Gambar Dosen Syak Wasangka dan Mahasiswa Pemburu Ijazah

Atmosfir akademik di sebagian besar perguruan tinggi kita hari ini sedang diracuni oleh krisis kepercayaan yang amat mendalam antara dosen dan mahasiswa.

Di satu sisi, terdapat kelompok dosen yang selalu memandang mahasiswa dengan kacamata kecurigaan: menganggap mereka pemalas, penjiplak, dan hanya mencari jalan terlintas demi selembar kertas bertuliskan gelar.

Di sisi lain, mahasiswa memandang dosen bukan sebagai mata air ilmu atau mentor kehidupan, melainkan sebagai birokrat bernilai yang berpotensi menghambat masa depan mereka.

Sebagai seorang dosen senior dan praktisi pendidikan, Muh Anwar. HM merasakan betul betapa merusaknya ketegangan pasif ini terhadap iklim ilmiah kampus.

Hubungan yang harusnya berlandaskan pada pencarian kebenaran bersama (co-inquiry) berubah menjadi relasi feodal yang dipenuhi transaksi ketakutan dan kepatuhan semu.

Muh Anwar. HM, dengan keahliannya di bidang Mind Technology, melihat bahwa pola kecurigaan antar-manusia di ruang akademik ini menciptakan blokade mental yang menutup arus kreativitas.

Ketika mahasiswa merasa selalu dicurigai, mereka tidak akan pernah berani mengajukan gagasan radikal atau eksperimen pemikiran yang menyimpang dari pakem sang dosen.

Mereka memilih aman: menyetujui semua pendapat dosen, mengutip buku dosen, dan menyajikan skripsi yang datar tanpa kebaruan, asal proses wisuda berjalan lancar.

Inilah awal kemunduran budaya akademik. Universitas berubah menjadi pabrik pencetak sarjana yang mahir berkompromi dengan mediocrity ketimbang menjadi pusat pemikiran kritis.

Jika dosen dan mahasiswa tidak mampu membangun kembali fondasi saling percaya dan saling menghormati secara setara, maka gelar akademik yang diproduksi setiap tahun hanyalah tanda kepatuhan, bukan tanda keahlian.*