Ramadhan kini hampir sampai di penghujungnya. Ia bagaikan sebuah kapal yang telah berlayar selama sebulan penuh di samudra kehidupan. Sejak awal bulan, kapal itu berangkat membawa harapan: harapan akan ampunan, perubahan diri, dan kedekatan dengan Allah SWT. Kini kapal itu hampir sampai di dermaga. Pertanyaannya: apakah kapal itu akan sandar dengan tenang, atau justru terbawa arus gelombang yang membuatnya menjauh dari pelabuhan keberkahan?
Dalam ilmu kehidupan, para pakar sering mengingatkan bahwa fase terakhir dari sebuah proses adalah fase yang paling menentukan. Seorang pakar manajemen, Stephen R. Covey, pernah menekankan pentingnya “begin with the end in mind.” Artinya, keberhasilan sebuah perjalanan sangat ditentukan oleh bagaimana kita menutupnya dengan kesadaran dan tujuan yang jelas.
Dalam konteks Ramadhan, akhir bulan ini menjadi momen evaluasi: apakah kita sudah mengarahkan kapal kehidupan menuju dermaga ketakwaan?
Para ulama juga memberi perhatian besar pada hari-hari terakhir Ramadhan. Imam Al-Ghazali menulis bahwa nilai amal seseorang seringkali terlihat pada penutupnya (khawatim al-a‘mal).
Karena itu, beliau mengingatkan agar seorang mukmin meningkatkan ibadah menjelang akhir Ramadhan—memperbanyak doa, istighfar, sedekah, dan menjaga hati—agar perjalanan spiritual selama sebulan tidak sia-sia.
Agar kapal Ramadhan benar-benar sandar dengan baik di dermaga, setidaknya ada beberapa hal yang perlu dilakukan.
Pertama, mengevaluasi perjalanan. Seorang nakhoda selalu memeriksa kapal sebelum merapat ke pelabuhan. Demikian pula kita perlu memeriksa kembali ibadah kita: shalat, puasa, tilawah Al-Qur’an, dan hubungan dengan sesama manusia.
Kedua, menjaga arah kemudi. Gelombang godaan sering kali datang justru di akhir Ramadhan—rasa lelah, kesibukan dunia, atau euforia menyambut hari raya. Jika kemudi tidak dijaga, kapal bisa terbawa arus menjauh dari dermaga keberkahan.
Ketiga, memperkuat jangkar keikhlasan. Amal yang dilakukan bukan sekadar rutinitas, tetapi benar-benar diniatkan karena Allah SWT.
Dalam tradisi sufisme terdapat kisah menarik tentang Rabi'ah al-Adawiyah. Suatu ketika menjelang akhir Ramadhan, seseorang bertanya kepadanya, “Apakah engkau bergembira karena Ramadhan hampir berakhir?” Rabi’ah menjawab dengan lembut, “Bagaimana aku bisa bergembira berpisah dengan tamu yang membawa rahmat dan ampunan?” Baginya, akhir Ramadhan bukan sekadar penutup, tetapi momen harapan agar seluruh amal diterima oleh Allah.
Kisah ini mengingatkan bahwa ketika kapal Ramadhan hampir sandar, yang terpenting bukan hanya perjalanan yang telah dilalui, tetapi apakah kita benar-benar tiba di dermaga yang benar—dermaga ketakwaan dan perubahan diri.
Kini Ramadhan hampir berlabuh. Kapal sudah mendekati pelabuhan. Angin mungkin masih berhembus, gelombang mungkin masih berguncang. Namun kemudi masih ada di tangan kita.
Pertanyaan untuk kita renungkan; Ketika kapal Ramadhan benar-benar sandar nanti, apakah kita turun sebagai pribadi yang lebih bertakwa, atau justru sebagai penumpang yang kembali sama seperti saat berangkat dahulu?
Allah A'lamMakassar, 14 Maret 2026
Alat AksesVisi