Gambar Diplomasi Lidah: Mengeja Bahasa Surga

Kembali saya berdiri di mimbar Masjid Babussalam Pelabuhan Soekarno-Hatta siang ini. Wajah jamaah tampak teduh meski sedikit lelah di hari ke-26 Ramadan. Ini kali kedua saya menyampaikan tausiah di tempat ini selama bulan suci.

Angin dari Pelabuhan Soekarno-Hatta berhembus pelan melalui celah pintu, membawa aroma laut Makassar yang khas. Ramadan tinggal tiga atau empat hari lagi—waktu krusial bagi siapa saja yang sedang berburu keselamatan.

Dalam renungan itu saya kembali teringat pada satu tema pernah saya ulas sebelumnya: lidah. 

Siang ini saya mencoba membedahnya lebih fokus. Kendati materi ini saya sampaikan dengan sedikit jenaka dan humor, sesungguhnya ada pesan penting di dalamnya: salah satu kunci keselamatan berada pada sepotong daging tak bertulang itu.

Lidah adalah instrumen diplomasi paling sakti untuk mengetuk pintu surga. Apalagi jika ia akrab melafalkan bahasa Arab—bahasa Al-Qur’an kelak menjadi percakapan penghuni surga.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Cintailah orang Arab karena tiga hal: karena aku orang Arab, karena Al-Qur’an berbahasa Arab, dan bahasa penghuni surga adalah bahasa Arab.” (HR. Thabrani)

Khalifah Umar bin Khattab lebih menegaskan, “Pelajarilah bahasa Arab, karena ia bagian dari agamamu.” Dengan bahasa inilah Al-Qur’an dan hadis dipahami lebih jernih.

Bahasa Arab tidak sesulit dibayangkan. Jika dipelajari pelan-pelan, justru terasa sederhana—bahkan kadang mengundang senyum.

Misalnya begini:
Satu rumah: baitun.
Dua rumah: baitaini.
Kalau rumahnya banyak dan pusing menghitungnya… ya sudah, sebut saja BTN.

Contoh lain:
Satu jiwa: nafsun.
Dua jiwa: nafsāni atau nafsayn.
Banyak jiwa: anfus.
Kalau banyak koruptor mati… itu bukan anfus, melainkan mampus.

Begitu juga dengan kata ganti orang:
Satu laki-laki: anta.
Satu perempuan: anti.
Bencong Calabai: Anto’.

Namun di balik kelakar itu, kadang ada kisah lucu lahir dari setengah-setengah belajar bahasa Arab.

Seorang jamaah haji pernah mencoba mempraktikkan bahasa Arab saat dicukur rambutnya di sekitar pelataran Masjidil Haram, Mekkah. 

Ia hanya tahu satu kata: qalīl—artinya sedikit.

Ia berkata kepada tukang cukur,
“Qalīl ya, Syeikh!”
Maksudnya: potong sedikit saja ya.

Masalahnya, tukang cukur itu tidak benar-benar memahami maksud kalimat tersebut. Ia hanya menangkap satu kata: qalīl—sedikit. Ia pun mengangguk mantap.

Hasilnya, rambut si jamaah hampir habis. Tersisa benar-benar… qalīl (mirip cukurnya temannya Unyil).

Di situlah ia sadar: belajar bahasa Arab memang penting. Tetapi memastikan tukang cukur juga paham… kadang lebih penting.

Namun sedikit-sedikit bahasa Arab kadang punya “kesaktian” tersendiri.

Seorang jamaah pernah tersesat di sekitar Masjidil Haram. Ia mendekati seorang Arab lalu melafalkan ayat:
“Ihdinas shirathal mustaqim…”
Bimbinglah kami ke jalan yang lurus.

Orang Arab itu mengira ia diminta menunjukkan jalan lurus. Ia pun menunjuk arah jalan. Jamaah tersebut akhirnya sampai tujuan.

Ada pula kisah komplain rice cooker rusak. Biasanya orang langsung marah kepada penjual. Namun ada cara lebih santun.

Ia membawa kembali rice cooker itu ke toko, meletakkannya di meja, lalu berkata dengan nada duka:
“Rice cooker ini innalillahi wa inna ilaihi raji‘un.”

Penjual langsung panik. Ia mengira ada musibah besar. Setelah diperiksa, ternyata “meninggal dunia” hanyalah elemen pemanas nasi.

Suasana marah berubah menjadi tawa. Barang diganti baru tanpa debat panjang.

Bahkan lebih dekat lagi, di negeri ini pun saya pernah mendengar kisah lucu di SPBU. Seorang wisatawan Arab yang menyewa mobil datang untuk mengisi bensin, lalu bertanya kepada petugas dengan bahasa Arab. Kebetulan saat itu bensin sedang habis.

Petugas menjawab singkat,
“Habis, Tuan.”

Di telinga orang Arab itu, ucapan tersebut terdengar seperti lafaz Arab:
“Abisun Tuanun.”

Ia mengangguk serius, seolah baru menemukan istilah nahwu edisi Nusantara.

Tak lama kemudian orang Arab itu kembali meminta bensin. Namun petugas SPBU tetap menjawab,
“Habis, Tuan.”

Orang Arab itu pun semakin bingung.

Untungnya petugas SPBU tiba-tiba teringat kebiasaannya setelah selesai mengaji. Dengan nada khidmat ia menutup percakapan itu dengan ucapan:
“Shadaqallahul ‘azhim.”
Seakan-akan baru selesai membaca satu halaman mushaf.

Namun tujuan belajar bahasa Arab tentu bukan sekadar humor. Bahasa ini adalah jalan memahami kandungan Al-Qur’an dan hadis secara lebih utuh.

Di sisa Ramadan ini, mari memberi ruang bagi lidah untuk lebih akrab dengan bahasa wahyu—untuk zikir, doa, dan menjaga kehormatan sesama.

Semoga lidah kita tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga semakin fasih melafalkan kalimat-kalimat tayyibah.

Siapa tahu, dari kebiasaan kecil itu, lidah kita sedang belajar mengetuk pintu surga—dengan bahasa kelak menjadi bahasa para penghuninya.

Senin, 26 Ramadan 1447 H / 16 Maret 2026
SK