Setiap bulan Ramadan tiba, masjid mendadak naik kasta menjadi “restoran bintang akhirat”. Karpet yang biasanya sepi tiba-tiba penuh oleh jamaah musiman yang datang dengan niat suci, atau setidaknya niat yang dibungkus plastik kresek. Adzan Maghrib belum terdengar, tapi barisan sudah terbentuk rapi seperti antrean diskon besar di pusat perbelanjaan.
Ada golongan “Datang 5 Menit Sebelum Maghrib”. Mereka punya kemampuan teleportasi spiritual: tak pernah terlihat saat salat Subuh, Zuhur, atau Asar, tapi menjelma persis ketika takjil mulai ditata. Mereka duduk paling depan, wajahnya teduh, seolah sejak tadi khusyuk berzikir, padahal napasnya masih terengah-engah habis parkir motor.
Lalu ada tipe “Pengamat Menu Profesional”. Tatapannya tajam, menyapu meja takjil seperti juri lomba memasak. Kurma dihitung, kolak diukur volumenya, gorengan diprediksi teksturnya. Kalau hari itu hanya ada air putih dan kurma tiga butir, wajahnya berubah seperti investor gagal panen saham.
Tipe berikutnya adalah “Ahli Bungkus Syariah”. Mereka membawa tas yang ukurannya sedikit lebih besar dari kebutuhan wajar manusia berbuka. Sambil tersenyum santun, satu kurma masuk mulut, tiga kurma masuk kantong. Prinsipnya sederhana: berbuka di masjid adalah hak, membawa pulang adalah strategi.
Ada juga golongan “Selfie Ramadan”. Begitu takjil tersaji, ponsel lebih dulu berbuka. Jepret kolak, foto siluet masjid, unggah dengan caption penuh makna. Jika saja pahala bisa dihitung dari jumlah likes, mungkin mereka sudah masuk kategori wali digital.
Jangan lupakan tipe “Spesialis Duduk Dekat Meja”. Mereka memilih posisi strategis, bukan karena ingin mendengar ceramah, tapi karena radius jangkauan tangan terhadap piring saji. Ketika aba-aba berbuka terdengar, gerakannya cepat dan presisi, seperti atlet olimpiade cabang angkat gorengan.
Ada pula “Orang yang Selalu Tanya: Ini Gratis, Kan?” Pertanyaan itu diucapkan dengan nada polos, seolah-olah khawatir tiba-tiba muncul kasir dari balik mimbar. Setelah diyakinkan gratis, barulah ia makan dengan ketenangan hakiki.
Golongan berikutnya adalah “Pencicip Duluan”. Mereka beralasan kadar gula darah kritis, padahal adzan tinggal 30 detik. Satu teguk sirup sebelum waktunya dianggap sebagai uji laboratorium, bukan pelanggaran protokol Ramadan.
Ada tipe “Kritikus Takjil”. Setelah makan gratis, ia memberi ulasan panjang: kolaknya kurang santan, gorengannya agak dingin, kurmanya terlalu manis. Masjid mendadak seperti restoran yang perlu menerima rating bintang lima dari pelanggan anonim.
Tak ketinggalan “Sahabat Panitia Musiman”. Mereka tiba-tiba akrab dengan panitia saat Ramadan saja. Membantu sebentar mengangkat dos air mineral, lalu duduk paling depan ketika pembagian takjil dimulai. Solidaritasnya aktif musiman, seperti diskon akhir tahun.
Ada juga “Bawa Rombongan Tanpa Konfirmasi”. Datang satu orang, pulang satu keluarga besar. Sepupu, keponakan, bahkan tetangga kos ikut serta. Meja takjil yang tadinya cukup untuk satu saf, mendadak terasa seperti konsumsi hajatan.
Tipe lainnya adalah “Langsung Cabut pergi Setelah Berbuka/Makan”. Begitu tegukan terakhir masuk, sepatu sudah terpasang. Salat Maghrib? Itu urusan nanti. Yang penting target utama tercapai dengan sukses dan tanpa hambatan.
Di sudut lain, ada “Pencari Spot AC dan Karpet Empuk”. Baginya, buka puasa di masjid adalah paket lengkap: makanan gratis plus pendingin ruangan. Jika masjid terlalu panas, keikhlasannya pun sedikit menguap.
Meski begitu, di balik semua kejenakaan itu, terselip ironi yang manis. Masjid tetap membuka pintu selebar-lebarnya. Tak ada kartu member, tak ada daftar tunggu VIP. Semua disambut, entah niatnya murni ibadah atau sekadar ingin kolak pisang.
Akhirnya, Ramadan memang selalu menghadirkan dua hal: pahala dan cerita lucu. Di antara kurma yang berpindah tangan dan gorengan yang hilang misterius, ada cermin kecil tentang diri kita. Siapa tahu, di tengah tawa itu, kita pelan-pelan belajar bahwa berbuka bukan hanya soal kenyang, tapi juga soal menata niat, meski kadang niat itu sempat tergoda oleh bakwan hangat.
(*)
Alat AksesVisi