Di sebuah kota tua yang nyaris dilupakan waktu, hiduplah seorang murid yang gelisah. Ia telah membaca banyak kitab—tentang hukum, teologi, filsafat—namun hatinya terasa semakin jauh dari makna. Suatu hari ia mendatangi seorang guru tua, seorang sufi yang lebih sering diam daripada berbicara. “Guru,” katanya, “aku ingin memahami kebenaran. Kitab mana yang harus aku baca?”
Sang guru tersenyum tipis, lalu berkata, “Engkau telah membaca banyak kitab, tapi belum membaca perjalanan pikiran manusia.” Murid itu tertegun.
Sang guru kemudian mengajaknya berjalan menyusuri pasar, masjid, dan lorong-lorong kota. Ia menunjuk seorang pedagang, seorang hakim, dan seorang pengemis. “Lihat mereka,” kata sang guru. “Setiap dari mereka hidup dengan ide—tentang Tuhan, tentang dunia, tentang keadilan. Itulah sejarah intelektual yang hidup.” Murid itu mulai memahami bahwa sejarah intelektual bukan hanya tentang buku, tetapi tentang bagaimana manusia memahami hidupnya.
Dalam tradisi Islam, para ulama besar seperti Al-Ghazali pernah mengalami kegelisahan serupa. Ia meninggalkan kedudukan dan kemasyhuran, karena merasa bahwa ilmu yang tidak menembus hati hanyalah bayangan kebenaran. Sang guru lalu mengeluarkan sebuah lembaran tua. Di dalamnya tertulis satu kata: “adil.”
“Apa arti kata ini?” tanya sang guru. Murid menjawab, “Memberi setiap orang haknya.” Guru itu mengangguk, lalu berkata,“Benar. Tapi arti itu tidak selalu sama dalam setiap zaman.”
Ia menjelaskan bahwa dalam sejarah, makna kata berubah—dipengaruhi oleh kekuasaan, budaya, dan kebutuhan manusia. Seperti yang diingatkan oleh Reinhart Koselleck, konsep bukanlah sesuatu yang beku, tetapi hidup dan bergerak bersama waktu. “Jadi,” lanjut sang guru, “jika engkau membaca kitab lama tanpa memahami zamannya, engkau hanya akan memahami kulitnya, bukan ruhnya.”
Di malam hari, mereka duduk dalam diam. Sang guru berkata pelan,
“Tidak semua yang disebut ‘kebenaran’ lahir dari cahaya. Ada yang lahir dari kekuasaan.” Murid itu teringat pada perdebatan panjang dalam sejarah: siapa yang berhak menentukan benar dan salah?.
Dalam hal ini, pemikir seperti Michel Foucault mengingatkan bahwa pengetahuan sering kali berkelindan dengan kekuasaan. Apa yang dianggap “normal” atau “benar” bisa jadi adalah hasil dari dominasi tertentu. Sang guru menambahkan, “Maka tugasmu bukan hanya percaya, tapi juga memahami—mengapa suatu ide muncul, dan siapa yang diuntungkan olehnya.”
Keesokan harinya, sang guru memberikan satu pesan terakhir: “Jika engkau ingin memahami pikiran manusia, jangan hanya membaca teks. Bacalah niat, bacalah konteks, dan bacalah dirimu sendiri.” Pesan ini sejalan dengan apa yang diajarkan oleh Hans-Georg Gadamer, bahwa memahami adalah dialog antara masa lalu dan masa kini—antara teks dan pembacanya.
Murid itu akhirnya mengerti: sejarah intelektual adalah perjalanan memahami bagaimana manusia mencari Tuhan, kebenaran, dan makna—dengan segala keterbatasannya.
Sebelum berpisah,sang guru bertanya, “Sekarang, kitab apa yang ingin kau baca?”. Murid tersebut menjawab pelan, “Aku ingin membaca kehidupan… dan memahami pikiran di baliknya.” Guru itu tersenyum.
Allah A’lam
Makassar, 07-04 2026
Alat AksesVisi