Artikel ini sebenarnya pernah saya perkenalkan sebelumnya. Namun kali ini saya melengkapinya dengan pandangan Peter Russell yang menarik tentang percepatan perubahan dalam kehidupan manusia.
Menurut temuannya, semakin hari perubahan terjadi semakin cepat. Jika dilihat dari volume dan pelipatan perubahan sejak ditemukannya tulisan hingga sekarang, percepatan itu dapat digambarkan secara sederhana sebagai ber
Tahun Jarak Waktu Volume Peliputan1 M 50.000. 11500 M. 1.500. 21750 M. 250. 41900 M. 150. 81950 M. 50. 161960 M. 10. 321967 M. 8. 641973 M. 5. 128
Ketika tahun 1 masehi, dalam jarak waktu 50 ribu tahun, baru terjadi volume pelipatan 1 kali. Tetapi pada tahun 1500 masehi, dalam jarak waktu 1500 tahun. Terjadi volume pelipatan 2 kali. Namun tahun 1750, dalam jarak waktu 250 tahun. Terjadi volume pelipatan 4 kalu. Jadi makin ke sini makin cepat volume pelipatanya semakin banyak.
Sekarang diperkirakan setiap 18 bulan terjadi pelipatan perubahan. Artinya, jika seseorang membeli telepon genggam hari ini, pada hakikatnya pada saat yang sama produk itu sudah mulai tertinggal karena teknologi baru telah muncul menggantikannya.
Dalam ilmu sosial juga dikenal kecenderungan lain, yaitu bahwa perubahan bukan hanya semakin cepat, tetapi juga bergerak menuju sistem yang lebih kompatibel dan saling terhubung.
Salah satu contoh nyata adalah berkembangnya e-commerce. Dunia bisnis kini sedang mengalami transformasi dari sistem konvensional menuju sistem perdagangan elektronik. Akibatnya, tidak sedikit gerai atau toko ritel, baik lokal maupun internasional, yang mengalami kemunduran bahkan tumbang satu per satu.
Beberapa perusahaan besar pernah mengalami masa sulit, seperti 7-Eleven, Matahari Department Store, Nyonya Meneer, hingga raksasa mainan dunia Toys 'R' Us yang sempat terlilit utang besar.
Fenomena ini menunjukkan bahwa hampir semua segmen kehidupan sedang mengalami transformasi. Jika ingin bertahan (survive), maka pelaku usaha harus mampu membaca tren perubahan perilaku konsumen yang kini semakin condong pada sistem belanja daring.
Contoh lain dapat dilihat dalam bidang mobilitas di kota-kota besar. Dahulu masyarakat lebih banyak menggunakan taksi konvensional. Kini muncul transportasi berbasis aplikasi seperti Grab, yang mampu menjawab kebutuhan mobilitas masyarakat secara lebih cepat dan praktis.
Transportasi jenis ini bahkan secara tidak langsung membantu membuka lapangan kerja. Selama seseorang mau bekerja, ia dapat memperoleh penghasilan sebagai pengemudi. Dalam pengamatan saya, fenomena ini juga memberi dampak sosial yang cukup positif, antara lain mengurangi sebagian bentuk kriminalitas jalanan.
Pada awal kemunculannya memang sempat terjadi penolakan dari sebagian pengemudi transportasi konvensional. Demonstrasi pernah terjadi. Namun pada akhirnya perkembangan itu sulit dibendung. Bahkan pemerintah kemudian mengakomodasi dan melegalkannya, karena memang itulah arah perubahan zaman.
Apalagi layanan tersebut terus berkembang, misalnya dengan hadirnya layanan pengantaran makanan seperti GrabFood. Konsumen cukup memesan dari rumah dan makanan pun diantar tanpa harus repot memasak atau keluar rumah.
Sementara itu, taksi konvensional kini banyak bertahan di area bandara sebagai salah satu basis layanan yang relatif stabil, karena mereka dapat proteksi.
Perubahan juga terjadi dalam dunia pendidikan dan teknologi. Ketika saya mengikuti studi semester pertama di Program Pascasarjana di Jakarta pada tahun 1986, komputer masih merupakan teknologi baru. Untuk menggunakannya diperlukan waktu menunggu cukup lama hingga perangkat tersebut siap dipakai
Saya juga masih ingat semasih studi di S1 taun 1973. Masa itu banyak dosen bergelar BA (Bachelor of Arts). Dalam perkembangan berikutnya gelar sarjana menjadi standar, kemudian meningkat lagi menjadi magister. Kini untuk menjadi dosen di perguruan tinggi umumnya minimal harus bergelar magister, dan saya memperkirakan di masa depan gelar doktor akan menjadi syarat yang semakin umum.
Perubahan juga akan terjadi dalam cara umat beragama menjalankan praktik keagamaannya. Substansinya tetap sama, tetapi cara dan sarana pendukungnya akan terus mengalami transformasi.
Saya termasuk orang yang mengalami kehidupan dalam tiga zaman politik Indonesia, yaitu masa Orde Lama, Orde Baru, dan Era Reformasi.
Pada awal tahun 1960-an di kampung-kampung belum ada jam, belum ada radio, apalagi televisi. Untuk mengetahui waktu berbuka puasa masyarakat menggunakan tanda-tanda alam. Jika ayam sudah naik ke peraduannya, itu pertanda matahari telah terbenam dan saatnya berbuka puasa.
Sekarang jam dan televisi tersedia hampir di setiap rumah. Bahkan waktu berbuka dapat diketahui secara sangat presisi. Substansinya tetap sama, yaitu terbenamnya matahari, tetapi sarana pendukungnya telah berubah.
Hal yang sama dapat dilihat dalam pelaksanaan ibadah haji. Pada awal abad ke-20 jamaah haji dari Nusantara berangkat dengan kapall uap dan perjalanan dapat memakan waktu berbulan-bulan. Bahkan dikenal istilah “Haji Singapura”. Jamaah berangkat dengan perahu menuju Singapura, lalu menunggu kapal yang akan membawa mereka ke Tanah Suci.
Selama menunggu, ada yang bekerja atau bertani terlebih dahulu untuk menambah biaya perjalanan. Tidak jarang pula ada yang batal berangkat karena uangnya dirampok di perjalanan.
Risiko perjalanan saat itu sangat besar. Bahkan jumlah jamaah yang wafat di perjalanan sering kali lebih banyak daripada yang berhasil kembali. Karena itu masyarakat sangat menghormati mereka yang berhasil menunaikan ibadah haji dan memberi tempat terhormat dalam berbagai acara kenduri.
Perjalanan dari Jeddah ke Mecca atau ke Medina pun dahulu ditempuh dengan kendaraan sederhana seperti unta.
Bandingkan dengan kondisi sekarang. Jamaah haji dapat terbang dengan pesawat hanya dalam hitungan jam. Dari Jeddah ke Mekkah tersedia bus ber-AC, hotel yang nyaman, bahkan kini ada kereta cepat menuju Madinah.
Dengan perubahan seperti itu, muncul pertanyaan reflektif: apakah gelar haji masih memiliki makna sosial yang sama seperti dahulu?
Yang jelas, ke depan praktik keberagamaan kemungkinan akan semakin cepat, semakin nyaman, dan semakin kompatibel dengan perkembangan teknologi.
Benarlah apa yang dikatakan sosiolog: "Satu-satunya yang tetap adalah perubahan itu sendiri."
Wassalam
Kompleks GFM,11 Maret 2026
Alat AksesVisi