Kita kadang mengeluh karena rumah berantakan... itu karena kita memiliki rumah dan keluarga yang menghidupkannya.
Kita kadang mengeluh karena cucian tak pernah habis... itu karena kita masih memiliki pakaian untuk dikenakan.
Kita kadang mengeluh karena telepon tak henti berdering... itu karena masih ada orang yang membutuhkan kita.
Kita kadang mengeluh karena tubuh terasa lelah... itu karena kita masih diberi kesehatan untuk beraktivitas.
Kita kadang mengeluh karena banyak tamu datang... itu karena rumah kita masih menjadi tempat yang dirindukan.
Kita kadang mengeluh karena tagihan listrik dan air meningkat... itu karena rumah kita masih diterangi cahaya dan dialiri kehidupan.
Kita kadang mengeluh karena harus merawat orang tua yang telah renta... itu karena Allah masih memberi kesempatan untuk berbakti.
Kita kadang mengeluh karena jalan hidup terasa berat... padahal itu tanda Allah masih mempercayai kita untuk terus bertumbuh.
Sering kali kita lupa, keluhan lahir karena kita masih memiliki sesuatu. Sementara di luar sana, banyak orang tidak mengeluh bukan karena hidupnya lebih mudah, melainkan karena mereka bahkan tidak lagi memiliki apa yang kita keluhkan.
Maka, sebelum mengeluh, cobalah bertanya kepada diri sendiri: "Bagaimana jika nikmat yang sedang aku keluhkan itu benar-benar diambil oleh Allah?" Saat itulah kita akan sadar, bahwa tidak semua beban adalah musibah; sebagian di antaranya justru merupakan nikmat yang sedang kita lupa syukuri.Allah bergirman:
فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
“Maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang hendak kau dustakan”
اللهم اجعلنا من الشاكرين لنعمك، الراضين بقضائك، وبارك لنا فيما أعطيتنا، ولا تحرمنا فضلك.
“Ya Allah, jadikanlah kami termasuk hamba-hamba-Mu yang bersyukur atas nikmat-Mu, ridha atas ketetapan-Mu, berkahilah apa yang Engkau anugerahkan kepada kami, dan jangan Engkau haramkan kami dari karunia-Mu.”
MUNAWIR KAMALUDDIN