Ada kabar yang patut disambut dengan optimisme di tengah situasi literasi Indonesia yang belum sepenuhnya menggembirakan.
Ketika Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) menghadapi pemangkasan anggaran yang cukup signifikan pada 2026.
Muncul langkah dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) yang justru memberi harapan baru, distribusi jutaan buku bacaan bermutu ke sekolah dan rencana pembukaan rekrutmen pustakawan melalui formasi aparatur sipil negara pada 2027.
Kontras ini menarik untuk dicermati. Di satu sisi, anggaran Perpusnas pada 2026 turun menjadi sekitar Rp377,9 miliar dari sekitar Rp721 miliar pada 2025. Pemangkasan tersebut berdampak terhadap sejumlah program literasi, termasuk distribusi buku ke berbagai wilayah.
Di sisi lain, Kemendikdasmen justru memperlihatkan keberpihakan yang lebih kuat terhadap penguatan ekosistem literasi sekolah melalui penyediaan buku bacaan bermutu dalam jumlah besar.
Pada 31 Juli 2026, lebih dari 5,5 juta eksemplar buku bacaan bermutu yang akan didistribusikan ke 18.444 SD dan 6.165 SMP di 510 kabupaten/kota pada 38 provinsi.
Kemendikdasmen menyebut hingga 2026 telah mendistribusikan lebih dari 42 juta eksemplar buku bacaan bermutu kepada anak-anak Indonesia.
Yang lebih penting, program tersebut bukan sekadar membagikan buku. Kajian Pusat Standar Kebijakan Pendidikan (PSKP) tahun 2025 menunjukkan sekolah penerima bantuan buku mengalami peningkatan capaian literasi yang lebih baik dibandingkan sekolah pembanding.
Buku merupakan bahan bakar utama dalam ekosistem literasi. Namun, menghadirkan buku saja tidak cukup.
Di titik inilah kabar mengenai rencana rekrutmen pustakawan untuk sekolah menjadi sangat penting.
Selama ini, perpustakaan sekolah di banyak tempat masih menghadapi persoalan klasik: ruang perpustakaan tersedia, koleksi mulai bertambah, tetapi belum selalu didukung tenaga pustakawan yang memadai.
Tidak sedikit perpustakaan sekolah yang pengelolaannya dirangkap oleh guru atau tenaga kependidikan lain.