Gambar Dosen, AI, dan Cermin Kejujuran Akademik

Pagi tadi saya tidak menyangka akan dapat “kuliah singkat” dari anak saya sendiri. Dengan nada ringan tapi mengena, ia berkata:”Kok sekarang mama sering-sering pakai Chat GPT? Hati-hati lho.” Kalimat itu sederhana, tetapi terasa seperti sentilan keras yang langsung menembus kesadaran saya. Kesadaran bukan hanya sekedar sebagai orang tua, tetapi sebagai seorang dosen.

Sebagai akademisi, saya terbiasa berdiri di depan kelas menjelaskan konsep, membimbing mahsiswa, dan menekankan pentingnya berpikir kritis. Namun pagi tadi posisi seakan berbalik. Saya yang justru belajar, bahwa generasi muda yang hidup di era teknologi canggih melihat sesuatu yang mungkin kita abaikan, yaitu kecenderungan untuk terlalu nyaman dengan kemudahan yang ditawarkan AI.

Tidak dapat dipungkiri bahwa AI telah menjadi bagian dari keseharian akademik. Ia membantu merumuskan ide, menyusun bahan ajar, bahkan mempercepat penulisan. Dalam tekanan tuntutan publikasi dan beban administratif, AI terasa seperti “penolong” yang datang tepat waktu. Tetapi dari ucapan anak saya, saya mulai bertanya pada diri sendiri, apakah saya masih benar-benar berpikir atau sekedar mengelola output dari mesin?

Pertanyaan tersebut tidak nyaman, tetapi penting. Karena menjadi dosen bukan sekedar menghasilkan teks, melainkan membangun gagasan. jika proses berpikir mulai kita serahkan pada AI, maka perlahan kita akan kehilangan inti dari profesi kita. Kita mungkin tetap produktif secar kuantitas, tetapi kosong dalam kualitas refleksi.

Yang lebih mengusik, saya membayangkan bagaimana mahasiswa melihat saya sebagai dosen mereka. Mereka diminta jujur, kritis, dan orisinal. Tetapi kalau dosen mereka mulai mengambil jalan pintas, bukankah itu menciptakan kontradiksi? Sentilan anak saya tadi menjadi pengingat bahwa integritas akademik tidak hanya diajarkan, ia harus dicontohkan.

Ada pula kekhawatiran lain yang diam-diam muncul: jangan-jangan, tanpa sadar, saya sedang “melatih” diri untuk bergantung. Ketika AI terlalu sering digunakan, kemampuan merancang argumen, mengolah bahasa, dan melakukan refleksi mendalam bisa melemah. Seperti otot yang jarang dipakai, kapasitas intelektual itu bisa menyusut perlahan.

Namun saya juga sadar, menolak AI sepenuhnya bukanlah pilihan bijak. Dunia telah berubah, dan pendidikan harus beradaptasi. Yang perlu dibangun bukanlah resistensi, melainkan kesadaran dan kendali. AI harus tetap berada di tangan kita sebagai alat, bukan sebaliknya.

Percakapan singkat dengan anak saya pagi tadi menjadi semacam cermin. Ia tidak panjang, tidak teoritis, tetapi jujur. Dan justru dari situlah refleksi ini bermula. Bahwa di tengah derasnya arus teknologi, kita perlu sesekali berhenti dan bertanya: apakah kita masih setia pada peran kita sebagai pendidik? 

Barangkali, di era AI ini, tantangan terbesar bukan pada kemampuan menggunakan teknologi, tetapi pada kemampuan menjaga diri agar tidak kehilangan makna. Dan hari ini, saya diingatkan oleh anak saya sendiri, bahwa kewaspadaan itu tidak boleh hilang.