Belakangan ini muncul fenomena yang cukup menarik sekaligus memprihatinkan di kalangan remaja awal, khususnya anak-anak usia SMP. Mereka saling memanggil pasangannya dengan sebutan Capi (Cayang Papi) dan Cami (Cayang Mami). Istilah yang sejatinya lahir dari relasi suami-istri atau keluarga itu kini berpindah ke dunia anak-anak yang bahkan belum memasuki fase kedewasaan psikologis.
Fenomena ini tidak berhenti pada perubahan bahasa. Dalam keseharian, tidak sedikit dijumpai remaja SMP yang lebih patuh kepada kekasihnya dibandingkan kepada orang tuanya. Mereka rela mengubah jadwal, mengorbankan waktu belajar, bahkan melawan nasihat keluarga demi mempertahankan hubungan yang masih sangat prematur. Di jalan raya pun, pemandangan seorang siswi yang memeluk erat teman laki-lakinya saat berboncengan bukan lagi sesuatu yang langka. Mereka bukan mahasiswa, bahkan bukan pula siswa SMA, melainkan masih berada pada usia SMP.
Fenomena tersebut sesungguhnya menggambarkan apa yang dapat disebut sebagai kedewasaan simbolik sebelum kematangan psikologis. Mereka ingin tampak dewasa melalui bahasa, gaya berpakaian, dan pola relasi, padahal struktur kepribadian mereka masih berada pada tahap pencarian jati diri.
Psikolog perkembangan menjelaskan bahwa masa remaja merupakan fase identity versus role confusion, yaitu masa ketika seseorang sedang mencari identitas dirinya. Pada fase ini, remaja sangat mudah dipengaruhi oleh teman sebaya, media sosial, serta budaya populer. Keinginan untuk diterima sering kali lebih kuat daripada kemampuan menilai apakah suatu perilaku benar atau salah. Karena itu, apa yang tampak sebagai "kedewasaan" sering kali hanyalah proses meniru simbol-simbol orang dewasa.
Sementara itu, para psikolog menjelaskan bahwa kemampuan berpikir abstrak memang mulai berkembang pada usia remaja. Namun, perkembangan kognitif tidak selalu berjalan seiring dengan kematangan emosional. Seorang remaja mungkin mampu memahami konsep cinta, tetapi belum tentu mampu memikul tanggung jawab moral yang menyertai cinta tersebut. Inilah sebabnya mengapa kematangan tidak dapat diukur dari cara berbicara, melainkan dari kemampuan mengendalikan diri.
Dalam perspektif filsafat etika Islam, kedewasaan bukan pertama-tama diukur oleh usia atau romantisme, melainkan oleh akhlak dan amanah. Islam mengenal konsep baligh sebagai tanda biologis dan rusyd sebagai kematangan berpikir serta kemampuan bertanggung jawab. Seseorang dapat saja telah baligh, tetapi belum mencapai rusyd. Karena itu, Islam tidak pernah memaknai kedewasaan hanya sebagai kemampuan merasakan cinta, melainkan kemampuan mengelola hawa nafsu, menjaga kehormatan diri, menghormati orang tua, dan menempatkan setiap hubungan pada batas-batas yang benar.
Yang patut menjadi perhatian bukanlah istilah "Capi" atau "Cami" itu sendiri, melainkan perubahan orientasi nilai yang menyertainya. Ketika nasihat orang tua kalah oleh pesan singkat dari pacar, ketika prestasi belajar dikorbankan demi validasi hubungan, dan ketika simbol kasih sayang lebih penting daripada penghormatan kepada keluarga, saat itulah terjadi pergeseran prioritas moral yang perlu mendapat perhatian bersama.
Anak-anak tidak sedang menjadi generasi yang buruk. Mereka sedang tumbuh di tengah arus digital yang mempercepat imitasi terhadap dunia orang dewasa. Oleh karena itu, yang mereka butuhkan bukan cemoohan, melainkan pendampingan, bukan sekadar larangan, melainkan keteladanan, bukan kemarahan, melainkan komunikasi yang hangat dan penuh hikmah. Sekolah, keluarga, tokoh agama, dan masyarakat harus hadir sebagai ekosistem yang membantu remaja memahami bahwa menjadi dewasa bukan berarti meniru gaya hidup orang dewasa, tetapi bertumbuh menjadi pribadi yang bertanggung jawab.
Sesungguhnya, kematangan adalah perjalanan, bukan penampilan. Bahasa dapat dipelajari dalam sehari, tetapi kebijaksanaan memerlukan waktu, pengalaman, dan pendidikan karakter. Maka, jangan terburu-buru menjadi dewasa sebelum hati dan akal benar-benar matang. Sebab, masa muda yang dijalani dengan benar akan melahirkan masa dewasa yang penuh kehormatan.
Sungguminasa, 28 Juni 2026