Menjelang akhir bulan Ramadhan, pemandangan yang sering terlihat di banyak kota adalah jalanan yang penuh kendaraan, pusat perbelanjaan yang sesak, dan orang-orang yang berburu baju baru.
Niatnya tentu baik: menyambut hari kemenangan dengan penuh kegembiraan. Namun, sering kali semangat itu berubah menjadi hiruk-pikuk yang membuat jalanan macet, energi terkuras, bahkan kadang memicu sikap konsumtif.
Padahal, hakikat menyambut Idul Fitri bukan semata pada pakaian baru yang kita kenakan, melainkan pada hati yang kembali bersih setelah ditempa oleh puasa selama sebulan penuh.
Para ahli sosiologi agama melihat fenomena ini sebagai bagian dari budaya simbolik dalam masyarakat. Seorang pemikir Muslim kontemporer seperti Tariq Ramadan menjelaskan bahwa perayaan keagamaan sering kali diiringi simbol-simbol sosial seperti pakaian baru atau makanan khas. Namun ia mengingatkan bahwa simbol tidak boleh menggantikan makna. Jika simbol menjadi lebih penting daripada nilai spiritualnya, maka pesan utama ibadah akan memudar.
Dalam psikologi sosial juga dijelaskan bahwa manusia sering mencari kebahagiaan melalui konsumsi. Padahal, kebahagiaan spiritual justru lahir dari kesederhanaan, syukur, dan kedekatan dengan Sang Pencipta.
Dalam tradisi Islam, memakai pakaian terbaik saat hari raya memang dianjurkan. Namun para ulama menegaskan bahwa yang utama bukanlah kebaruannya, tetapi kebersihan dan kebaikannya.
Ulama besar seperti Al-Ghazali pernah mengingatkan bahwa Idul Fitri adalah hari kembalinya manusia kepada fitrah. Jika tubuh dihiasi pakaian indah tetapi hati masih dipenuhi kesombongan, iri, dan permusuhan, maka hakikat Idul Fitri belum benar-benar tercapai.
Karena itu, para ulama sering menekankan bahwa yang harus “baru” pada hari raya adalah hati, niat, dan hubungan kita dengan sesama manusia.
Dikisahkan seorang sufi besar, Ibrahim ibn Adham, suatu hari ditanya oleh muridnya menjelang Idul Fitri; “Guru, apakah engkau sudah menyiapkan pakaian baru untuk hari raya?”
Beliau tersenyum dan menjawab, “Jika Allah telah membersihkan hatiku dari dosa selama Ramadhan, maka itulah pakaian terbaikku. Jika hatiku masih kotor, maka pakaian baru tidak akan membuatku mulia.”
Jawaban sederhana itu membuat para murid terdiam. Mereka menyadari bahwa keindahan hari raya tidak terletak pada apa yang dipakai, tetapi pada hati yang kembali dekat kepada Allah.
Kemacetan jalan, antrean panjang di toko, dan semangat berburu diskon mungkin menjadi bagian dari tradisi menjelang Idul Fitri. Namun Ramadhan sebenarnya telah mengajarkan kita kesederhanaan, pengendalian diri, dan kepekaan terhadap sesama.
Idul Fitri adalah momentum kembali kepada fitrah: hati yang bersih, jiwa yang lembut, dan hubungan yang damai dengan manusia.
Ketika takbir berkumandang nanti, apakah yang benar-benar kita rayakan: kemenangan spiritual atau sekadar perayaan lahiriah?
Mungkin baju baru bisa membuat kita tampak indah di hadapan manusia.
Namun hanya hati yang bersih yang membuat kita indah di hadapan Allah swt.
Allah A’lamMakassar, 17 Maret 2026
Alat AksesVisi