Dalam sebuah sambutan setelah sidang isbat yang disiarkan di panggung AKSI Indosiar, Menteri Agama, K.H. Nasaruddin Umar, menyampaikan sebuah pandangan yang sangat menggugah. Ia mengatakan bahwa Indonesia kelak akan menjadi epicentrum peradaban Islam dunia. Jika Timur Tengah adalah tempat lahirnya Islam, maka Indonesia dengan segala dinamika dan keunikannya berpotensi menjadi ruang di mana Islam dibesarkan kembali dengan wajah yang lebih damai dan inklusif.
Pernyataan ini bukan sekadar optimisme kosong. Ia lahir dari realitas sosial yang hari ini bisa kita saksikan bersama. Indonesia adalah negeri dengan keberagaman yang luar biasa. Beragam suku, bahasa, budaya, dan bahkan corak keberagamaan hidup berdampingan dalam satu ruang kebangsaan. Namun yang menarik, di tengah keragaman itu, masyarakat Indonesia memiliki kemampuan unik, merawat perbedaan tanpa harus meniadakannya.
Hari raya Idul Fitri tahun ini (2026) adalah salah satu contoh nyata. Umat Islam di Indonesia merayakan Idul Fitri pada waktu yang berbeda. Ada yang lebih dahulu, ada yang kemudian, sesuai dengan metode ijtihad masing-masing. Namun perbedaan itu tidak berubah menjadi konflik. Tidak ada pertikaian. Tidak ada saling menjatuhkan. Justru yang terlihat adalah saling menghormati, saling memahami, bahkan saling mendoakan. Di sejumlah mesjid bahkan hari raya diadakan dua kali (Jumat dan Sabtu).
Inilah wajah Islam yang disebut oleh Nasaruddin Umar sebagai Islam yang moderat (wasatiyah). Islam yang tidak kaku, tetapi juga tidak kehilangan prinsip. Islam yang mampu berdialog dengan realitas sosial tanpa kehilangan nilai-nilai spiritualnya.
Tidak heran jika hari ini banyak pihak di dunia mulai melirik Indonesia sebagai contoh praktik keberagamaan yang damai. Di saat beberapa wilayah lain masih diliputi konflik seperti Timur Tengah, Indonesia justru menunjukkan bahwa perbedaan tidak harus berujung pada perpecahan. Menurutnya bagaimana mungkin peradaban bisa berkembang di Timur Tengah jika mereka dilanda konflik berkepanjangan.
Indonesia menjadi ruang di mana Islam tidak hanya diajarkan, tetapi juga dihidupkan dalam bentuk yang ramah dan membumi. Dalam perspektif yang lebih dalam, apa yang kita miliki hari ini sesungguhnya adalah anugerah yang sangat besar. Keragaman bukanlah kelemahan, tetapi kekayaan. Perbedaan bukanlah ancaman, tetapi keindahan.
Karena itu, ketika Menag RI K.H. Nasaruddin Umar menyebut Indonesia sebagai “lukisan terindah Allah,” beliau sedang mengajak kita melihat negeri ini dengan cara yang berbeda. Sebuah lukisan tidak indah karena satu warna saja, tetapi karena perpaduan berbagai warna yang saling melengkapi. Jika semua warna diseragamkan, maka keindahan itu justru akan hilang.
Namun sebuah lukisan juga membutuhkan penjagaan. Ia bisa rusak jika tidak dirawat. Ia bisa pudar jika tidak dijaga dengan baik. Begitu pula dengan Indonesia. Keragaman yang kita miliki hari ini tidak akan bertahan jika kita tidak merawatnya dengan kesadaran, kedewasaan, dan cinta.
Idul Fitri adalah momentum yang sangat tepat untuk memperkuat kesadaran itu. Setelah sebulan penuh kita membersihkan diri, menahan ego, dan memperbaiki hubungan dengan Tuhan, kini saatnya kita memperbaiki hubungan dengan sesama manusia. Mempererat silaturrahmi, menghapus kesalahpahaman, dan merawat persaudaraan di tengah perbedaan. Inilah makna hakiki idul Fitri
Karena pada akhirnya, kemenangan sejati bukan hanya ketika kita kembali suci secara pribadi, tetapi ketika kita mampu menjaga harmoni dalam kehidupan bersesama.
Selamat Idul Fitri 1447 H.
Jadikan keragaman dan perbedaan sebagai mozaik lukisan memperindah bingkai kehidupan.
Sungguminasa 21 Maret 2026
Alat AksesVisi