Gambar Distribusi Jadwal Tausiyah Ramadhan: Sebuah Catatan Evaluasi

Gerbong besar IMMIM bersiap bergerak. Barisan singa mimbar dipetakan sebelum dilepas ke seluruh penjuru kota. Ini bukan sekadar rutinitas pembagian jadwal tausiyah Ramadhan, melainkan pemetaan kekuatan ruhani—sebuah ikhtiar menghidupkan masjid yang sebentar lagi kembali dahaga.

Dakwah adalah seni membaca nurani. Karena itu, seorang muballigh wajib memahami peta medan sebelum lidah menari di atas mimbar suci. Masjid pasar dan mimbar kampus berdiri di palagan berbeda, berdenyut dengan irama yang tak serupa. Masjid kota dan masjid pedalaman pun menuntut cara sapa yang berlainan.

Di masjid pasar, tutur perlu diperlambat—mengurai makna setahap demi setahap, bagai menyuapi jamaah dengan penuh kesabaran. Komunitasnya majemuk: pedagang kaki lima, pabbalu’ putu, tukang parkir, hingga tukang becak. Mereka datang membawa letih seharian; dakwah di sana menuntut bahasa qalbu yang sederhana, jujur, dan meresap hingga dada.

Di kampus, tuntutan bergeser. Mimbar masjid berhadapan dengan nalar kritis yang terlatih. Akurasi mesti dijaga, argumentasi wajib berpijak. Istilah tinggi berlapis boleh mengalir—globalisasi, dekonstruksi, kontemplasi, partisipasi—bahkan diselingi jargon jenaka ala La Saleng dari Buleleng: oleng ditempeleng, geleng-geleng jadi beleng-beleng, agar intelektualitas tak tercerabut dari realitas. Diskursus tetap tajam tanpa kehilangan adab.

Perbedaan medan ini semestinya melahirkan kejelian dalam mendistribusikan muballigh, sekaligus kecermatan menakar tema dakwah. Saat kejelian absen, kesalahan pun berlapis. Muballigh yang semestinya hadir justru menghilang; mimbar dititipkan kepada “anak manja” yang baru belajar mengeja. Podium masjid bukan ruang latihan amatir; ia panggung suci bagi mereka yang matang ilmu dan kepakaran. Ironis—bertitel tinggi di daftar, namun tampil di mimbar baru saja sarjana.

Dari kekeliruan orang, tragedi merembet pada kekeliruan tema. Panitia masjid kerap menyodorkan bahasan dakwah kepada muballigh tanpa pijakan keilmuan: ilmu faraid jatuh ke tangan ahli lingkungan, prinsip ekonomi dipaksakan kepada pakar hukum yang asing dengan medan tersebut. Bicara tanpa kepakaran hanya melahirkan komedi intelektual—menari di atas duka dan kebingungan umat. Mimbar suci pun terancam berubah menjadi panggung narasi salah alamat.

Padahal, penyodoran tema sejatinya penting. Tanpanya, muballigh kerap mengulang bahasan yang sama setiap malam—berpindah dari satu masjid ke masjid lain, dengan tema serupa tanpa jiwa.

Lebih lucu lagi, ada yang gemar berkhotbah soal narkoba, padahal rupa barangnya pun tak pernah dilihat, apalagi menyentuh realitas kehancuran di lapangan. Meracik materi bahaya narkoba hanya bersandar pada lembaran teks atau dengar-dengar semata melahirkan ironi: kemarahan berapi-api tumbuh dari ketidaktahuan.

Keadaan ini laksana anak muda yang belum menikah, namun ke mana-mana memberi nasihat pernikahan. Berbicaralah sesuai kepakaran dan pengalaman, agar momentum dakwah tumbuh indah dan jujur.

Biarlah muballigh bersuara dari ilmu yang dikuasai. Setiap kata menjelma ledakan iman—menghujam jantung, bukan sekadar basa-basi pengantar lelahnya tarawih.

Masalah serupa tampak pula dalam teknis ibadah Jumat, ketika kepekaan terhadap waktu kerap terabaikan. Master of Ceremony (MC) memanjangkan pengumuman: nama penyumbang diurai satu per satu, daftar belanja masjid dibacakan detail, saldo kas diulang berkali-kali. Padahal tak seorang pun jamaah mengeluh. Nama penyumbang sejatinya cukup ditulis rapi di papan masjid.

Waktu pun tergerus. Azan pertama mengalun panjang, disusul azan kedua yang tak kalah panjang. Saya pernah mengalaminya: duduk usai memberi salam, bersiap memulai khutbah, azan kedua justru meluncur lebih panjang dari yang pertama—hingga kantuk nyaris menyapa. Padahal azan kedua adalah penanda khutbah, bukan ajang unjuk napas panjang. Pukul dua belas siang, jamaah telah siap menunaikan Jumat.

Persoalan belum usai. Selepas khutbah, imam kembali memanjangkan bacaan. Semuanya panjang. Jamaah pun pulang melewati pukul satu siang, sementara perut belum makan siang, urusan kantor menunggu diselesaikan, dan tanggung jawab sosial tak bisa ditunda. Ibadah Jumat semestinya menghadirkan ketenangan dan keberkahan, bukan kelelahan akibat ketidakpekaan terhadap waktu dan adab mimbar. Semoga para pelaku mimbar mampu mengefisienkan waktu dengan indah—tanpa mengurangi kekhusyukan.

Ala kulli hāl, seluruh potret ini bermuara pada satu simpul: Distribusi Jadwal Tausiyah Ramadhan—Sebuah Catatan Evaluasi. Bukan semata siapa tercatat di kertas jadwal, melainkan kecermatan mengelola dakwah, menakar pesan, serta memuliakan mimbar, agar jamaah pulang membawa perubahan nyata.

Kepada para muballigh pejuang mimbar Ramadhan, hormat disampaikan—setiap langkah bernilai ibadah, setiap nasihat menjelma amal jariyah. Semoga Islam terus berkibar, hidup, dan menyala di dada umat.

Makassar, 10 Februari 2026
(SK)