Sangat menarik kajian selepas Magrib yang disampaikan oleh Menteri Agama RI, Prof. Dr. K.H. Nasaruddin Umar, MA di mesjid kampus 1 UIN Alauddin Makassar, Ahad 14 Juni 2026. Menarik karena dijelaskan secara sistematis, mendalam dan memiliki novelty yang dapat mengubah cara pandang seseorang.
Beliau mengawali kajian dengan mengurai kata "alam" yang menjadi bagian kehidupan manusia. Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA menyatakan kata "alam" seakar dengan kata 'alim, 'allamah, dan 'alamat. Alam adalah sumber pengetahuan yang melahirkan manusia menjadicberilmu ('alim), guru besar yang mengajarkan berbagai hukum kehidupan ('allamah), sekaligus tanda-tanda ('alamat) yang mengarahkan manusia kepada pengenalan terhadap Sang Pencipta. Dengan demikian, alam bukan sekadar objek yang dapat dieksploitasi sesuka hati, melainkan medium spiritual yang menghubungkan manusia dengan Tuhan.
Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA lalu mengurai paradigma teologis yang selama ini menjadi keyakinan mainstream terkait istilah "Khaliq" dan "Makhluq". Menurutnya, untuk memperkuat basis tauhid dengan fondasi ekoteologi, maka pemahaman ini dapat dipertajam dengan memahami konsep "al-Haqq" dan "al-Khalq". Al-Haqq merujuk kepada Tuhan sebagai Realitas Absolut dan sumber seluruh eksistensi. Sementara al-Khalq adalah seluruh ciptaan yang memperoleh keberadaannya dari Tuhan. Dalam tradisi metafisika Islam, terutama yang berkembang dalam khazanah tasawuf dan filsafat Islam, alam dipahami sebagai tajalli atau penampakan sifat-sifat Tuhan dalam bentuk yang dapat disaksikan oleh manusia.
Pandangan ini tidak berarti menyamakan Tuhan dengan alam (pantheism). Tuhan tetap transenden, tidak identik dengan ciptaan-Nya. Namun, alam merupakan manifestasi dari kehendak, kebijaksanaan, keindahan, dan kekuasaan-Nya. Karena itu, ketika manusia memandang gunung, laut, hutan, sungai, langit, dan seluruh makhluk hidup, sesungguhnya ia sedang menyaksikan jejak-jejak kehadiran Ilahi yang terpancar dalam alam semesta.
Dalam kerangka ini, hubungan antara "al-Haqq" dan "al-Khalq" bukanlah hubungan yang terpisah secara mutlak. Alam menjadi jembatan yang menghubungkan manusia dengan Tuhan. Setiap unsur alam adalah ayat atau tanda (alamat) yang menunjuk kepada Realitas Yang Maha Tinggi. Al-Qur'an berulang kali mengajak manusia untuk memperhatikan langit, bumi, pergantian siang dan malam, hujan, tumbuhan, dan berbagai fenomena alam sebagai sarana untuk mengenal Tuhan.
Oleh karena itu, kerukunan dengan alam sesungguhnya merupakan bagian dari kerukunan dengan Tuhan. Ketika manusia menjaga hutan, melestarikan sungai, mengurangi pencemaran, dan melindungi keanekaragaman hayati, ia tidak hanya sedang menjalankan tanggung jawab ekologis, tetapi juga sedang menunaikan tanggung jawab teologis. Sebaliknya, ketika manusia merusak lingkungan secara serakah dan destruktif, ia bukan hanya melakukan kesalahan ekologis, melainkan juga melakukan pembangkangan terhadap amanah ketuhanan.
Menurut Prof. Dr. Nasaruddin, MA, selama ini diskursus kerukunan lebih banyak diarahkan pada upaya menjaga hubungan harmonis di tengah keberagaman agama, etnis, dan budaya. Padahal, banyak krisis kemanusiaan justru lahir dari rusaknya hubungan manusia dengan alam. Banjir, longsor, kekeringan, pencemaran lingkungan, dan perubahan iklim pada akhirnya bermuara pada penderitaan manusia itu sendiri.
Karena itu, penghancuran alam berarti penghancuran terhadap medium yang memperkenalkan manusia kepada Tuhan. Hutan yang ditebang secara liar, sungai yang dicemari, laut yang dirusak, dan udara yang dikotori bukan hanya kehilangan fungsi ekologisnya, tetapi juga kehilangan fungsi spiritualnya sebagai ayat-ayat Tuhan yang hidup. Alam adalah "tajalli" dan manifestasi eksistensi Ilahi dalam tatanan kosmos
Ekoteologi Prof. Dr Nasaruddin Umar, MA memiliki dimensi teologis yang sangat kuat.Membangun hubungan harmonis dengan sesama manusia berarti menjaga dimensi sosial kehidupan, sedangkan membangun hubungan harmonis dengan alam berarti menjaga dimensi kosmik kehidupan.
Ekoteologi mengajarkan bahwa perdamaian sejati tidak hanya lahir dari absennya konflik antar manusia, tetapi juga dari hadirnya kesadaran bahwa manusia, alam, dan Tuhan berada dalam satu jaringan relasi yang saling terhubung. Semakin manusia menghormati alam sebagai manifestasi tanda-tanda ketuhanan, semakin kuat pula kesadaran spiritualnya. Sebaliknya, semakin besar kerusakan yang ditimbulkan terhadap alam, semakin jauh manusia dari makna terdalam keberagamaannya.
Sungguminasa, 15 Juni 2026
Alat AksesVisi