Ramadhan selalu menghadirkan suasana yang khas: siang hari dipenuhi kesabaran, sore dihiasi perburuan takjil, dan malam diterangi shalat tarawih. Namun di era modern, Ramadhan juga sering beririsan dengan dunia hiburan, termasuk sepak bola. Pertanyaannya: bagaimana kita memaknai sepak bola dan hiburan di tengah kesakralan Ramadhan, khususnya ketika ia bersinggungan dengan shalat tarawih?
Menurut cendekiawan Muslim kontemporer seperti Yusuf al-Qaradawi, Islam tidak datang untuk mematikan fitrah manusia, termasuk kebutuhan akan hiburan. Islam justru mengarahkan agar hiburan tetap dalam koridor etika dan tidak melalaikan kewajiban. Ramadhan bukan bulan yang memusuhi kegembiraan, tetapi bulan yang mendidik pengendalian diri.
Dalam perspektif sosiologi agama, hiburan seperti sepak bola berfungsi sebagai katarsis sosial—ia mempererat solidaritas, membangun identitas kolektif, bahkan menjadi ruang silaturahim. Namun, ketika euforia pertandingan membuat seseorang meninggalkan shalat tarawih atau menunda ibadah, di situlah keseimbangan mulai goyah.
Sepak bola pada dasarnya adalah olahraga yang menyehatkan dan membangun sportivitas.
Banyak ulama menilai olahraga sebagai aktivitas yang dianjurkan selama tidak melanggar syariat. Muhammad al-Ghazali pernah menekankan bahwa kekuatan fisik adalah bagian dari kesempurnaan Muslim, selama ia tidak melalaikan tanggung jawab spiritual.
Masalahnya bukan pada sepak bolanya, melainkan pada sikap berlebihan: begadang tanpa batas, emosi yang meluap, bahkan pertengkaran hanya karena beda klub. Ramadhan mengajarkan imsak—menahan diri. Maka menahan diri dari fanatisme berlebihan juga bagian dari puasa.
Menyaksikan pertandingan setelah tarawih bisa menjadi hiburan yang wajar. Namun jika jadwal pertandingan membuat tarawih ditinggalkan atau dilakukan dengan tergesa-gesa, maka prioritas perlu ditata ulang. Dalam kaidah fikih disebutkan, “Mendahulukan yang wajib atas yang mubah.” Hiburan hukumnya mubah, sementara shalat adalah kewajiban (untuk yang fardhu) dan tarawih adalah sunnah muakkadah yang sangat dianjurkan di bulan Ramadhan.
Shalat tarawih bukan sekadar rutinitas malam, tetapi ruang perenungan. Dalam sejarah, pada masa Umar bin Khattab, tarawih dikerjakan berjamaah secara teratur sebagai bentuk syiar dan kebersamaan umat. Tarawih melatih ketekunan, kesabaran berdiri, dan kekhusyukan. Ia juga menjadi momen keluarga berkumpul di masjid. Jika Ramadhan dihabiskan dengan layar televisi atau gawai, sementara masjid menjadi sepi, ada sesuatu yang perlu direnungkan.
Banyak ulama menegaskan bahwa segala sesuatu kembali pada niat dan proporsi. Jika sepak bola menjadi sarana silaturahim, menghibur diri setelah ibadah, dan tidak melalaikan kewajiban, maka ia tetap dalam batas yang dibolehkan. Namun bila ia melahirkan kelalaian, pertengkaran, atau mengganggu kekhusyukan Ramadhan, maka ruh puasa menjadi berkurang.
Prinsip wasathiyah (moderasi) menjadi kunci: Ramadhan bukan bulan anti-hiburan, tetapi bulan pengendalian hiburan.
Dikisahkan seorang murid bertanya kepada gurunya, seorang sufi sederhana, “Guru, apakah salah jika aku lebih bersemangat menonton pertandingan daripada pergi tarawih?”. Sang guru tersenyum dan berkata, “Anakku, tidak ada yang salah dengan bola. Yang perlu kau tanyakan adalah: siapa yang lebih sering kau panggil namanya? Nama klubmu atau nama Tuhanmu?”. Sang Murid terdiam.
Sang guru melanjutkan, “Jika hatimu bergetar ketika gol tercipta, tetapi tidak bergetar ketika ayat dibacakan, maka bukan bolanya yang bermasalah. Hatimu yang sedang meminta dilatih.” Kisah ini mengajarkan bahwa persoalannya bukan pada hiburan, tetapi pada pusat kecintaan kita.
Ramadhan adalah madrasah pengendalian diri. Sepak bola dan hiburan bisa tetap hadir sebagai warna kehidupan, tetapi bukan sebagai pusatnya. Tarawih, tilawah, sedekah, dan doa tetap menjadi poros utama.
Seorang Muslim ideal bukan yang menolak dunia, tetapi yang mampu menempatkan dunia di tangannya, bukan di hatinya. Mungkin kita masih menonton pertandingan. Mungkin kita tetap bersorak. Tetapi setelah itu, kita kembali berdiri dalam tarawih, menundukkan kepala, dan mengakui: hanya kepada-Nya kita kembali.
Di situlah Ramadhan menemukan maknanya, bukan pada seberapa banyak hiburan yang kita nikmati, tetapi pada seberapa bijak kita mengendalikannya.
Allah A’lamMakassar, 03 Maret, 2026(*)
Alat AksesVisi