Gambar Cara Pikir (7): Confirmation Bias

Ada seorang lelaki yang sangat yakin bahwa tetangganya tidak menyukainya. Suatu pagi, ia berpapasan dengan tetangganya. Tetangganya tidak menyapa. Ia pulang dan berkata kepada istrinya:

“Benar kan, dia memang tidak suka kepada saya.”

Siang harinya, tetangganya menyapa dari kejauhan. Ia tidak terlalu memikirkannya. Sore hari, tetangganya kembali tidak menyapa. Ia semakin yakin.

Yang menarik, ia tidak pernah mengingat ketika tetangganya menyapa. Ia hanya mengingat ketika tetangganya tidak menyapa. Bukan karena kenyataannya hanya seperti itu. Tetapi karena pikirannya sudah lebih dahulu memilih apa yang ingin diperhatikan.

Dalam psikologi kognitif, kecenderungan ini dikenal sebagai confirmation bias: kecenderungan manusia mencari, memperhatikan, dan mengingat informasi yang mendukung keyakinan yang sudah dimilikinya, sementara informasi yang bertentangan cenderung diabaikan.

Dengan kata lain, kita kadang tidak mencari kebenaran. Kita mencari pembenaran. Ini terlihat sederhana, tetapi dampaknya sangat besar.

Seseorang sudah yakin bahwa seorang mahasiswa malas. Ketika mahasiswa terlambat masuk kelas, ia berkata: “Nah, benar kan. Memang malas.” Ketika mahasiswa datang lebih awal, membantu temannya, dan aktif berdiskusi, itu dianggap kebetulan. Satu kesalahan menjadi bukti karakter. Sepuluh kebaikan dianggap tidak relevan.

Begitu pula sebaliknya.

Ketika kita sudah menyukai seseorang, kesalahannya sering kita sebut kekhilafan. Ketika kita tidak menyukai seseorang, kesalahan yang sama kita sebut karakter. Orangnya sama. Kesalahannya sama. Tafsir kita yang berbeda.

Di sinilah pikiran manusia menjadi menarik sekaligus berbahaya. Kita sering merasa sedang menilai kenyataan, padahal sebenarnya sedang menilai kenyataan melalui kacamata keyakinan kita sendiri.

Dalam dunia akademik, confirmation bias bahkan bisa menjadi persoalan serius. Seorang peneliti memiliki hipotesis. Ia kemudian mengumpulkan data.

Masalah muncul ketika data tidak sepenuhnya mendukung hipotesis tersebut. Peneliti mulai mencari alasan.

Data yang mendukung diperbesar. Data yang tidak mendukung dijelaskan sebagai “anomali”. Akhirnya bukan hipotesis yang diuji oleh data. Tetapi data yang dipaksa menyesuaikan hipotesis.

Kalau sudah begitu, penelitian berubah menjadi semacam pengadilan. Hipotesis duduk sebagai terdakwa, tetapi penelitinya sekaligus menjadi hakim, jaksa, pengacara, dan kadang-kadang panitera.

Hasil akhirnya tentu mudah ditebak: hipotesis dinyatakan tidak bersalah. Padahal ilmu pengetahuan justru berkembang ketika kita bersedia menemukan bahwa keyakinan kita mungkin keliru. Sebab penelitian bukanlah kegiatan untuk membuktikan bahwa kita selalu benar. Penelitian adalah proses untuk mengetahui seberapa kuat alasan kita untuk percaya bahwa sesuatu benar.

Dalam kehidupan sosial, confirmation bias juga menjelaskan mengapa dua orang bisa melihat peristiwa yang sama tetapi pulang membawa kesimpulan yang berbeda.

Dua orang menonton rapat yang sama. Orang pertama melihat pemimpin yang tegas. Orang kedua melihat pemimpin yang arogan. Yang satu melihat kritik. Yang lain melihat serangan. Yang satu melihat keberanian. Yang lain melihat kesombongan.

Peristiwanya sama. Cerita di dalam kepala mereka yang berbeda. Karena itu, salah satu latihan intelektual paling penting adalah kemampuan untuk bertanya: “Apa bukti yang mungkin menunjukkan bahwa saya keliru?” Pertanyaan ini terdengar sederhana, tetapi sangat sulit dilakukan. Kita lebih senang bertanya: “Apa yang membuktikan saya benar?” Sebab pertanyaan kedua membuat ego nyaman. Pertanyaan pertama membuat ego berkeringat.

Padahal kedewasaan berpikir justru dimulai ketika kita berani mencari informasi yang tidak menyenangkan bagi keyakinan kita. Jika kita percaya bahwa seseorang buruk, carilah juga kebaikannya. Jika kita percaya bahwa sebuah program gagal, lihat juga bagian yang berhasil. Jika kita yakin pendapat kita benar, dengarkan argumen orang yang berbeda. Bukan untuk langsung mengubah pendirian. Tetapi untuk memastikan bahwa pendirian kita memang berdiri di atas alasan, bukan sekadar kebiasaan berpikir.

Sebab orang yang hanya mencari informasi yang sesuai dengan pikirannya akan hidup dalam dunia yang semakin sempit. Ia membaca berita yang ia sukai. Mengikuti orang yang sepemikiran. Bergabung dalam kelompok yang selalu membenarkannya.

Akhirnya ia merasa seluruh dunia setuju dengannya. Padahal yang terjadi sebenarnya sederhana: ia hanya mengatur agar yang berbeda tidak masuk ke dalam dunianya.

Di era media sosial, persoalan ini menjadi semakin rumit. Algoritma membantu kita melihat lebih banyak hal yang kita sukai. Kita mengklik sesuatu, lalu diberikan sesuatu yang mirip. Kita menyukai satu pendapat, lalu diberikan pendapat yang sama.

Lama-kelamaan kita hidup dalam ruang informasi yang sangat nyaman. Semua orang tampaknya berpikir seperti kita. Semua berita tampaknya membenarkan kita. Semua komentar tampaknya mendukung kita. Lalu kita mulai menyimpulkan: “Berarti saya benar.” Padahal bisa jadi bukan kita yang semakin benar. Kita hanya semakin jarang bertemu dengan sesuatu yang membantah kita.

Karena itu, berpikir kritis bukan sekadar kemampuan mengkritik orang lain. Berpikir kritis juga berarti memiliki keberanian untuk mengkritik cara kita sendiri dalam melihat dunia. Sesekali kita perlu mencurigai keyakinan sendiri. Bukan karena semua yang kita yakini pasti salah. Tetapi karena tidak semua yang kita yakini pernah benar-benar kita uji.

Pada akhirnya, masalah terbesar manusia bukan selalu kekurangan informasi. Kadang-kadang kita justru memiliki terlalu banyak informasi yang semuanya mengatakan hal yang sama. Maka pertanyaannya bukan: “Apakah saya punya bukti?” Tetapi: “Apakah saya juga bersedia melihat bukti yang bertentangan dengan keyakinan saya?”

Sebab orang yang hanya mencari pembenaran akan selalu menemukan alasan untuk merasa benar. Tetapi orang yang mencari kebenaran harus siap menemukan kemungkinan bahwa dirinya keliru.

Dan mungkin, salah satu tanda bahwa pikiran kita mulai dewasa adalah ketika kita mampu mengatakan: “Saya masih percaya pada pendapat saya, tetapi saya bersedia mengubahnya jika bukti menunjukkan bahwa saya salah.”

Itulah perbedaan antara mempertahankan keyakinan dan mempertahankan kebenaran. Yang pertama menjaga ego. Yang kedua menjaga akal.


Abd. Majid HR. Lagu
Dosen UIN Alauddin Makassar