Gambar Bisikan Nurani

Sejak dulu, kita lebih tertarik dan mengagumi bintang di langit, bintang di panggung, bintang di lapangan, namun enggan memandang cahaya bintang di hati. Bintang di langit selalu menarik perhatian manusia, bagi para pelaut atau musafir di padang pasir beberapa bintang tertentu dapat berperan sebagai kompas, memberikan pedoman untuk menentukan arah perjalanan agar tidak tersesat di jalan.

Immanuel Kant berkata: kita sering kagum pada bintang yang ada di langit, kagum pada bintang di lapangan, kagum pada bintang di panggung, tapi kita tidak pernah kagum pada bintang yang ada pada diri kita masing-masing, itulah hati nurani.

Suara hati yang dimaksud adalah yang selalu mengajak kepada kebaikan, seseorang yang bijak mesti mendengarkan kata hatinya sebelum berbicara dan bertindak. Hati nurani adalah guru, konsultan dan pembimbing yang tidak mau berbohong. Teristimewa jika hati yang selalu diterangi dengan tuntunan dan energi ilahi, maka niscaya akan semakin kuat dan jelas arahnya agar kita berada di jalur yang benar lagi baik dan senantiasa ingin membahagiakan sesama.

Orang bijak mengajarkan bahwa ketika mengajak atau ingin meyakinkan orang lain dengan menggunakan hati, maka akan diterima dengan hati juga. Berbeda ketika ajakan itu hanya dari ucapan atau janji saja, maka yang akan menerimanya mungkin sebatas pendengaran atau anggukan kepala saja.

Ketika seseorang hendak mengambil milik orang lain yang bukan menjadi haknya, hal tersebut adalah sebuah kezaliman. Dalam kondisi seperti itu, maka yang pertama kali menjerit adalah hati nurani “jangan ambil” atau “jangan lakukan”, namun kebanyakan manusia tidak lagi bisa mendengar jeritan hati nuraninya, karena jabatan, pangkat, popularitas dan harta atau materi.

Demikian pentingnya peran hati sehingga Nabi Muhammad saw. berpesan: “Siapa saja yang hatinya baik, maka baiklah semua perilakunya. Dan siapa saja yang hatinya sakit, maka sakitlah seluruh amalnya. Demikian vital peran hati dalam kehidupan seseorang karena dari situlah energi kebaikan dan keburukan terpancar, dorongan ke arah kemuliaan ataukah kenistaan yang akan membelenggu.

Semakin sering seseorang melakukan keburukan atau kemaksiatan, maka kotoran hati berpotensi menjadi karat yang akan menjadi penghalang masuknya cahaya ilahi menerangi relung hatinya. Apabila sudah tertutup, maka suara hati menjadi lemah, perintahnya tidak berwibawa, dengan mudah suara hati terkalahkan dengan beragam kepentingan yang sangat sementara dan berjangka pendek.

Seseorang sangat rentan dikendalikan dan dipengaruhi oleh nafsu rendah yang hanya mengejar kenikmatan fisik dengan mengorbankan kebahagiaan moral spiritual. Padahal kenikmatan fisik masanya sangat pendek, karena seiring dengan bertambahnya usia seseorang dan semakin tua, maka semakin berkurang kenikmatan fisik yang bisa diraih.

Berbeda dengan mereka yang hatinya selalu terjaga dan senantiasa disinari dengan energi cahaya ilahi, semakin bertambah usia seseorang justru hatinya semakin sehat, semakin bijak dan lapang dalam menyikapi persoalan hidup.

Kebahagiaan yang diraih pun justru lebih tinggi kualitasnya, karena kebahagiaan yang didambakan adalah kebahagiaan yang bersumber dari moral spiritual. Kalau kebahagiaan fisik dapat diperoleh melalui penumpukan dan mengumpulkan materi sebanyak-banyaknya, maka kebahagiaan moral spiritual diperoleh dengan banyak memberi dan berbagi kepada sesama.

Sesering apa pun engkau memberi, maka sesering itu pula engkau akan menerima. Sebanyak apa pun engkau memberi, sebanyak itu pula engkau akan menerima. Ketika seseorang memberi dengan penuh keikhlasan, sesungguhnya dia tengah menabung dengan bunga berlipat ganda sebagaimana yang dijanjikan Tuhan. Jalani hidup dengan senantiasa mendengarkan suara nurani yang selalu membisikkan kedamaian, kebenaran, dan kebaikan. (*)