Gambar Buka Bersama: Kolak Manis, Lobi Lebih Manis

Fenomena buka bersama para pejabat itu selalu menarik, terutama karena ia lebih mirip festival temu kangen kekuasaan daripada sekadar membatalkan puasa. Undangan dicetak elegan, lokasi dipilih yang lampunya temaram tapi tagihannya terang benderang. Puasa seharian menahan lapar, lalu berbuka dengan menu yang kalau difoto bisa membuat algoritma media sosial ikut takbir.

Di negeri yang kaya tradisi ini, buka bersama pejabat bukan hanya soal kurma dan kolak. Ia adalah panggung silaturahmi strategis, tempat kartu nama berpindah tangan lebih cepat daripada piring takjil. Ada yang datang untuk ibadah, ada yang datang untuk “ibadah jaringan”. Keduanya sama-sama khusyuk, hanya saja yang satu menengadahkan tangan, yang lain menengadahkan proposal.

Kadang acara itu digelar di hotel berbintang atau ballroom megah di pusat ibu kota. Parkiran penuh mobil dinas, lengkap dengan pelat nomor yang lebih sakral dari doa sebelum makan. Di dalam ruangan, para tamu saling menepuk bahu dengan hangat, sehangat janji yang akan dibicarakan setelah dessert.

Momen azan magrib menjadi klimaks yang ditunggu. Semua hening, kamera siap, senyum ditata. Ketika kolak pertama menyentuh bibir, kilatan lampu ponsel berpendar bak kembang api. Buka bersama tanpa dokumentasi tentu seperti kebijakan tanpa konferensi pers: sah, tapi kurang terasa gaungnya.

Tak jarang, pejabat yang hadir berasal dari berbagai instansi, bahkan lintas profesi. Mereka duduk satu meja, tertawa bersama, seolah perdebatan sengit di gedung seperti Gedung DPR/MPR RI hanyalah bumbu dramaturgi. Di meja makan, oposisi dan koalisi menyatu dalam semangkuk sop hangat. Politik, setidaknya selama satu jam, larut dalam saus kacang.

Yang lebih menarik adalah sambutan-sambutan sebelum makan. Kalimatnya penuh hikmah, tentang kesederhanaan, empati, dan pentingnya merasakan penderitaan rakyat. Disampaikan di ruangan ber-AC yang dinginnya bisa mengawetkan idealisme. Tepuk tangan pun bergemuruh, kadang lebih panjang daripada antrean bantuan sosial.

Buka bersama juga menjadi ajang pencitraan yang nyaris sakral. Foto dibagikan dengan caption reflektif: “Indahnya kebersamaan di bulan suci.” Netizen pun terbagi dua, antara yang mengamini dan yang menghitung-hitung anggaran konsumsi. Di era digital, pahala seolah punya dua jalur distribusi: langit dan lini masa.

Agenda buka bersama, tentu ada sisi manusiawi. Para pejabat itu juga manusia, ingin bersua kolega tanpa mikrofon debat. Mereka pun mungkin rindu suasana hangat yang tidak selalu bisa ditemukan di ruang rapat. Hanya saja, publik terlanjur mahir membaca gestur, bahkan dari cara seseorang memegang sendok.

Fenomena ini berulang setiap tahun, setia seperti menu kolak pisang. Selalu ada optimisme bahwa silaturahmi akan melahirkan kebijakan yang lebih bijak. Selalu ada harapan bahwa kebersamaan tidak berhenti di meja makan. Dan selalu ada doa, semoga yang dibatalkan saat magrib bukan hanya puasa, tetapi juga jarak antara janji dan realisasi.

Akhirnya, buka bersama pejabat adalah potret kecil negeri ini: penuh tata krama, penuh kamera, dan penuh makna, setidaknya dalam siaran pers. Di antara gelas-gelas yang beradu pelan, terselip percakapan serius tentang masa depan bangsa, atau minimal tentang proyek tahun depan. Sebab di negeri ini, bahkan takjil pun bisa menjadi saksi sejarah.

(*)