Gambar Agustus Bertemu Rabiul Awwal: Merdeka di Tanah, Terjajah di Jiwa?

(Dari Proklamasi Kemerdekaan Menuju Kemerdekaan Sejati)

Agustus dan Rabiul Awwal memang lahir dari sejarah yang berbeda, tetapi keduanya menyimpan spirit yang sama: perubahan, pembebasan, pengorbanan, persatuan, keteladanan, dan pembangunan peradaban. Agustus mengingatkan bangsa Indonesia pada Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, pengesahan UUD 1945 serta pengangkatan Soekarno-Hatta pada 18 Agustus 1945. Sementara Rabiul Awwal mengingatkan umat Islam pada kelahiran Rasulullah SAW, perjalanan hijrah menuju Madinah, serta lahirnya fondasi masyarakat Islam yang dibangun di atas iman, persaudaraan, ilmu dan keadilan.

Agustus mengajarkan bangsa untuk membebaskan diri dari penjajahan, sedangkan Rabiul Awwal mengajarkan manusia untuk melakukan hijrah, dari kejahiliahan menuju peradaban, dari kezaliman menuju keadilan, dari perpecahan menuju persaudaraan, dan dari kebodohan menuju ilmu. Karena itu, kedua momentum tersebut tidak seharusnya berhenti sebagai peristiwa sejarah atau seremoni tahunan, tetapi harus menjadi energi untuk melakukan perubahan dan memperbaiki masa depan.

Kemerdekaan politik belum tentu berarti kemerdekaan jiwa. Al-Qur’an mengingatkan tentang manusia yang menjadikan hawa nafsunya sebagai “tuhan” (QS. Al-Furqan: 43), sementara setan berusaha menyesatkan manusia dari berbagai arah (QS. Al-A’raf: 17). Karena itu, seseorang dapat hidup di negeri yang merdeka, tetapi jiwanya tetap terjajah, diperbudak ambisi, keserakahan, kekuasaan, popularitas, kepentingan pribadi dan ketakutan kehilangan dunia.

Penjajahan modern pun tidak selalu datang dengan senjata. Ia dapat hadir melalui korupsi, manipulasi, penyalahgunaan jabatan, permainan hukum, penyebaran hoaks, kebijakan yang tidak adil, pemborosan sumber daya, eksploitasi penderitaan rakyat, maupun perebutan kekuasaan dengan cara-cara curang. Penjajah sejati bukan ditentukan oleh pakaian atau jabatan, melainkan oleh cara memperlakukan manusia. Ketika kekuasaan digunakan untuk melayani rakyat, ia menjadi amanah. Tetapi ketika rakyat dipaksa melayani kepentingan kekuasaan, di situlah kekuasaan mulai kehilangan ruh kemerdekaannya.

Rasulullah saw juga mengingatkan umat tentang penyakit al-wahn, yaitu cinta dunia dan takut mati. Ketika cinta dunia mengalahkan kebenaran, manusia mudah dibeli. Ketika ketakutan kehilangan jabatan mengalahkan keberanian membela keadilan, amanah mudah dijual. Ketika kepentingan pribadi mengalahkan kepentingan umat dan bangsa, persatuan menjadi rapuh. Karena itu, umat jangan sampai menjadi seperti “hidangan yang diperebutkan”, kehilangan kekuatan moral, keberanian dan persatuan. Kemerdekaan sejati adalah ketika manusia tidak lagi diperbudak hawa nafsu dan keserakahan, tetapi tunduk kepada Allah dan berpihak kepada kebenaran.

Semangat Agustus dan Rabiul Awwal perlu diterjemahkan menjadi agenda perubahan melalui lima langkah: restorasi, mengembalikan kehidupan bangsa kepada nilai agama, Pancasila, konstitusi, keadilan dan kemanusiaan; resonansi, menjadikan kebaikan, kejujuran dan kepedulian bergema dari keluarga hingga kehidupan berbangsa, resolusi, menyelesaikan persoalan nyata seperti korupsi, kemiskinan, kebodohan, pengangguran, ketimpangan dan konflik sosial; revolusi, melakukan perubahan mental, moral, intelektual, spiritual dan tata kelola secara damai, konstitusional dan berkeadaban; serta rekognisi, menghargai jasa para pahlawan, menerima kritik, mengakui kesalahan dan menghormati mereka yang berjuang untuk kemaslahatan bangsa.

Kemerdekaan juga bukan berarti bebas tanpa batas. Mengkritik pemerintah bukan berarti membenci negara, dan mengawal kekuasaan bukan berarti makar. Kritik yang objektif, berbasis data, santun dan konstitusional justru merupakan bentuk kecintaan kepada bangsa. Sebaliknya, kebebasan tidak boleh berubah menjadi anarki, kebencian, kekerasan, ekstremisme, radikalisme maupun terorisme. Ketika bencana datang, kita hadir; ketika kemiskinan terjadi, kita peduli; ketika kebodohan mengancam, kita mendidik; ketika hoaks beredar, kita melakukan tabayyun; ketika ketidakadilan terjadi, kita bersuara; dan ketika pemerintah berada di jalan yang benar, kita mendukungnya. Inilah kemerdekaan yang berkeadaban.

Agustus akhirnya bertanya: apa yang telah kita lakukan terhadap kemerdekaan yang diwariskan para pahlawan? Rabiul Awwal pun bertanya: apa yang telah kita lakukan terhadap keteladanan Rasulullah SAW? Sebab, kemerdekaan tanpa perubahan hanyalah perayaan, dan kecintaan kepada Rasulullah tanpa akhlak hanyalah pengakuan.

Maka, mari ubah kemerdekaan menjadi tanggung jawab, kekuasaan menjadi amanah, ilmu menjadi solusi, kritik menjadi perbaikan, perbedaan menjadi kekuatan, dan persaudaraan menjadi energi pembangunan. Jangan hanya menjadi bangsa yang pernah merdeka, tetapi jadilah bangsa yang terus memperjuangkan kemerdekaan dari segala bentuk penjajahan. Jangan pula hanya memperingati kelahiran Rasulullah SAW, tetapi jadikan spirit beliau sebagai momentum melahirkan manusia-manusia yang jujur, amanah, berilmu, berakhlak, peduli dan bermanfaat.

Sebab, kemerdekaan tertinggi bukan sekadar ketika penjajah pergi dari tanah air, tetapi ketika hawa nafsu tidak lagi menjadi tuan, setan tidak menjadi penunjuk jalan, kekuasaan tidak menjadi alat penindasan, dan manusia kembali tunduk hanya kepada Allah SWT.

Itulah kemerdekaan yang sesungguhnya.

Itulah kemenangan  yang sesungguhnya.

MK