Gambar Dua Muballigh, Satu Panggung: Amal dan Dosa

Malam kedua puluh tiga di Masjid Syurah menjadi momen refleksi yang membekas bagi saya. Pada malam itu, saya mendapat amanah dari lembaga IMMIM untuk berbagi mimbar bersama Anre Gurutta Prof. Dr. H. Muh. Faried Wadjedy, Lc., MA.

Dalam kesempatan itu, Anre Gurutta lebih dahulu membuka suasana dengan narasi memikat tentang amal di Ramadhan. Beliau bercerita tentang luasnya samudra pahala, terutama saat gerbang Lailatul Qadar terbuka lebar.

Saat giliran tiba, saya melanjutkan mimbar dengan tema berbeda. Jika Anre Gurutta berbicara tentang pahala, bagian berikutnya saya mengangkat sisi lain: dosa.

Keberagaman ibadah sering ternoda oleh hal kecil yang prinsipil. Fokus tertuju pada fenomena sering dianggap remeh tetapi fatal secara hukum langit: melewati orang sedang shalat.

Kepada jamaah saya sampaikan secara lugas: perbuatan itu haram, termasuk dosa besar. Hadis riwayat Bukhari dan Muslim menegaskan pelakunya menanggung beban berat. Lebih baik menunggu empat puluh tahun di suatu tempat daripada melangkah di depan orang tengah bermunajat.

Di mimbar itu juga saya tekankan bahwa ketergesaan di masjid sering mengabaikan kesakralan hubungan hamba dengan Sang Khalik. Banyak orang memaksa lewat di depan orang shalat, padahal sudah diingatkan dengan isyarat tangan—bahkan ada yang mengatakan setan qarin merasuki jiwanya.

Dari situ muncul seloroh di mimbar: oh, baru kita tahu, ternyata setan itu ada di masjid. Anehnya, di tempat-tempat buruk justru jarang terdengar ada setan—di tempat perjudian, tidak ada setan, di tempat mabuk-mabukan, atau kawasan wanita tuna Susila tidak ada setan. Mengapa di sana tidak ada setan?

Sebab, di dalamnya semuanya sudah berubah jadi setan.

Pemandangan seperti ini paling sering terlihat saat Subuh. Kaum laki-laki baru masuk masjid lalu langsung shalat sunah dekat pintu atau area lalu-lalang, abai pada barisan depan dijanjikan rahmat utama. Saf-saf belakang justru menjadi pilihan, padahal Rasulullah saw. mendoakan rahmat Allah tertunda bagi mereka sengaja melambat-lambatkan diri dalam saf shalat.

Saya juga menyoroti mereka shalat tanpa memperhitungkan tempat. Solusi sederhana namun tegas: gunakan sutrah atau pembatas. Rasulullah SAW dahulu menancapkan sutrah berupa tongkat, panah, atau pedang di depannya sebagai batas. Tapi tentu saja, jangan meniru ala Makassar dengan membawa kalewang atau busur panah ke masjid—nanti malah dikira mau tawuran antargeng motor!

Dosa. Itulah kesimpulan yang saya sampaikan melalui mimbar bagi mereka suka lewat di depan orang shalat.

Saya teringat seorang teman di kampung pernah berkata:

“Dosaku ini banyak. Kalau ditakdirkan, tidak apa-apa saya masuk neraka, yang penting di kotanya.”

Busyet. Tidak ada lagi kota di sana! 

Barangkali dia mengira neraka punya provinsi, kabupaten, kecamatan, bahkan RW untuk sanksi. Andai memang ada, mungkin namanya: Provinsi Neraka, Kabupaten Jahannam, Kecamatan Saqar, Desa Jahim—alias Desa Penyiksaan.

Dagelan ini memberi gambaran ringan, tetapi sebenarnya mengingatkan betapa besar beban dosa saat disepelekan. Sama seperti segenggam pasir dan batu besar: pasir mungkin ringan dibawa satu genggam, tetapi jika dikumpulkan satu karung, beratnya melampaui batu mana pun. Begitulah dosa sering dianggap sepele.

Melalui Lensa Jurnalistik Islami ini, ingin saya tegaskan: agama bukan hanya soal mengejar pahala melangit. Disiplin menghindari dosa—termasuk sering terbawa hingga ke pintu masjid—sama pentingnya.

Dosa kecil memang tampak ringan saat dilakukan, seperti bayangan di bawah terik matahari terlihat mungil. Namun seiring waktu bayangannya memanjang—hingga ke akhirat. Ia terasa ringan di awal, tetapi akan menjadi beban ketika terlalu lama dibawa dalam perjalanan hidup.

Di sinilah relevansi judul “Amal dan Dosa”: amal memberi pahala, dosa memberi beban, dan keduanya menentukan berat-ringannya perjalanan hidup.

Jum'at, 23 Ramadan 1447 H / 13 Maret 2026 M
SK