tidak pernah membantu pekerjaan rumah. Tidak pernah bantu urus anak.”

Ia berhenti sebentar.

“Anak-anak juga saya sendiri yang antar jemput sekolah.”

Saya masih mendengarkan.

“Untuk makan sehari-hari… saya yang kerja, Dok. Saya jadi ojek antar jemput anak sekolah.”

Saya terdiam.

Ia melanjutkan.

“Kalau saya minta uang… dia marah. Pernah sekali saya minta… dia pukul saya.”

Air matanya jatuh.
Begitu saja.
Tidak menangis keras. Tidak mengeluh panjang. Hanya air mata yang turun perlahan.

Saya menggenggam tangannya.

“Sabar ya Bu…”

Kadang kita tidak tahu harus mengatakan apa.
Kata-kata terasa terlalu kecil untuk menggambarkan beratnya hidup seseorang.

Saya hanya bisa mengatakan,

“Ibu ini kuat sekali.”

Sebelum ia keluar ruangan, saya menyelipkan sedikit uang di tangannya.
Tidak banyak. Hanya sekadar yang saya punya saat itu.

Ia melihat uang itu, lalu berkata dengan mata berkaca-kaca,

“MasyaAllah… terima kasih dok. Allah dengar doa saya.”

Saya bertanya, “Kenapa Bu?”

Ia menjawab pelan,

“Hari ini beras saya habis.”

Entah kenapa, dada saya tiba-tiba terasa sesak.

*****

Pasien berikutnya masuk.

Sebut saja namanya Ny. Susan

Usianya 38 tahun.
Cantik.
Wajahnya terlihat lebih muda dari usianya.

Ia juga hamil.

“Sendirian Bu?” saya bertanya.

“Iya dok.”

Ia menjawab tenang.

“Suami saya kawin lagi.”

Ia mengatakannya tanpa nada marah.
Tanpa emosi berlebihan.
Seperti seseorang yang sudah lama belajar menerima kenyataan.

“Mungkin sekarang dia sibuk dengan keluarga barunya.”

Ia tersenyum kecil.

“Anak-anak juga sudah tidak terlalu peduli dengan bapaknya.”

Ia berhenti sebentar, lalu melanjutkan,

“Bapaknya memang dari dulu suka selingkuh.”

Kemudian ia berkata sesuatu yang membuat saya terdiam.

“Tapi Alhamdulillah… dia masih memberi nafkah.”

Ia tersenyum.

“Walaupun tidak banyak.”

Lalu ia menambahkan,

“Itu saja yang saya syukuri.”

Saya memeriksa kehamilannya. Bayinya sehat.
Ibunya juga sehat.

“Ibu dan bayinya baik,” saya menyampaikan hasil pemeriksaan.

Ia terlihat lega.

“Terima kasih dok.”

Sebelum ia keluar, saya berkata,

“Semangat ya Bu . Ibu luar biasa.”

Ia hanya mengangguk sambil tersenyum.


Hampir setiap hari saya bertemu kisah seperti ini di poli.
Kisah yang mungkin tidak pernah diceritakan ke orang lain.
Kisah yang tidak pernah muncul di berita.
Kisah orang-orang biasa… yang sedang menjalani ujian hidupnya.

Di ruangan kecil itu saya sering belajar banyak hal tentang kehidupan.

Tentang sabar.
Tentang bertahan.
Tentang manusia yang tetap berjalan meskipun hatinya sedang sangat lelah.

Ada ibu yang tetap tersenyum meski diperlakukan tidak baik oleh suaminya.
Ada wanita yang tetap berdiri demi anak-anaknya.
Ada manusia yang tetap bersyukur… meskipun hidupnya jauh dari kata mudah.

Dari mereka saya belajar satu hal.

Ternyata hidup ini memang kumpulan episode ujian.
Tidak ada manusia yang bebas dari ujian.

Ada yang diuji dengan kekurangan dan kelebihan.
Ada yang diuji dengan pasangan.
Ada yang diuji dengan keluarga.
Ada pula yang diuji dengan kesepian.

Namun mungkin, ujian itu memang diciptakan bukan untuk menghancurleburkan manusia.
Namun ujian justru membuat manusia lebih kuat.
Lebih sabar.
Dan lebih dekat kepada Tuhannya.

Karena seringkali ketika semua pintu terasa tertutup… manusia akhirnya mengadu kepada Allah. Kembali kepada Allah.
Dan di situlah kekuatan itu muncul.

Maka mungkin benar.
Manusia yang paling kuat bukanlah mereka yang hidupnya paling mudah.
Tetapi mereka yang diuji berkali-kali… lalu tetap mampu berkata,

“Alhamdulillah. Aku punya Allah"

Dan setiap kali saya bertugas memeriksa pasien di rumah sakit....
sebenarnya…
mereka juga sedang mengajarkan saya tentang kehidupan.

(*)