Gambar Barakka: Pengetahuan Tacit Komunitas Santri

Michael Polanyi pernah mengatakan, “we know more than we can tell.” Ungkapan ini tampaknya sangat cocok untuk menggambarkan kehidupan komunitas santri. Ada pengetahuan yang tidak tertulis dalam kitab, tidak tercantum dalam silabus, bahkan kalau ditanya definisinya, santri bisa garuk-garuk kepala mencari kata yang tepat. Namun, pengetahuan itu hidup, diyakini, dipraktikkan, dan diwariskan dari generasi ke generasi. Salah satunya adalah barakka. Bagi santri, barakka bukan sekadar istilah, melainkan pengetahuan tacit yang diperoleh melalui pengalaman, keteladanan, penghormatan, kebiasaan, dan keterlibatan langsung dalam tradisi keilmuan pondok pesantren.

Coba perhatikan suasana setelah pengajian kitab kuning. Ketika Anregurutta menutup kitab dan mengucapkan, “Alhamdulillah, sampai di sini pengajian kita,” tiba-tiba suasana berubah. Santri yang tadinya duduk manis mendengarkan penjelasan isi kitab kuning yang sarat dengan kaidah-kaidah nahwu sharaf yang membuat kening berkerut, mendadak memiliki energi seperti atlet lompat jauh. Segera mereka membentuk antrean sesuai urutan kecekatan dan tentu yang tidak boleh dinafikan yaitu keberuntungan.

“Cepat, cepat! Anregurutta sudah turun!”

“Antreki dulu!”

“Janganmi dorong-dorong!”

“Yang penting dapat giliran mencium tangan!”

Mengapa mereka begitu bersemangat? Apakah ada hadiah? Tidak. Apakah ada uang transport? Juga tidak. Apakah setelah mencium tangan langsung mendapat sertifikat? Apalagi tidak! Mereka sedang berburu sesuatu yang jauh lebih abstrak “barakka”

Antrean pun mengular dengan tertib. Sebelas dua belas dengan Bapak-Bapak yang antre BBM ataupun Ibu-Ibu yang antre tabung gas. Para santri rela menunggu meskipun sebenarnya harus segera pulang menyiapkan sarapan atau makan malam. Kalau di SPBU, Bapak-Bapak rela antre karena takut motor berhenti berjalan kehabisan BBM, di pangkalan, Ibu-Ibu rela antre karena takut dapur berhenti mengepul kehabisan gas, di pondok pesantren, santri rela antre karena takut “tali barakka-nya” terputus. Bahkan, kalau ada yang memotong antrean, mungkin bukan hanya urutan yang terganggu, tetapi juga persaudaraan dan barakka yang sedang diperjuangkan.

Lebih lucu lagi ketika tersisa minuman Anregurutta. Ada saja santri yang berkata, “Kasika sedikit!”

Temannya menyahut, “Kenapa?”

“Butuhka barakka-nya Anregurutta!”

“Bukankah itu bekas diminum?”

“Justru itu, banyak barakka-nya!”

Ketika mendapat tugas dari Anregurutta berdakwah (macceramah) atau menjadi imam tarawih (mappatarawe) di berbagai daerah pada bulan suci Ramadan, kami selalu membawa dua “senjata utama” yaitu sekoper buku agama sebagai bekal ilmu dan sebotol air mineral yang telah didoakan Anregurutta sebagai bekal barakka. Keduanya terasa sama pentingnya. Bedanya, buku kami baca untuk menjawab pertanyaan jamaah, sedangkan air kami minum agar jangan sampai kami yang “dehidrasi” kehabisan jawaban. Maklum, saat itu Google belum menjadi tempat bertanya. Kalau jamaah bertanya, “Apa dalilnya, Ustadz?” kami harus membuka buku. Kalau pertanyaannya terlalu sulit, mungkin dalam hati kami berkata, “Andai Google sudah lahir, persoalan ini tinggal diketik.” Tetapi Google belum ada, sehingga kami hanya bisa meneguk air yang telah didoakan Anregurutta sambil berharap semoga barakka membantu ingatan, menenangkan hati, dan memberi ilmu hudhuri sebelum jamaah bertanya pertanyaan-pertanyaan berikutnya.

Kami pernah belajar membaca kitab kuning dari salah seorang Anregurutta ketika mengikuti Pendidikan Kader Ulama di Masjid Raya Makassar Tahun 2006. Suasana pengajian pada awalnya berjalan seperti biasa dimana kitab terbuka, santri menyimak, dan satu per satu diminta membaca. Namun, ada satu masalah klasik yang ternyata belum juga klasik-klasik amat yaitu kesalahan membaca masih sering terjadi. Maklum, kami memang “maha” santri sudah menyandang status mahasiswa, tetapi ketika berhadapan dengan kitab kuning, kadang-kadang kemahasiswaan itu seperti ikut menguning.

Anregurutta tentu tidak tinggal diam. Dari sorot matanya tampak jelas ada guratan kekecewaan. Mungkin dalam hati beliau berkata, “Bagaimana ini mau menjadi kader ulama kalau membaca manshub masih dibuat marfu‘, yang majrur malah dinaikkan dari kasrah ke fathah?” Suasana pun berubah. Dengan nada tegas, Anregurutta menyampaikan sebuah “kebijakan akademik” yang hingga hari ini sulit kami lupakan.

“Pekan depan,” kata beliau, “kalau ada yang salah membaca sampai sepuluh kali, mulutnya akan saya ludahi!”

Hening. Tidak ada yang tertawa. Tidak ada yang berani bertanya, “Apakah ini termasuk metode pembelajaran yang inovatif?” Semua langsung menunduk. Bahkan mungkin kitab kuning yang biasanya terasa berat mendadak menjadi ringan, karena ancaman itu lebih cepat masuk ke kepala daripada kaidah nahwu.

Pekan berikutnya, keajaiban terjadi. Kesalahan membaca menurun drastis. Yang biasanya salah berkali-kali, tiba-tiba membaca dengan penuh kehati-hatian. Setiap huruf diperiksa, setiap harakat direnungkan, setiap kata diperlakukan seperti barang berharga.

Dalam hati kami bertanya: “Ini karena barakka Anregurutta, atau karena sugesti takut diludahi?”

Dalam perspektif kesehatan modern, mungkin muncul berbagai pertanyaan tentang kebersihan dan risiko penularan penyakit. Namun dalam pengetahuan tacit santri, yang diperebutkan bukan sekadar air minum. Di sana terdapat simbol kecintaan, penghormatan, keteladanan, dan harapan memperoleh keberkahan dari orang berilmu.

Di sinilah pondok pesantren mengajarkan sesuatu yang kadang tidak tertulis di papan tulis. Ilmu bukan hanya persoalan mengetahui, tetapi juga persoalan bagaimana menghormati sumber ilmu. Santri mungkin tidak mampu menjelaskan barakka dengan rumus akademik, tetapi mereka tahu bagaimana mencarinya. Mereka mungkin tidak dapat membuat definisi panjang tentang adab, tetapi kaki mereka tahu ke mana harus melangkah setelah pengajian selesai.

Berkaca pada pengetahuan tacit komunitas santri, barakka mengajarkan bahwa ilmu yang luas tanpa adab dapat menjadi kering, sedangkan ilmu yang disertai penghormatan, ketulusan, dan keteladanan dapat tumbuh menjadi kebijaksanaan. Sebab di pondok pesantren, ada ilmu yang dibaca dengan mata, ada yang dipahami dengan akal, dan ada pula yang “ditangkap” melalui hati. Barakka berada di wilayah terakhir itu. Barakka sulit dijelaskan, tetapi terus dipraktikkan. Dan mungkin, inilah maksud Michael Polanyi bahwa kita memang sering mengetahui jauh lebih banyak daripada yang sanggup kita jelaskan.

Dr. Muhammad Rusydi, S.Pd.I., M.Pd.I.