Malam ke-19 di Masjid Al-Abrar Gunung Sari memberi saya kejutan mekanis.
Baru saja selesai shalat sunah, panitia menyodorkan judul baru: "Fadhilah Berdoa". Padahal, kepala saya sudah terinstal rapi narasi "Amalan 10 Akhir Ramadan".
Terpaksa saya "tikung kiri" mendadak, melayani skenario panitia sebagai penguasa tunggal masjid.
Ada sedikit gesekan di batin. Mengapa informasi ini tidak tiba sebelum acara dimulai agar setelan materi bisa dirakit lebih presisi?
Namun, kesadaran segera kembali. Mubalig itu bak pilot cadangan; harus siap take-off dalam cuaca seburuk apa pun.
Seketika jemari saya mulai menari di atas layar gawai, menyusun konsep kilat.
Saya tahu betul, Masjid Al-Abrar selalu penuh sesak. Menghadapi jemaah melimpah, tausiyah ala kadarnya adalah pantangan.
Apalagi di sana ada sahabat saya, penulis hebat Syakhruddin Tagana, punggawa syakhruddinnews.com. Kehadirannya jelas menambah tekanan mekanis di podium; naskah tidak boleh sekadar rakitan asal-asalan.
Rupanya Allah sedang memberi navigasi. Mungkin jemaah lebih butuh transmisi doa daripada ego materi hendak saya tumpahkan di podium.
Saya percaya doa adalah kontak utama dengan Pencipta. Ia bukan sekadar aksesori atau ban serep.
Doa, vitamin jiwa. Tanpanya, manusia akan mengalami malnutrisi spiritual sekaligus malfungsi sistem.
Sering kali manusia keliru memposisikan doa. Doa bukan jalan terakhir saat teknis sudah buntu.
Ia seharusnya menjadi langkah pertama sebelum mesin kehidupan dinyalakan. Doa tulus tidak selalu panjang atau bertele-tele, namun selalu sampai ke server langit tanpa hambatan frekuensi.
Saya melihat fenomena paradoks menyedihkan. Ada manusia merasa cukup dengan usaha fisiknya—perangkat keras (hardware) miliknya—sehingga enggan menengadah.
Mereka pikir dunia bisa jalan hanya dengan otot dan otak tanpa perangkat lunak (software) bernama iman.
Padahal, doa adalah pengakuan jujur atas "ketidaklayakan" manusia. Jika manusia bosan dimintai bantuan, Allah justru murka kepada hamba yang tidak pernah mengetuk pintu-Nya.
"Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu." (QS. Ghafir: 60).
Masalahnya, meski pintu sudah dibuka lebar, manusia sering kali mengetuknya dengan cara salah.
Bicara soal doa, kadang manusia terlalu "kreatif" sekaligus kerap berburuk sangka pada cara Tuhan menjawab.
Ini anekdot: Ada pemuda miskin mengirim surat ke Tuhan minta uang Rp300 ribu untuk makan. Alamatnya jelas: Kepada Yth. Tuhan di Surga.
Pak Pos baik hati menemukan surat itu. Terharu, ia merogoh kocek pribadi Rp250 ribu. Ia memasukkannya ke amplop, lalu mengirimkannya kembali.
Begitu pemuda itu menerima uangnya, ia bersyukur, tapi langsung mengeluh: "Tuhan, kalau kirim duit jangan lewat pos lagi ya! Tega sekali Pak Pos potong Rp50 ribu untuk biaya kirim!"
Ha! Begitulah potret manusia. Sering gagal paham pada cara Tuhan mengirimkan solusi.
Banyak orang berhenti berdoa hanya karena jawabannya belum terlihat sesuai ekspektasi angka. Padahal, dalam keheningan doa, hati sedang dilatih percaya pada skenario besar.
Kadang terasa doa tak kunjung terkoneksi. Ibarat makan di lesehan pinggir pantai Losari.
Saking nikmatnya suguhan masakan itu, tiba-tiba muncul pengamen membawakan lagu Bugis syahdu “Jancimu Taro e”. Lantunan lagu itu sangat disukai.
Pertanyaan: Apakah langsung memberi receh? Tidak!
Bukan pelit. Hati masih ingin mendengar suaranya lebih lama. Begitulah Allah; Dia terkadang menunda jawaban karena rindu mendengar rintihan hamba-Nya.
Ada manusia berdoa meminta pelangi. Begitu amin diucapkan, justru mendung datang dan hujan turun lebat.
Dia protes, merasa Tuhan tidak mendengar. Padahal, secara teknis, itulah jalur wajib hadirnya pelangi.
Mustahil spektrum warna muncul tanpa kompresi mendung dan enkripsi hujan. Manusia sering kali hanya ingin hasil akhir, tanpa mau menerima proses pengolahan datanya.
Ingatlah, tidak semua doa mendapat respons instan. Allah SWT jauh lebih paham kebutuhan hamba-Nya daripada sekadar daftar permintaan pribadi.
Pengabulan doa disesuaikan hikmah dan kehendak-Nya. Terkadang jawaban tertunda atau dialihkan menjadi cadangan pahala (backup data) demi menghindarkan diri dari bahaya.
Tuhan tidak menolak doa; Dia hanya sedang melakukan optimasi sistem agar apa yang diterima benar-benar presisi bagi jiwa.
Bicara soal kecepatan akses, saya punya sepenggal doa.
Sejak puluhan tahun silam, ada satu doa yang tidak pernah tertolak.
Langsung dan kontan diijabah. Yaitu doa makan: selesai berdoa, saya langsung makan. Sampai hari ini, alhamdulillah, selalu terkabul.
Sinkronisasi antara permintaan dan realitas berjalan secepat kilat tanpa hambatan server.
Namun, hidup bukan sekadar urusan perut. Ketahuilah, kata "Amin" bukanlah tanda berhenti.
Itu adalah tombol "Enter" agar jiwa siap naik ke tingkat spiritual berikutnya. Jangan buru-buru memutus koneksi. Nikmati proses transmisi tersebut.
Berdoalah sekarang. Doa—jaringan komunikasi paling nyata—bisa diakses tanpa biaya berlangganan, tanpa takut pulsa habis, dan tentu tanpa potongan “biaya kirim” ala Pak Pos.
Senin, 19 Ramadan 1447 H / 9 Maret 2026
SK
Alat AksesVisi