Menjelang magrib di bulan Ramadan, jalanan kita berubah menjadi panggung kolosal. Di kiri-kanan trotoar, lapak-lapak takjil tumbuh lebih cepat daripada wacana diskon menjelang lebaran. Kolak pisang berjejer seperti pasukan elit, es buah berkilau laksana permata tropis, dan gorengan tersenyum penuh percaya diri, seolah berkata, “Kami digoreng dengan niat suci.”
Fenomena ini layak masuk ensiklopedia sosial: “Migrasi Musiman Pedagang Takjil.” Mereka hadir bak bunga-bunga yang mekar serentak. Bahkan beberapa di antaranya yang sebelas bulan sebelumnya tak terlihat, tiba-tiba menjelma maestro sirup dan sultan santan. Tentu kita tak boleh lupa, ekonomi rakyat memang sering kali lebih jujur daripada pidato panjang. Ramadan menjadi musim panen harapan dan siapa yang tak ingin ikut memanen?
Namun, di antara semerbak gula aren dan suara plastik kresek yang berdesir lirih, ada satu fenomena lain yang tak kalah semarak: pengemis dadakan. Mereka muncul seperti notifikasi yang tak bisa di-skip. Ada yang membawa bayi (yang entah mengapa selalu tertidur pulas), ada yang mengenakan perban yang tampak terlalu bersih untuk ukuran luka, bahkan ada yang lengkap dengan proposal fotokopian yang lebih rapi dari skripsi mahasiswa semester akhir.
Kita tentu tak sedang menertawakan kemiskinan karena itu bukan bahan komedi. Yang kita saksikan adalah kreativitas sosial yang kadang melampaui batas empati. Ada yang menjadikan belas kasihan sebagai strategi pemasaran paling efektif. Ramadan, bulan yang mestinya mengajarkan keikhlasan, kadang disulap menjadi panggung audit air mata.
Di satu sisi, pedagang takjil bekerja keras: bangun sebelum subuh, menakar gula dan doa dalam panci yang sama, lalu menunggu rezeki dengan sabar. Di sisi lain, sebagian pengemis dadakan menunggu magrib dengan narasi yang sudah dihafal seperti teks drama. Satu menggoreng pisang, satu lagi menggoreng simpati.
Coretan ini bukan untuk menghakimi. Sebab realitas sosial kita memang rumit. Ketika harga kebutuhan naik lebih cepat dari kesabaran, dan lapangan kerja lebih sempit dari jalanan saat ngabuburit, orang-orang mencari celah untuk bertahan. Ada yang memilih wajan, ada yang memilih wadah plastik recehan.
Ramadan mengajarkan empati, tetapi empati yang cerdas. Memberi bukan hanya soal memasukkan uang ke tangan yang terulur, melainkan memastikan bahwa kebaikan tak berubah menjadi industri musiman. Kita diajak membedakan antara yang benar-benar membutuhkan dan yang sekadar memanfaatkan momentum.
Membedakan Pengemis Settingan dan yang Benar-Benar Kekurangan
Di negeri yang warganya bisa membedakan rasa mi instan hanya dari aromanya, muncul satu pertanyaan besar: bagaimana cara membedakan pengemis settingan dan yang memang benar-benar kekurangan?
Tulisan ini tidak didanai lembaga riset mana pun, apalagi oleh Kementerian Perasaan Tersinggung. Ini murni hasil observasi netizen + teori cocoklogi tingkat dewa.
Mari kita mulai.1. Teori “Jam Kerja Kantoran”Pengemis settingan konon memiliki jam kerja yang lebih disiplin daripada pegawai startup.Datang jam 8 pagi. Istirahat jam 12 (mungkin makan siang di food court terdekat). Pulang jam 5 sore.Kalau yang benar-benar kekurangan? Jamnya fleksibel. Karena hidupnya memang tidak mengenal sistem shift. Tapi hati-hati. Ini bukan berarti yang pulang sore pasti punya absensi sidik jari.
2. Analisis Properti dan WardrobePengemis settingan, menurut legenda urban, punya “kostum kerja.”Baju yang sama, posisi sobek yang konsisten, dan ekspresi yang sudah disetel seperti filter Instagram.Yang benar-benar kekurangan?Kadang justru pakaiannya tidak terlalu dramatis. Karena kemiskinan tidak selalu tahu cara tampil teatrikal.Namun lagi-lagi, hidup bukan sinetron produksi SinemArt. Tidak semua yang lusuh adalah aktor, dan tidak semua yang rapi adalah CEO menyamar.
3. Ilmu Paling Sulit: Mengelola PrasangkaKarena sejujurnya, membedakan keduanya tidak semudah membaca review bintang satu di marketplace. Manusia bukan produk dengan label “asli” atau “KW.”Fenomena pengemis settingan memang ada. Tapi kemiskinan yang nyata juga jauh lebih besar daripada kecurigaan kita. Dan sering kali, yang paling cepat menghakimi justru adalah kita yang paling nyaman hidupnya.
Penutup (Agak Serius Sedikit)
Daripada sibuk jadi detektif sosial tanpa lencana, mungkin solusi paling waras adalah:Jika ingin membantu, bantu secukupnya dengan ikhlas. Jika ragu, salurkan lewat lembaga sosial terpercaya. Jika tidak ingin memberi, tidak apa-apa. Tidak perlu menghina. Karena pada akhirnya, empati yang salah sasaran masih lebih manusiawi daripada sinisme yang tepat sasaran. Dan kalaupun ada yang “settingan,” semoga hidup tidak memaksa lebih banyak orang untuk ikut audisi kemiskinan.
(*)
Alat AksesVisi