Malam itu, di bawah kubah Masjid IMMIM, saya berdiri memikul amanah tidak ringan. Bersanding dengan seorang jenderal, Mayjen TNI (Purn.) A. Muh. Bau Sawa Mappanyukki, saya justru memilih judul yang mungkin membuat jamaah terdiam: “Di Masjid Ada Dosa.”
Masjid selama ini dipandang semata ladang pahala. Padahal, di tempat sujud itu pula dosa kerap bersembunyi—halus, samar, dianggap remeh.
Tausiyah tarawih malam ke-9 saya awali dengan menggugat rasa aman semu.
Banyak orang merasa, begitu melewati ambang pintu masjid, seluruh noda tertinggal di luar. Seakan-akan ruang sakral otomatis menyucikan diri. Padahal justru di sana pelanggaran kecil sering dimaafkan oleh hati sendiri.
Masjid tidak selalu menjadi tempat mendulang amal. Ia bisa berubah menjadi ladang dosa ketika hak Allah dan hak sesama diabaikan.
Keresahan saya memuncak melihat lunturnya wibawa rumah ibadah akibat residu kepentingan dunia.
Masjid dijadikan ruang diskusi bising, tempat berselisih, bahkan arena praktik terlarang seperti jual beli dan pengumuman barang hilang.
Lebih memilukan lagi, ada yang “menyerbu” mimbar dengan dalih tabligh, namun berujung meminta-minta. Ceramah dibungkus misi kemanusiaan, tetapi menjelma etalase proposal. Mimbar bukan pasar empati. Rumah Tuhan bukan panggung komoditas.
Kita ingin dekat dengan Allah, tetapi tega melukai hamba-Nya.
Ego spiritual pun tumbuh di barisan shalat. Ambisi mengejar shaf terdepan membuat seseorang melangkahi pundak saudaranya, bahkan berjalan 'Majjulekka' di depan orang sujud. Kebaikan berubah cacat ketika adab diinjak.
Dosa juga lahir dari niat baik yang salah tempat. Mengeraskan bacaan Al-Qur’an di samping orang shalat mungkin terasa ibadah, tetapi bisa merampas kekhusyukan.
Mengobrol saat khotbah sementara berlangsung, membiarkan ponsel berdering ketika jamaah tenggelam dalam kekhusyukan—semua itu bukan sekadar lalai, melainkan gangguan terhadap hak orang lain menyimak pesan langit.
Lebih dalam lagi, dosa muncul dari sikap meremehkan kehadiran Sang Khalik. Datang dalam keadaan tidak bersih, membawa bau 'Kalimpau' menyengat.
Jika menghadap pejabat saja kita sanggup tampil rapi dan harum semerbak mewangi, mengapa menghadap Raja segala raja justru tanpa adab?
Ini bukan soal estetika. Ini soal hormat. Dan pelanggaran adab adalah benih keangkuhan.
Ramadhan seharusnya melembutkan jiwa. Jika di dalam masjid saja kita masih melanggar hak-hak-Nya, jangan-jangan ibadah hanya menggugurkan kewajiban, bukan menumbuhkan kesadaran.
Saya pun mengingatkan diri sendiri sebelum mengingatkan orang lain.
Jangan sampai rumah sujud ini berdiri di hari kiamat bukan sebagai saksi pahala, tetapi saksi gugatan.
Menuntut kita atas adab yang diremehkan.
Atas dosa-dosa kecil yang dianggap sepi.
Jumat, 9 Ramadan 1447 H / 27 Februari 2026SK
Alat AksesVisi