Memasuki sepuluh hari terakhir Ramadhan, sebuah fenomena yang hampir selalu berulang dapat dengan mudah kita saksikan di banyak kota di Indonesia. Pusat-pusat perbelanjaan (Bazar) semakin ramai, parkiran mall penuh, pasar dipadati pembeli, dan toko-toko pakaian dipenuhi orang yang berburu kebutuhan Lebaran.
Namun di saat yang sama, ada pemandangan yang justru terasa kontras, saf di beberapa masjid mulai berkurang. Jamaah tarawih tidak seramai awal Ramadhan. Sebagian orang yang dulu hadir di barisan depan kini lebih sering terlihat di sejumlah bazaar seperti pusat perbelanjaan daripada di rumah ibadah.
Fenomena ini menghadirkan sebuah ironi spiritual. Padahal dalam tradisi Islam, sepuluh malam terakhir Ramadhan memiliki nilai spiritual yang sangat tinggi. Pada malam-malam inilah umat Islam dianjurkan untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah, memperbanyak ibadah, memperdalam doa, dan memperkuat refleksi spiritual. Di malam-malam terkahir ini pula menurut hadis Nabi, Lailatul Qadar kemungkinan besar bisa turun.
Namun realitas sosial sering berjalan dengan arah yang berbeda. Bagi banyak orang, menjelang Lebaran menjadi momen untuk menyiapkan berbagai kebutuhan seperti pakaian baru, makanan khas, hampers untuk kerabat, hingga dekorasi rumah. Semua itu sebenarnya wajar. Islam tidak melarang manusia menikmati kebahagiaan dunia. Bahkan tradisi merayakan hari raya dengan penuh suka cita adalah bagian dari budaya yang memperindah kehidupan.
Masalahnya bukan pada aktivitas belanja itu sendiri. Masalah muncul ketika ia menggeser prioritas spiritual. Ketika energi, waktu, dan perhatian lebih banyak tercurah pada pusat perbelanjaan daripada pada masjid, maka kita perlu bertanya pada diri sendiri: apakah Ramadhan masih menjadi ruang transformasi spiritual, ataukah ia perlahan berubah menjadi musim konsumsi?
Fenomena “mall diborong, masjid kosong” sebenarnya bukan sekadar soal jumlah jamaah. Ia adalah refleksi tentang bagaimana manusia modern sering terjebak pada ritme materialisme yang halus tetapi kuat.
Belanja untuk kebutuhan Lebaran tentu tidak salah. Memberi kebahagiaan kepada keluarga juga merupakan bentuk kasih sayang yang dianjurkan. Namun Ramadhan mengingatkan bahwa kebahagiaan sejati tidak hanya terletak pada apa yang kita beli, tetapi pada apa yang kita bangun dalam hati.
Sepuluh malam terakhir seharusnya menjadi puncak perjalanan spiritual. Ia adalah fase ketika manusia diajak untuk lebih sunyi, lebih reflektif, dan lebih dekat dengan Tuhan. Di malam-malam inilah ada peluang bertemu dengan malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan (Lailatul Qadr)
Sayang sekali jika kesempatan yang begitu besar dilewatkan hanya karena kita terlalu sibuk mengejar diskon dan promosi.
Tidak ada yang salah dengan mempersiapkan hari raya, tetapi jangan sampai kita menyiapkan pakaian baru sementara hati tetap lama. Jangan sampai rumah kita meriah, tetapi ruh kita kosong.
Masjid dan pasar sebenarnya tidak perlu dipertentangkan. Keduanya memiliki fungsi dalam kehidupan manusia. Namun Ramadhan mengajarkan prioritas, sebelum mempersiapkan kegembiraan hari raya, kita perlu menuntaskan perjalanan ibadahnya.
Karena pada akhirnya, Lebaran bukan hanya tentang apa yang kita kenakan, tetapi tentang siapa diri kita setelah Ramadhan berlalu.
Jangan sampai kita terlalu sibuk menyiapkan baju baru untuk Lebaran, tetapi lupa menyiapkan hati yang baru setelah Ramadhan.
Sungguminasa, 20 Ramadhan 2026
Alat AksesVisi