Gambar Daya Tahan Iran versus Kemelesetan Perhitungan AS–Israel

Catatan reflektif ke-3

Iran hari ini sering dipahami hanya sebagai sebuah negara di Timur Tengah yang sedang berhadapan dengan tekanan geopolitik besar. Namun jika kita melihatnya dari perspektif sejarah yang lebih panjang, Iran sebenarnya adalah pewaris langsung dari salah satu peradaban besar dunia: Persia.

Peradaban Persia merupakan salah satu peradaban tua yang sangat berpengaruh dalam sejarah manusia. Sejak era Kekuasaan Achaemenid pada abad ke-6 sebelum Masehi, Persia telah dikenal sebagai kekuatan besar yang wilayahnya membentang dari Asia Tengah hingga kawasan Mediterania. Ia bukan hanya kekuatan militer, tetapi juga peradaban yang melahirkan tradisi administrasi negara, seni, sastra, dan pemikiran yang memberi pengaruh luas bagi perkembangan dunia.

Warisan sejarah panjang ini tidak pernah benar-benar hilang. Ia membentuk sesuatu yang sering disebut para sejarawan sebagai memori peradaban kesadaran kolektif bahwa sebuah bangsa pernah berdiri sebagai kekuatan besar dalam perjalanan sejarah.

Memori semacam ini sering melahirkan satu kualitas penting dalam kehidupan sebuah bangsa: daya tahan.

Karena itu ketika kita berbicara tentang Iran hari ini, kita sebenarnya tidak hanya berbicara tentang sebuah negara modern, tetapi tentang sebuah bangsa yang membawa warisan panjang ketangguhan peradaban Persia.

Di sisi lain, kekuatan yang kini berhadapan dengannya dalam konflik geopolitik AS Israel mewakili jenis peradaban yang berbeda. Keduanya merupakan representasi dari peradaban modern yang tumbuh dari dinamika politik, teknologi, dan ekonomi dunia modern.

Amerika Serikat sebagai sebuah negara relatif sangat muda dalam ukuran sejarah peradaban. Negara ini lahir pada tahun 1776, ketika tiga belas koloni di Amerika Utara memproklamasikan kemerdekaan dari Inggris melalui _Declaration of Independence_. Artinya usia negara ini baru sekitar dua setengah abad.

Dalam waktu yang relatif singkat itu Amerika Serikat menjadi kekuatan global yang maju. Baik teknologi, inovasi, kekuatan ekonomi maupun militer.

Namun secara historis, akar peradaban Amerika tidak memiliki kontinuitas sejarah sepanjang peradaban-peradaban tua di Timur Tengah atau Asia. Ia adalah kekuatan yang tumbuh dari proyek modernitas Barat.

Hal yang lebih jelas lagi terlihat pada Israel. Negara ini bahkan jauh lebih muda secara historis. Israel berdiri sebagai negara pada tahun 1948, setelah berakhirnya mandat Inggris di wilayah Palestina.

Dalam ukuran sejarah peradaban, usia negara ini bahkan belum mencapai satu abad. Sejak berdirinya, Israel terus berada dalam situasi konflik dengan bangsa Palestina, terutama terkait persoalan wilayah, identitas, dan kedaulatan.

Hingga hari ini, persoalan mengenai batas geografis final negara Israel masih menjadi salah satu isu paling sensitif dalam politik Timur Tengah. Konflik berkepanjangan dengan Palestina pada dasarnya juga berkaitan dengan proses panjang konsolidasi identitas dan ruang kenegaraan Israel itu sendiri.

Di sinilah perbandingan dua kekuatan ini menjadi menarik.

Di satu sisi kita melihat ketangguhan sebuah peradaban tua yang telah melewati berbagai fase sejarah selama ribuan tahun. Di sisi lain kita melihat keunggulan peradaban modern yang bertumpu pada teknologi, kekuatan ekonomi, dan sistem militer yang sangat maju.

Pertanyaannya kemudian menjadi penting:

apakah keunggulan teknologi modern selalu cukup untuk mengalahkan ketahanan sebuah peradaban yang telah teruji oleh waktu?

Semalam saya mengajukan pertanyaan yang hampir sama kepada seorang diplomat senior Indonesia yang pernah lama bertugas di Iran. 

Saya bertanya kepadanya secara langsung:

siapa yang menurut anda akan memenangkan perang jika Iran berhadapan dengan Barat ?

Jawabannya datang sangat cepat. “Iran.”

Diplomat yang saya maksud adalah H.E. Basri Hasanuddin, mantan Duta Besar Indonesia yang pernah bertugas di Iran. Saat ini saya bersamanya mengurus yayasan Islamic Centre Masjid Al Markaz Al Islami Jenderal M. Jusuf Makassar.

Ketika saya meminta penjelasan, ia menyampaikan dua alasan yang menurutnya sangat mendasar.

Pertama, selama beberapa tahun bertugas di Iran, ia melihat secara langsung ketahanan sosial dan politik masyarakat Iran. Negara itu telah lama hidup di bawah tekanan geopolitik yang berat, termasuk embargo ekonomi dan berbagai konflik regional.

Namun tekanan tersebut tidak membuat negara itu runtuh. Sebaliknya, Iran justru memperlihatkan kemampuan yang luar biasa untuk bertahan dan beradaptasi.

Menurutnya ada sesuatu dalam masyarakat Iran yang sulit dijelaskan hanya dengan ukuran ekonomi atau statistik militer. Ada ketahanan mental dan peradaban yang membuat bangsa itu tidak mudah menyerah dalam menghadapi tekanan.

Alasan kedua bahkan lebih menarik.

Selama bertugas sebagai diplomat, ia memiliki hubungan pertemanan yang cukup baik dengan Mahmoud Ahmadinejad, yang pada waktu itu menjabat sebagai Presiden Iran. Dari hubungan tersebut ia memperoleh banyak informasi langsung mengenai bagaimana Iran memandang kekuatan dan potensinya sendiri.

Dari berbagai percakapan itu ia sampai pada kesimpulan yang sangat sederhana tetapi tegas.

“Iran hebat. Dan jika konflik besar terjadi, mereka tidak akan mudah dikalahkan.”

Pernyataan seorang diplomat tentu bukan ramalan tentang masa depan. Namun pengamatan langsung seperti itu sering memberikan perspektif yang lebih kaya daripada sekadar membaca statistik militer atau laporan media.

Dalam konteks konflik yang berkembang hari ini, pengamatan tersebut terasa semakin menarik.

Pada tahap awal konflik, para pemimpin Amerika Serikat dan Israel menyampaikan keyakinan besar bahwa operasi militer mereka akan menghasilkan keunggulan strategis yang menentukan. Narasi yang muncul menekankan kecanggihan teknologi militer, sistem persenjataan modern, serta kemampuan intelijen yang sangat maju.

Namun perkembangan yang terjadi menunjukkan bahwa konflik tidak bergerak sesederhana itu.

Serangan dan balasan terus berlangsung. Ketegangan kawasan tidak mereda. Iran tetap memperlihatkan kemampuan untuk bertahan dan merespons tekanan yang datang dari luar.

Situasi seperti ini mengingatkan saya pada satu refleksi penting dari filsuf ilmu pengetahuan Karl Popper.

Popper pernah mengatakan:

“_Our knowledge can only be finite, while our ignorance must necessarily be infinite_. Pengetahuan kita selalu terbatas, sementara ketidaktahuan kita pada dasarnya tidak terbatas.

Ungkapan ini mengandung pelajaran penting ketika kita mencoba memahami konflik geopolitik.

Sering kali manusia membuat prediksi besar tentang masa depan berdasarkan pengetahuan yang sebenarnya sangat terbatas. Kita mengumpulkan data, menghitung kekuatan militer, membandingkan teknologi, lalu menyimpulkan bahwa suatu pihak hampir pasti akan menang.

Dalam perang, keterbatasan ini menjadi semakin jelas. Para analis militer mungkin dapat menghitung jumlah pesawat tempur, rudal balistik, atau anggaran pertahanan suatu negara. Tetapi ada faktor lain yang jauh lebih sulit diukur.

Ada faktor ketahanan sosial, memori sejarah, motivasi ideologis, dan kebanggaan peradaban.

Faktor-faktor inilah yang sering menentukan kemampuan sebuah bangsa untuk bertahan dalam konflik panjang.

Sejarah modern memberikan banyak contoh tentang bagaimana kekuatan militer besar dapat salah membaca daya tahan lawannya.

Perang Korea pada awal 1950-an adalah salah satunya. Pada tahap awal konflik banyak pihak di Washington memperkirakan bahwa kekuatan militer Amerika Serikat akan dengan cepat mengakhiri perang. Namun masuknya China ke dalam konflik mengubah seluruh dinamika peperangan dan menghasilkan perang panjang yang berakhir tanpa kemenangan yang jelas.

Hal yang sama terjadi dalam perang di Afghanistan. Operasi militer pada tahun 2001 berhasil menjatuhkan pemerintahan Taliban dengan sangat cepat. Namun perang tidak berakhir di situ. Konflik justru berlangsung selama dua puluh tahun sebelum akhirnya Amerika Serikat menarik pasukannya dan Taliban kembali mengambil alih kekuasaan.

Dua pengalaman sejarah ini memberikan satu pelajaran penting: keunggulan teknologi dan kekuatan militer modern tidak selalu cukup untuk menentukan hasil akhir perang.

Ada faktor lain yang sering lebih menentukan, yaitu daya tahan sebuah bangsa dalam menghadapi konflik jangka panjang.

Dalam konteks Iran, faktor ini menjadi sangat menarik karena ia terkait dengan warisan panjang peradaban Persia.

Sebuah bangsa yang memiliki memori peradaban kuat sering memiliki kemampuan untuk bertahan lebih lama dalam menghadapi tekanan dari luar.

Bukan berarti teknologi modern tidak penting. Namun sejarah berulang kali menunjukkan bahwa ketangguhan peradaban sering kali menjadi faktor yang tidak kalah penting dibandingkan kekuatan militer.

Karena itu ketika kita melihat konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel hari ini, mungkin kita sedang menyaksikan sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar persaingan teknologi militer.

Kita sedang melihat pertemuan dua jenis kekuatan sejarah: ketangguhan sebuah peradaban tua yang telah teruji oleh waktu dan keunggulan peradaban modern yang bertumpu pada teknologi serta kekuatan global.

Siapa yang akan unggul pada akhirnya tentu masih menjadi pertanyaan terbuka.

Namun satu hal yang jelas: dalam sejarah perang, kemenangan jarang sekali ditentukan hanya oleh siapa yang memiliki teknologi paling canggih.

Sering kali ia justru ditentukan oleh siapa yang memiliki daya tahan paling panjang untuk terus bertahan.

Makassar, Maret 2026