Gambar Disappointing Parents: Saat Kita Sibuk Mencari Bahagia, tapi Menghancurkan Sumbernya

Ada kalimat yang tidak pernah diucapkan orang tua, tetapi terasa berat di udara. Ada luka yang tidak pernah mereka tunjukkan, tetapi diam-diam menggerogoti hati mereka. Dan ada air mata yang tidak pernah jatuh di depan kita, karena mereka tidak ingin kita merasa bersalah, meskipun sesungguhnya kitalah penyebabnya.

Kita sering merasa menjadi anak yang sudah cukup baik karena memberi, karena membantu, karena hadir sesekali. Tetapi kita lupa bahwa orang tua tidak hanya butuh kehadiran fisik, mereka butuh kelembutan hati. Mereka tidak sekadar ingin kita sukses, mereka ingin kita tetap menjadi anak yang santun, yang tahu cara menundukkan suara di hadapan mereka, yang tahu kapan harus diam, dan kapan harus mendengar.

Betapa sering kita memenangkan perdebatan,tetapi kehilangan keberkahan. Betapa sering kita merasa benar, tetapi menyakiti hati yang paling tulus mencintai kita.

Seorang ibu tidak pernah menghitung berapa kali ia terbangun di malam hari untuk kita. Ia tidak pernah mencatat berapa kali ia menahan lapar agar kita bisa makan. Ia tidak pernah mengeluh tentang rasa sakit yang ia tahan saat melahirkan kita. Tetapi hari ini, kita begitu mudah menghitung kesalahan kecilnya, begitu cepat tersinggung oleh ucapannya, begitu ringan membalas dengan nada yang melukai. Apakah kita benar-benar tidak tahu, atau kita sengaja melupakan?

Allah SWT. berfirman:
وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حُسْنًا
“Dan Kami wasiatkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya.” (QS. Al-‘Ankabut: 8)

Ini bukan sekadar anjuran. Ini adalah wasiat dari langit. Wasiat yang akan ditanya, bukan hanya tentang apakah kita memberi, tetapi bagaimana kita memperlakukan mereka, dengan nada suara, dengan sikap, dengan hati.

Ada anak yang memberi uang, tetapi melukai dengan ucapan. Ada anak yang hadir, tetapi dengan wajah yang dingin. Ada anak yang membantu, tetapi dengan hati yang terpaksa.

Dan semua itu, tetap terasa oleh orang tua. Mereka mungkin tidak membalas, tetapi hati mereka mencatat. Rasulullah SAW.bersabda:
لَا يَجْزِي وَلَدٌ وَالِدَهُ إِلَّا أَنْ يَجِدَهُ مَمْلُوكًا فَيَشْتَرِيَهُ فَيُعْتِقَهُ
“Seorang anak tidak akan mampu membalas jasa orang tuanya, kecuali jika ia mendapati orang tuanya sebagai budak lalu ia membebaskannya.” (HR. Muslim)

Artinya jelas, apa pun yang kita lakukan, tidak akan pernah sebanding. Maka jika kita masih berani menyakiti mereka, sesungguhnya kita sedang merendahkan sesuatu yang tidak pernah bisa kita balas.

Renungkan sejenak….Berapa kali kita menunda menjawab panggilan ibu?. Berapa kali kita menghela napas saat mereka berbicara panjang?.Berapa kali kita merasa terganggu oleh nasihat mereka?

Padahal, suatu hari nanti… kita akan merindukan panggilan itu. Kita akan berharap bisa mendengar nasihat itu sekali lagi. Kita akan menunggu suara itu,tetapi tidak akan pernah datang kembali. Allah SWT. berfirman:
رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا
“Wahai Tuhanku, sayangilah mereka sebagaimana mereka telah menyayangiku di waktu kecil.” (QS. Al-Isra: 24)

Doa ini bukan sekadar lafaz. Ia adalah pengakuan, bahwa kita tidak akan pernah mampu membalas cinta mereka. Umar bin Khattab RA. pernah mengguncang kesadaran kita dengan ungkapan yang begitu dalam: bahwa seorang anak merawat ibunya sambil menunggu ajalnya, sementara sang ibu merawat anaknya dengan harapan hidupnya penuh kebahagiaan. Di situlah perbedaan cinta, yang satu terbatas oleh waktu, yang satu lagi tak pernah mengenal batas.

Maka jika hari ini kita masih memiliki mereka, jangan tunggu esok untuk berubah. Jangan menunggu kehilangan untuk menjadi lembut. Jangan menunggu penyesalan untuk menjadi anak yang berbakti.

Turunkan ego kita, sebelum Allah yang merendahkannya. Lunakkan suara kita, sebelum waktu membungkam segalanya. Dekatkan hati kita, sebelum jarak itu menjadi abadi. Imam Al-Hasan Al-Bashri berkata:
بِرُّ الْوَالِدَيْنِ أَفْضَلُ مِنَ الصَّلَاةِ النَّافِلَة
“Berbakti kepada kedua orang tua lebih utama daripada shalat sunnah.”

Karena di situlah letak keikhlasan yang paling nyata, ketika kita memilih untuk lembut kepada mereka, meskipun kita sedang lelah. Ketika kita tetap sabar, meskipun kita merasa tidak dipahami. Ketika kita tetap hormat, meskipun kita merasa benar.

Akhirnya hidup ini akan membawa kita pada satu titik yang sama: kehilangan. Dan pada saat itu, kita tidak akan menyesali harta yang kurang, jabatan yang hilang, atau ambisi yang gagal. Kita akan menyesali satu hal, apakah kita sudah cukup membahagiakan mereka, atau justru menjadi luka yang mereka sembunyikan dalam diam.

Maka sebelum semuanya benar-benar terlambat…kembalilah. Minta maaflah. Peluklah mereka dengan hati yang tulus. Karena bisa jadi, yang paling kita butuhkan dalam hidup ini bukan kesuksesan besar, tetapi doa seorang ibu yang tidak pernah berhenti menyebut nama kita di hadapan Allah.

#Wallahu A’lam Bish-Shawab
Semoga Bermanfaat

Al-Faqir. Munawir Kamaluddin