Gambar “Ahlan wa Sahlan” dan “Marhaban”

“Ahlan wa Sahlan”dan“Marhaban”. Keduanya sama-sama diterjemahkan sebagai “selamat datang”. Namun sebenarnya, para ulama bahasa Arab  menjelaskan bahwa makna keduanya tidak sepenuhnya sama. Masing-masing memiliki nuansa makna yang berbeda dan sangat indah. 

Ungkapan أَهْلًا وَسَهْلًا  secara bahasa terdiri dari dua kata: Ahlan berasal dari kata ahl (keluarga), Sahlan berasal dari kata sahl (mudah, datar, tidak sulit).

Menurut ulama bahasa Arab klasik seperti Ibnu Faris dalam Maqayis al-Lughah, kata ahl menunjukkan makna kedekatan, keakraban, dan hubungan kekeluargaan. Sehingga makna lengkapnya bukan sekadar “selamat datang”, tetapi: “Kedatanganmu kami terima seperti keluarga, dan urusanmu kami permudah.”

Imam An-Nawawi ketika menjelaskan adab memuliakan tamu dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa di antara bentuk ikramud dhaif  adalah memperlihatkan rasa senang, wajah cerah, dan ucapan yang menenangkan hati tamu. Ungkapan Ahlan wa Sahlan termasuk dalam kategori ini.

Ungkapan مَرْحَبًا berasal dari kata rahb atau rahbah, yang berarti luas, lapang, lega.

Disebutkan oleh ahli bahasa seperti Ar-Raghib Al-Ashfahani dalam Mufradat Alfazhil Qur’an, kata ini mengandung makna kelapangan hati dan keluasan tempat. Sehingga makna “Marhaban” adalah “Kami menyambutmu dengan hati yang lapang dan penuh kegembiraan.”

Karena itu para ulama menjelaskan jika Ahlan wa Sahlan menunjukkan penerimaan hubungan, maka Marhaban menunjukkan kebahagiaan dan penghormatan.

Ungkapan Marhaban justru banyak dipakai langsung oleh Rasulullah ﷺ. Dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim, ketika Nabi menerima delegasi Abdul Qais, beliau bersabda: مَرْحَبًا بِالْقَوْمِ غَيْرَ خَزَايَا وَلَا نَدَامَى
“Selamat datang wahai kaum, datang tanpa kehinaan dan tanpa penyesalan.”

Para ulama hadits seperti Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa ucapan ini merupakan dalil dianjurkannya menyambut tamu dengan kalimat penghormatan dan kegembiraan.

Karena itu pula para ulama sering mengucapkan:
“Marhaban ya Ramadhan” bukan sekadar tradisi, tetapi meneladani sikap Nabi ﷺ dalam menyambut tamu agung.

Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Lathaiful Ma’arif, menjelaskan bahwa Ramadhan diperlakukan seperti tamu mulia. Maka digunakan kata Marhaban karena mengandung; penghormatan, kegembiraan, kelapangan hati, kesiapan menerima keberkahan. Artinya seorang mukmin tidak sekadar “menerima” Ramadhan, tetapi bahagia atas kedatangannya.

Makassar, 18 Februari 2026