Hari ini bumi menghadapi krisis yang tidak ringa; banjir, kekeringan, polusi, dan kerusakan hutan yang semakin meluas. Ironisnya, semua itu terjadi di tengah kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Banyak orang kemudian bertanya: di mana posisi agama dalam persoalan ini? Apakah agama hanya berbicara tentang surga dan neraka, atau juga tentang nasib bumi yang kita pijak?
Di sinilah pentingnya ekoteologi, yaitu cara memahami ajaran agama—termasuk Islam—yang menempatkan alam sebagai bagian dari amanah Tuhan. Dalam perspektif Islam, manusia tidak hanya disebut sebagai hamba Allah (‘abdullah), tetapi juga sebagai khalifah di bumi. Artinya, manusia diberi tanggung jawab untuk menjaga keseimbangan alam, bukan merusaknya.
Jika Islam benar-benar dipahami sebagai rahmatan li al-‘alamin, maka rahmat itu harus terasa oleh seluruh makhluk: manusia, hewan, tumbuhan, bahkan ekosistem alam.
Sejumlah pemikir Muslim kontemporer mengingatkan bahwa krisis lingkungan sebenarnya berakar pada cara pandang manusia yang keliru terhadap alam. Cendekiawan Pakistan-Inggris Fazlur Rahman menegaskan bahwa Al-Qur’an memandang alam sebagai sistem yang diciptakan secara seimbang (mizan). Ketika manusia merusak keseimbangan itu, berarti ia telah melanggar prinsip moral yang diajarkan wahyu.
Sementara pemikir lingkungan Muslim Indonesia Amin Abdullah menekankan pentingnya pendekatan integratif antara agama, sains, dan etika lingkungan. Menurutnya, krisis ekologi tidak bisa diselesaikan hanya dengan teknologi, tetapi membutuhkan kesadaran spiritual dan moral manusia.
Dengan kata lain, menjaga lingkungan bukan sekadar program pembangunan, tetapi juga bentuk ibadah.
Para ulama klasik telah lama mengingatkan tentang bahaya keserakahan manusia terhadap alam. Ulama besar seperti Ibn Khaldun dalam pemikirannya tentang peradaban menyinggung bahwa kerusakan lingkungan sering muncul ketika manusia terlalu mengejar kemewahan dan melupakan keseimbangan hidup.
Islam juga sangat menekankan prinsip tidak berlebih-lebihan (israf). Bahkan dalam penggunaan air untuk berwudu pun Nabi Muhammad mengajarkan agar tidak boros. Ini menunjukkan bahwa etika ekologis sudah tertanam dalam ajaran Islam sejak awal.
Dalam salah satu kisah tasawuf diceritakan seorang murid sufi menebang pohon tanpa alasan yang jelas. Gurunya kemudian menegurnya dan berkata, “Engkau mungkin mengira hanya menebang pohon, tetapi sebenarnya engkau sedang memutus tasbih makhluk yang memuji Tuhan.”
Bagi para sufi, alam bukan benda mati. Setiap makhluk memiliki cara sendiri untuk memuji Sang Pencipta. Karena itu, merusak alam berarti memutus harmoni kosmis yang telah diciptakan Tuhan.
Ekoteologi mengajak kita untuk memeriksa kembali makna keberagamaan kita. Jangan sampai kita rajin beribadah tetapi abai terhadap kerusakan alam di sekitar kita.
Ketika kita membuang sampah sembarangan atau merusak alam, apakah kita sadar bahwa itu juga bentuk pengkhianatan terhadap amanah Tuhan? Mengapa manusia yang paling cerdas justru sering menjadi penyebab kerusakan bumi?, Jika alam bisa berbicara, kira-kira apakah ia akan bersyukur atas kehadiran manusia, atau justru mengeluh karenanya?
Akhirnya, ekoteologi mengingatkan kita bahwa iman tidak hanya tercermin dalam doa dan zikir, tetapi juga dalam cara kita memperlakukan bumi. Sebab menjaga alam pada hakikatnya adalah menjaga rahmat Tuhan bagi seluruh makhluk.
Allah A’lamMakassar, 16 Maret 2026
*Konsep ceramah Tarwih malam ke 27, yang akan disampaikan di Masjid Bab al Rahmah Urip Sumaharjo
Alat AksesVisi