Gambar Arogansi Materialisme Versus Ketahanan Spiritual

Saya tidak berdiri sebagai pakar geopolitik juga analis Timur Tengah, melainkan sebagai seorang akademisi yang mencoba membaca realitas Perang Iran vs US-Israel dari sudut pandang spiritualisme Islam.

Kita tahu bersama perang sudah memasuki Minggu kelima (1 bulan), tidak ada tanda-tanda akan berakhir. Negosiasi tampaknya masih menemui jalan buntu. Ancaman dibalas dengan ancaman masih menghiasi narasi pihak yang berkonflik. Dua kutub sedang bertarung; Kepentingan materialisme berhadapan spiritualisme untuk membela harga diri dan martabat kebangsaan.

Perang memang tidak pernah benar-benar dimenangkan oleh senjata, tapi ia dimenangkan oleh makna di balik siapa yang berani mati, dan untuk apa ia mati.

Di tengah konstelasi geopolitik modern, konflik antara Iran melawan poros Amerika Serikat–Israel bukan sekadar benturan militer, tetapi pertarungan dua paradigma besar: materialisme versus spiritualisme.

Di satu sisi, Amerika dan Israel tampil sebagai simbol supremasi material. Mereka memiliki teknologi militer paling mutakhir, anggaran pertahanan terbesar di dunia, serta jaringan aliansi global yang luas. Dalam logika klasik realisme politik, kekuatan seperti ini hampir mustahil dikalahkan. Namun sejarah yang seringkali lebih jujur daripada teori berkali-kali menunjukkan bahwa dominasi material tidak selalu berujung pada kemenangan substantif.

Sejumlah pengamat militer dan geopolitik telah lama menegaskan hal ini. Carl von Clausewitz, dalam karyanya On War, menyatakan bahwa perang bukan sekadar benturan kekuatan fisik, melainkan pertarungan kehendak. Kehendak (will) inilah yang sering kali menjadi faktor penentu, bukan sekadar jumlah pasukan atau kecanggihan senjata. Sementara itu, Martin van Creveld menekankan bahwa dalam banyak konflik modern, terutama perang asimetris, kekuatan moral dan legitimasi justru menjadi faktor yang lebih menentukan dibandingkan superioritas teknologi.

Pandangan ini diperkuat oleh pengalaman sejarah kontemporer, misalnya kegagalan Amerika di Vietnam, stagnasi di Afghanistan, serta berbagai konflik di Timur Tengah menunjukkan bahwa kekuatan militer terbesar pun dapat kehilangan arah ketika berhadapan dengan lawan yang memiliki daya tahan ideologis dan spiritual yang tinggi.

Dalam konteks ini, Iran menghadirkan model yang berbeda. Negara ini tidak sekadar membangun kekuatan militer, tetapi juga membangun narasi spiritual tentang perjuangan, pengorbanan, dan martabat. Ide tentang syahid, ketahanan, dan perlawanan bukan hanya slogan, tetapi telah menjadi bagian dari kesadaran kolektif bangsa.

Sebaliknya, Amerika dan Israel sering kali masuk ke dalam konflik dengan membawa kepentingan strategis yang bersifat pragmatis, keamanan regional, dominasi geopolitik, dan kepentingan ekonomi. Kepentingan ini, meskipun rasional, sering kali tidak memiliki daya ikat emosional yang kuat bagi rakyat secara luas.Itulah sebabnya kurang lebih 8 juta warga AS pekan ini berdemo di berbagai kota memrotes pimpinannya Donald Trump yang terlibat perang di Iran 

Di sinilah letak perbedaan mendasar.  Satu pihak berperang untuk mempertahankan makna, sementara pihak lain berperang untuk mempertahankan kepentingan, terutama kepentingan zionis Israel.

Sejarah Islam sendiri telah memberikan contoh klasik tentang hal ini melalui Perang Badar. Dalam peristiwa tersebut, pasukan kecil kaum Muslim yang dipimpin oleh Nabi Muhammad berhasil mengalahkan pasukan Quraisy yang jauh lebih besar dan lebih lengkap secara persenjataan. Secara matematis, kemenangan itu hampir mustahil. Namun secara spiritual, ia menjadi logis.

Badar bukan sekadar pertempuran fisikm Badar adalah manifestasi dari keyakinan, keteguhan, dan rasa keadilan. Pasukan Muslim tidak hanya bertarung dengan pedang, tetapi dengan keyakinan bahwa mereka berada di pihak yang benar. Inilah yang oleh banyak pemikir disebut sebagai “kekuatan non-material” dalam perang.

Jika kita tarik garis paralel ke masa kini, maka konflik Iran dengan Amerika-Israel dapat dibaca sebagai reaktualisasi dari pola lama tersebut. Iran, dalam narasinya, tidak sekadar mempertahankan wilayah atau kekuasaan, tetapi juga harga diri, kedaulatan, dan identitas. Nasionalisme Iran berpadu dengan spiritualitas, menciptakan daya tahan yang sulit dihancurkan oleh tekanan eksternal.

Sebaliknya, pendekatan materialistik sering kali melahirkan apa yang bisa disebut sebagai “arogansi kekuasaan.” Ketika teknologi dianggap sebagai penentu utama kemenangan, maka aspek-aspek non-material seperti moral, legitimasi, dan makna sering diabaikan. Padahal, justru di situlah medan perang yang paling menentukan berada.

Dalam masyarakat yang memiliki fondasi spiritual kuat, pengorbanan dipandang sebagai kehormatan. Kematian tidak dilihat sebagai akhir, tetapi sebagai transendensi. Senjata terampuh bagi masyarakat semacam ini adalah ketika kematian bukan lagi hal yang menakutkan tapi sebuah ke-syahid-an.

Dengan demikian, kemenangan dalam perang modern tidak bisa lagi diukur semata-mata dengan siapa yang memiliki jet tempur lebih banyak atau rudal lebih canggih. Kemenangan sejati adalah kemampuan untuk mempertahankan kehendak, menjaga moral, dan mempertahankan narasi yang diyakini benar oleh rakyatnya.

Konflik Iran versus Amerika-Israel, dalam perspektif ini, bukan hanya tentang siapa yang akan menang di medan tempur, tetapi siapa yang mampu bertahan lebih lama dalam medan makna. Karena pada akhirnya, sejarah tidak hanya mencatat siapa yang lebih kuat, tetapi siapa yang lebih teguh.

Dan jika sejarah adalah hakim terakhir, maka ia sering kali berpihak pada mereka yang memiliki alasan terdalam untuk bertahan.

Sungguminasa 30 Maret 2026