Alkisah seorang penarik becak tradisional bukan bentor (becak-motor) di Surabaya, berkata kepada istrinya:“Bu, saya sudah niatkan kalau hari Jumat jangan tanya berapa penghasilan yang saya dapatkan, karena siapa pun yang menumpang di becak saya, tidak akan aku terima ongkos atau bayarannya. Hanya dengan seperti itulah satu-satunya cara sehingga saya bisa bersedekah”.
Di hari Jumat sehabis ia sarapan, penarik becak itu pun keluar rumah mencari penumpang. Di persimpangan jalan ia menepi karena terjadi kemacetan arus lalu lintas. Sementara seorang pengusaha sejak pagi tidak dapat lewat karena kemacetan itu, padahal dia akan melakukan transaksi dengan rekan bisnisnya di sebuah bank yang tidak jauh dari tempat itu.
Sang pengusaha turun dari mobilnya dan meminta kepada penarik becak untuk mengantarnya ke bank yang dimaksud. Setelah tiba di tempat tujuan, pengusaha memberikan uang pecahan lima puluh ribu kepada penarik becak, namun tidak diterima oleh si penarik becak.
Sang pengusaha beranggapan bahwa penarik becak menolak karena jumlahnya sedikit, lalu diambilnya lebaran seratus ribu untuk menambah pecahan lima puluh ribu tadi. Penarik becak tetap tidak menerima pemberian itu, kemudian berkata: maaf pak, saya tidak menerima pemberian bapak bukan karena jumlah, tapi disebabkan karena saya telah meniatkan dalam hati bahwa siapa pun yang menumpang di becak saya pada hari Jumat, maka saya tidak akan menerima bayaran.
Meskipun penumpang itu seperti bapak seorang pengusaha besar. Hanya dengan cara seperti itulah saya bisa bersedekah.
Sang pengusaha tersentuh hatinya dan kagum dengan sikap penarik becak, bayangkan di tengah kehidupan yang keras dan susah seperti ini masih ada orang yang mau bersedekah meskipun bukan dengan uang, melainkan dengan profesi sebagai penarik becak.
Pengusaha itu pun mengambil identitas dan alamat tempat tinggal keluarga si penarik becak. Beberapa hari kemudian, ajudan sang pengusaha mendatangi alamat yang dimaksud dan menemui penarik becak. Lalu ajudan itu berkata bahwa rumah penarik becak itu akan dipugar.
Spontan penarik becak itu berkata: jangan main-main pak, makan saja susah apalagi pugar rumah mana mungkin. Ajudan itu menjawab bahwa dia tidak main-main, melainkan apa yang dikatakan itu adalah benar karena perintah atasannya.
Bahkan bukan cuma itu, sang pengusaha juga telah menyiapkan paspor ibadah haji untuk si penarik becak dan istrinya. Air mata penarik becak dan keluarganya pun mengalir karena terharu, dia tidak pernah bermimpi dan membayangkan akan menerima berkah seperti yang diperolehnya itu.
Kisah ini mengajarkan bahwa kalau Anda berbuat baik, maka Tuhan akan berbuat baik kepada Anda pada saat Anda butuh kan. Kalau Anda memberi, Tuhan akan memberi lebih dari apa yang Anda telah berikan. Karenanya tidak ada perbuatan baik yang sia-sia, tidak ada kerugian dalam berbuat baik, dan tidak ada rasa kecewa dalam berbuat kebajikan.
Sekecil apa pun perbuatan baik yang kita dilakukan, akan menjadi investasi akhirat bagi pelakunya dan akan melebur kesalahan-kesalahan yang pernah kita dilakukan. Jika kita berbuat baik kepada seseorang, kemudian orang tersebut berbuat sebaliknya ibarat pepatah “air susu dibalas dengan tuba” (kebaikan dibalas dengan keburukan).
Jangan kecewa, itu berarti Tuhan tidak memilih orang tersebut untuk menyalurkan kebaikan kepada Anda. Tuhan akan memilih tangan-tangan lain untuk menyalurkan kebaikan kepada Anda pada saat Anda butuh kan. Alquran menuntun: “Tidak ada balasan atas satu kebajikan selain kebajikan juga”(QS. Ar-Rahman/55 : 60).
Kebajikan yang kita terima jauh lebih besar dari kebajikan yang kita kerjakan.
(*)
Alat AksesVisi