Gambar Dekat di atas Sajadah, Jauh dalam Ukhuwah

Di saat umat Islam di seluruh dunia berdiri dalam saf yang sama, menghadap kiblat yang satu, kita justru menyaksikan konflik antara Pakistan dan Afghanistan, dua negara dengan mayoritas penduduk Muslim. Ketegangan perbatasan, konflik bersenjata, dan ketidakpercayaan politik menjadi potret getir. Bagaimana mungkin saudara seiman saling berhadapan dengan kecurigaan dan kekuatan militer?

Shalat sebenarnya mengajarkan kita merapatkan barisan. Tidak ada celah di antara saf. Bahu bertemu bahu, kaki sejajar kaki, sujud bersama. Simbol ini sangat kuat, merefleksikan kesetaraan, persatuan, dan solidaritas. Namun dalam realitas geopolitik, ukhuwah sering kalah oleh kepentingan nasional, politik, dan sejarah panjang konflik. Identitas keagamaan ternyata tidak otomatis menjamin harmoni sosial dan politik.

Ironi semakin terasa ketika dalam beberapa hal, negara-negara Muslim justru mampu menjalin hubungan lebih stabil dengan negara-negara Eropa yang notabene bukan mayoritas Muslim. Diplomasi, perdagangan, pendidikan, dan kerja sama strategis berjalan relatif konstruktif. Sementara dengan sesama Muslim, relasi bisa penuh ketegangan. Ini bukan untuk menyederhanakan persoalan kompleks, tetapi untuk merenungkan satu hal, ada jarak antara simbol persaudaraan dan praktik persaudaraan.

Fenomena ini tidak hanya terjadi di tingkat global. Di negeri kita sendiri, perbedaan furu’iyah seperti soal qunut, tahlil, maulid, cara berzikir dan sejenisnya sering berubah menjadi ajang saling menyalahkan. Kata “bid’ah” mudah dilontarkan. Bahkan lebih tragis, label “kafir” kadang disematkan kepada sesama Muslim hanya karena perbedaan ijtihad. Seolah-olah surga dan neraka telah dikantongi kuncinya.

Al-Qur'an menegaskan bahwa orang-orang beriman itu  bersaudara. Persaudaraan itu bukan karena keseragaman detail praktik, tetapi karena kesamaan iman. Perbedaan metode ibadah adalah bagian dari khazanah ijtihad ulama. Mengubahnya menjadi alasan perpecahan adalah penyempitan makna agama.

Ironi makin terasa ketika kita melihat sosok seperti Koh Dondy Tan, seorang mualaf sekaligus apologetic Islam yang cerdas (silahkan lihat kanal YouTube Koh Dondy Tan) berjuang memperkenalkan Islam kepada non-Muslim dengan pendekatan damai dan dialogis. Di saat ia berusaha memasukkan orang kepada Islam dengan hikmah, ada sebagian Muslim yang justru sibuk mengeluarkan saudaranya dari Islam melalui stigma dan vonis kafir.  Yang satu mengajak, yang lain menyingkirkan. Yang satu merangkul, yang lain memukul dengan label dan stigma kafir.

Konflik sering lahir bukan dari perbedaan itu sendiri, tetapi dari cara memaknai perbedaan. Ketika identitas dijadikan alat superioritas, maka ukhuwah menjadi rapuh. Ketika agama direduksi menjadi simbol kelompok, maka persaudaraan berubah menjadi kompetisi.

Ramadhan ini sejatinya mengingatkan kita bahwa puasa bukan hanya latihan menahan lapar, tetapi juga menahan ego kolektif. Ego kebangsaan, ego mazhab, ego kelompok. Jika dalam shalat kita diajarkan meluruskan dan merapatkan saf, maka dalam kehidupan sosial kita pun seharusnya meluruskan niat dan merapatkan hati.

Umat ini tidak kekurangan masjid, tetapi sering kekurangan kelapangan. Tidak kekurangan dai, tetapi kadang kekurangan empati. Padahal dunia sedang menyaksikan kita. Jika sesama Muslim sulit rukun, bagaimana mungkin pesan rahmatan lil ‘alamin bisa meyakinkan yang lain? 

Mungkin hari ini kita perlu bertanya, apakah kita lebih bangga menjadi bagian dari kelompok, atau menjadi bagian dari umat? Apakah kita lebih sibuk mencari kesalahan saudara, atau memperbaiki diri sendiri?

Karena pada akhirnya, saf yang rapat di masjid akan kehilangan makna jika hati tetap renggang di luar. Persaudaraan sejati bukan diukur dari seberapa sering kita bertemu di sajadah, tetapi seberapa kuat kita menjaga satu sama lain dari perpecahan.

Sungguminasa, 10 Ramadhan 1447 H
Barsihannor