Siang ini, usai menunaikan tugas sebagai khatib Jumat dalam suasana Ramadan nan syahdu, aku memacu kendaraan menuju Sidrap guna menyampaikan tausiyah Nuzulul Al-Qur’an di Masjid Agung Pangkajene malam ini.
Sepanjang perjalanan, hamparan blacktop (aspal beton) tak selalu mulus. Kendaraan berguncang bagai tarian "Caddoleng-doleng".
Lubang jalan sesekali membuyarkan lamunan, seolah mengingatkan perjalanan spiritual selama bulan suci sering pula tak rata.
Fenomena mudik mulai terasa; wajah penuh harap tampak pada kendaraan lalu-lalang berkecepatan tinggi, membawa rindu ingin segera tuntas.
Namun perjalanan ini juga merekam potret kegelisahan. Antrean panjang kendaraan mengular di berbagai SPBU akibat kelangkaan BBM.
Di bawah terik matahari, sopir truk serta pengendara rela menunggu berjam-jam—ujian kesabaran nyata di tengah ibadah puasa.
Secara teknis, kerusakan campuran beraspal terjadi akibat kombinasi rembesan air karena drainase buruk, hantaman beban kendaraan berat, serta siklus cuaca melemahkan lapisan tanah dasar dan agregat.
Di balik analisis konstruksi itu tampak refleksi spiritual mendalam. Bukankah hidup sering mengalami “kerusakan struktur” serupa? Kebaikan retak karena “drainase” hati buruk—tempat penyakit batin menggenang.
Lapisan keikhlasan kerap melemah akibat memikul beban berat berupa pujian atau kepentingan duniawi.
Jika kualitas konstruksi iman rendah, usia serta daya tahan amal tak lama bertahan diterjang cuaca ujian kehidupan.
Teringat penggalan sakral QS. Az-Zalzalah ayat 4:"Pada hari itu bumi menyampaikan beritanya"
Jika beton aspal dilintasi setiap hari mampu bicara, apa kiranya ia ceritakan? Apakah bersaksi tentang jejak kebaikan, atau hanya keluhan dan kesia-siaan?
Filosofi aspal mengajarkan ketahanan sekaligus kerendahan hati. Layaknya aspal, hidup menuntut keteguhan menghadapi tekanan, menjadi pengikat ukhuwah, serta tetap memberi manfaat meski terus-menerus diinjak.
Ada pesan batin kuat: belajarlah dari aspal; diam saat diinjak, namun keteguhannya mampu menyadarkan tanpa harus bergerak membalas. Inilah hakikat sabar tengah diasah selama sebulan penuh.
Namun realitas hari ini terasa getir. Zaman terasa aneh: saat seseorang bertanya tulus, ia dituduh kepo; ketika mencoba mengulurkan tangan, kebaikan justru dicurigai sebagai modus. Mengapa kebaikan menjadi sesuatu mencurigakan?
Manusia memang unik.
Ketika berbuat baik, hampir tak ada mengingatnya. Namun saat tergelincir melakukan satu kesalahan, banyak orang mendadak berubah menjadi detektif pencari bukti dosa.
Sering muncul keraguan berbuat baik hanya karena takut disangka sedang membutuhkan bantuan.
Padahal tolok ukur menjadi pribadi baik bukan pada kepiawaian berbicara di atas mimbar, melainkan kemampuan mempraktikkan apa dipahami dan diucapkan. Seseorang dinilai dari tindakan, bukan sekadar indahnya untaian kata.
Ramadan adalah momentum kembali pada fitrah fastabiqul khairat. Satu tindakan baik di bulan suci menebarkan akar ke segala arah, tumbuh menjadi pohon meneduhkan.
Tak ada kebaikan sia-sia di hadapan Allah. Sekecil apa pun, sebagaimana janji-Nya dalam QS. Az-Zalzalah ayat 7–8:"Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrrah, niscaya dia melihat balasannya".
Sisa perjalanan menuju Sidrap menjadi pengingat: setiap guncangan jalan berlubang dapat menjadi saksi ketulusan.
Biarlah bumi merekam jejak zarrah kebaikan di atas blacktop kehidupan—menjadi tabungan abadi saat kelak manusia bertemu Allah SWT.
Jumat, 16 Ramadan 1447 H / 6 Maret 2026SK
Alat AksesVisi