Sudah sekitar satu minggu ini pemandangan antrean kendaraan di sejumlah SPBU di Makassar terasa berbeda. Puncaknya dua hari terakhir ini. Kelangkaan BBM membuat orang rela menunggu berjam-jam. Antrean kendaraan bahkan mengular hingga satu-dua kilometer. Ada yang datang sejak pagi, bertahan di bawah terik matahari, bahkan ada yang memilih menginap di SPBU demi mendapatkan beberapa liter BBM untuk melanjutkan perjalanan. Sebuah fenomena yang sangat jarang terjadi di Sulsel. Uniknya antrean ini juga menggangu pengguna jalan yang lain akibat terjadi penumpukan kendaraan.
Kolega saya di Fakultas Dr. Saenal Abidin menurunkan tulisan di pagi ini (Jumat, 11 September 2026)
Saya tidak sedang ingin membicarakan siapa yang bertanggung jawab atas kelangkaan ini. Biarlah persoalan itu menjadi urusan mereka yang memiliki kewenangan untuk menjelaskan dan menyelesaikannya. Saya justru melihat antrean panjang tersebut dari sisi yang lain: sebagai sebuah pelajaran kehidupan.
Bayangkan, hanya demi beberapa liter BBM, manusia rela menghabiskan waktu berjam-jam. Panas, lelah, lapar, mengantuk, bahkan mungkin emosi harus ditahan karena kadang ada yang nyelonong tidak mau antri. Semua itu dilakukan karena kita sadar bahwa tanpa BBM, kendaraan tidak akan mampu membawa kita ke tempat tujuan.
Lalu, pernahkah kita berpikir tentang perjalanan yang jauh lebih panjang daripada perjalanan kendaraan kita?
Kita semua sedang menuju sebuah tempat yang tidak mungkin kita hindari yaitu akhirat.
Al-Qur’an mengingatkan bahwa setiap manusia akan datang menghadap Allah untuk mempertanggungjawabkan apa yang telah dikerjakannya. Dalam kehidupan setelah kematian, tidak ada lagi kekuasaan yang dapat dibanggakan, harta yang dapat diandalkan, jabatan yang dapat digunakan sebagai pelindung, atau koneksi yang bisa mempercepat urusan.
Di Padang Mahsyar, manusia menanti keputusan tentang dirinya. Dalam berbagai riwayat digambarkan betapa beratnya suasana ketika manusia dikumpulkan dan menunggu proses hisab. Manusia digambarkan seakan-akan berada di bawah terik dan sengatan panas matahari, sementara masing-masing sibuk dengan persoalannya sendiri.
Di dunia, kita resah ketika antrean BBM mencapai satu kilometer. Tetapi bagaimana jika antrean itu bukan untuk mendapatkan BBM, melainkan antrean menuju hisab amal?
Di SPBU, kita takut kehabisan BBM karena kendaraan akan berhenti di tengah jalan. Dalam kehidupan, kita sering lupa bahwa amal adalah bahan bakar perjalanan menuju akhirat. Kita sibuk mengisi tangki kendaraan, tetapi lupa mengisi bekal kehidupan.
Kita rela bangun dini hari demi mendapatkan antrean lebih awal. Tetapi berapa banyak di antara kita yang rela bangun dini hari untuk menunaikan tahajud?
Kita rela menunggu berjam-jam demi beberapa liter BBM. Tetapi mengapa terkadang kita begitu berat meluangkan beberapa menit untuk membaca Al-Qur’an, berzikir, bersedekah, meminta maaf, atau membantu orang lain?
Manusia begitu khawatir kendaraannya mogok di tengah perjalanan. Tetapi apakah mereka pernah khawatir amal tidak cukup ketika perjalanan kehidupan benar-benar berakhir?
Antrean BBM sesungguhnya sedang mengajarkan sesuatu yang sederhana, manusia selalu bersedia bersabar ketika merasa kebutuhannya penting.
Maka persoalannya bukan apakah kita mampu bersabar, tetapi untuk apa kesabaran itu kita gunakan?
Jangan sampai kita rela berjam-jam menunggu BBM, tetapi tidak sabar menunggu waktu salat. Jangan sampai kita takut kendaraan kehabisan bahan bakar, tetapi tidak takut hati kehabisan iman. Jangan sampai kita sibuk memastikan kendaraan siap melakukan perjalanan, sementara kita lupa menyiapkan diri untuk perjalanan terakhir.
Dan jika kelak kita benar-benar berada dalam sebuah antrean yang tidak ada seorang pun dapat meninggalkannya, antrean menuju pengadilan Allah, kita berdoa semoga kita bukan termasuk orang yang berkata, “Seandainya aku dahulu berbuat baik.”
Di dunia, kita masih bisa keluar dari antrean. Kita masih bisa mengisi tangki yang kosong. Kita masih bisa memperbaiki kendaraan yang rusak, tetapi ketika kematian datang, tidak ada lagi SPBU untuk mengisi ulang amal.
Karena itu, sebelum kendaraan kehidupan berhenti di batas usia, mari isi tangki jiwa dengan iman, ilmu, amal saleh, keikhlasan, dan kebaikan kepada sesama.
Sebab perjalanan yang sesungguhnya bukanlah perjalanan dari rumah menuju kantor, dari satu kota menuju kota lain, atau dari satu SPBU menuju SPBU berikutnya. Perjalanan yang sesungguhnya adalah perjalanan dari dunia menuju keabadian.
Sungguminasa, 11 September 2026