Gambar ANENSEFALI

Hari ini cukup melelahkan. 

Aku adalah perempuan jelita (jelang lima puluh tahun ), yang sudah mulai terjadi perubahan hormon sehingga membuat suasana hati ikut berubah. Dalam bahasa Makassar, mungkin disebut koro-koroang.

Sore itu aku memulai praktik di klinik tempat aku bertugas, wirahusada medical centre. 

Masuk seorang pasien bersama suaminya. Mereka berasal dari luar kota Makassar, menempuh perjalanan yang cukup jauh.

“Dok, saya mau USG 4 dimensi,” katanya tersenyum.

“Baik, Bu. Semoga dede bayinya mau menunjukkan wajah dan gender-nya,” jawabku sambil membalas tersenyum.

Aku mulai melakukan pemeriksaan.

Usia kehamilannya sekitar tujuh bulan.

Jantung bayi masih berdetak. Tubuh mungilnya bergerak. Tangan dan kakinya tampak aktif.

Aku mencoba mencari wajahnya. Lalu mencari kepala bayi.

Aku ulangi pemeriksaan hingga beberapa kali.

Dari satu bidang ke bidang lainnya.

Tetap sama.

Tidak tampak pembentukan tulang tengkorak dan sebagian besar struktur otak sebagaimana mestinya.

Aku ttidak menemukan gambaran kepala bayi.

Anensefali, batinku berbisik.

Anensefali adalah salah satu kelainan bawaan, neural tube defect, yaitu kelainan yang terjadi sangat awal dalam kehidupan embrio, ketika tabung saraf yang kelak membentuk otak dan tulang belakang seharusnya menutup. Pada anensefali, bagian atas tabung saraf tidak menutup sempurna sehingga sebagian besar otak dan tulang tengkorak tidak berkembang. Kelainan ini sebenarnya terjadi pada minggu-minggu pertama kehamilan, bahkan sering kali sebelum seorang ibu menyadari bahwa dirinya sedang hamil.

Kejadiannya jarang. WHO melaporkan prevalensi anensefali sangat bervariasi di berbagai negara, sekitar 0,8 hingga 16 per 10.000 kelahiran.

Penyebabnya pun tidak sesederhana yang sering kita bayangkan.

Ada faktor genetik dan lingkungan yang mungkin berperan. Risiko dapat meningkat pada keadaan kekurangan folat, diabetes sebelum kehamilan yang tidak terkontrol, obesitas, demam atau hipertermia pada awal kehamilan, serta penggunaan obat-obatan tertentu seperti beberapa obat antikejang. Namun, pada banyak kasus, penyebab pastinya tetap tidak diketahui.

Yang paling menyedihkan, prognosisnya sangat buruk.

Hampir semua bayi dengan anensefali meninggal tidak lama setelah dilahirkan. Tidak ada terapi yang dapat memperbaiki kelainan otak dan tengkorak yang sudah terbentuk.

Aku menatap layar monitor. 

Beberapa menit sebelumnya aku merasa lelah dan kurang bahagia...

Tetapi sekarang, di hadapanku ada seorang ibu yang sedang membawa bayi di kandungannya,  yang ia sadari tidak dapat menikmati hari hari indah bersamanya

Tiba-tiba rasa lelahku terasa begitu kecil.

Aku membayangkan perjalanan mereka dari luar kota.

Mereka datang dengan satu harapan sederhana, yaitu...

Ingin melihat wajah anak mereka.

Ingin tahu laki-laki atau perempuan.

Ingin membawa pulang sebuah foto USG untuk disimpan sebagai kenangan.

Tetapi hari itu, layar USG justru memperlihatkan sesuatu yang tidak pernah mereka bayangkan.

Aku belajar satu hal lagi sebagai seorang dokter.

Tidak semua yang kita lihat di layar monitor bisa kita perbaiki.

Ada saatnya ilmu kedokteran hanya mampu menjelaskan apa yang terjadi, mendampingi, mengurangi penderitaan, dan membantu keluarga menerima kenyataan.

Selebihnya, ada wilayah yang hanya bisa kita serahkan kepada Tuhan.

Dan hari itu aku kembali diingatkan tentang syukur.

Sering kali kita baru menyadari betapa mahalnya kesehatan ketika kesehatan itu hilang... 

Kita baru memahami betapa berharganya seorang anak ketika melihat seorang ibu harus bersiap kehilangan anak yang bahkan belum sempat dipeluknya.

Kita menganggap detak jantung bayi sebagai sesuatu yang biasa.

Padahal bagi sebagian orang, mendengar detak itu adalah mukjizat yang mereka tunggu bertahun-tahun.

Kita menganggap anak yang pulang ke rumah, berlari, menangis, membuat rumah berantakan, dan memanggil “Mama…” sebagai rutinitas.

Padahal mungkin ada ibu lain yang rela memberikan apa saja hanya untuk mendengar suara itu sekali lagi.

Hari itu aku datang ke ruang praktik dengan hati yang kurang baik.

Tetapi Tuhan mempertemukanku dengan seorang ibu yang  mengajarkanku tentang syukur.

Bahwa nikmat bukan hanya sesuatu yang besar.

Bernapas tanpa kesulitan adalah nikmat.

Tubuh yang sehat adalah nikmat.

Anak yang sehat adalah nikmat.

Suami atau istri  yang mencintai kita adalah nikmat.

Orang tua yang masih bisa kita peluk adalah nikmat.

Bahkan kesempatan untuk merasa lelah karena bekerja pun sesungguhnya adalah nikmat.

Mungkin selama ini kita terlalu sibuk menghitung apa yang belum kita miliki, sampai lupa menghitung apa yang setiap hari Tuhan titipkan. 

"Sering kali kita baru belajar bersyukur setelah melihat sesuatu yang hilang dari kehidupan orang lain".