Gambar 9 Rabi’ul Awwal - Abu Jahal; Kebodohan yang Menumpang pada Kehormatan

Ada satu surah yang paling akrab di telinga kita. Bahkan mungkin termasuk yang pertama kita hafal ketika belajar membaca Al-Qur’an: Surah al-‘Alaq. Iqra’ bismi rabbikalladzi khalaq. Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Kita sering berhenti pada ayat itu. Pada perintah membaca. Pada pena. Pada ilmu. Pada permulaan turunnya wahyu. Tetapi di bagian akhir surah yang sama, tiba-tiba kita berhadapan dengan sebuah adegan yang keras. Ada seseorang yang melarang seorang hamba Allah melakukan salat. Ara’aitalladzī yanhā. ‘Abdan idza shalla. “Tidakkah engkau memperhatikan orang yang melarang seorang hamba ketika ia melaksanakan salat?” Siapakah orang itu? Ia adalah Abu Jahal.

Di sini Surah al-‘Alaq seperti membuka pintu lain. Wahyu yang dimulai dengan Iqra’ ternyata tidak hanya berbicara tentang ilmu dan membaca. Ia juga berbicara tentang manusia, yang karena merasa memiliki kuasa, mencoba menghentikan manusia lain untuk bersujud. Dan di antara dua gerakan itu, membaca dan bersujud. kita menemukan sesuatu yang sangat penting tentang manusia.

Abu Jahal bukan orang bodoh dalam pengertian sederhana. Namanya adalah ‘Amr ibn Hisyam. Ia seorang tokoh Quraisy dari Bani Makhzum. Ia mempunyai kedudukan, pengaruh, kehormatan, kecerdasan, dan kemampuan berbicara. Tetapi sejarah memberinya nama yang jauh lebih terkenal daripada nama kelahirannya: Abu Jahl; Bapak Kebodohan. Mengapa seorang yang cakap disebut bodoh? Mungkin karena kebodohan yang paling berbahaya bukanlah tidak mengetahui, melainkan menolak kebenaran setelah mengetahuinya.

Abu Jahal mengetahui siapa Muhammad. Ia hidup di tengah masyarakat yang mengenal Muhammad sebagai al-Amin, orang yang terpercaya. Ia mengetahui kejujuran dan integritasnya. Namun ketika Muhammad saw. datang membawa risalah yang mengguncang tatanan Quraisy, pengetahuan itu tidak membuatnya tunduk. Sebaliknya, ia membuat pengetahuannya menjadi benteng kesombongan. Dan ia memaksa dan melarang Nabi saw untuk shalat. Lalu Al-Qur’an berkata: Sekali-kali tidak! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup.”

Kalimat itu sesungguhnya tidak hanya sedang berbicara tentang Abu Jahal. Ia sedang membicarakan suatu penyakit manusia. Manusia melampaui batas ketika ia merasa tidak membutuhkan siapa pun. Di sinilah Abu Jahal menjadi menarik bagi kita hari ini. Abu Jahal, bukan hanya nama seseorang yang hidup empat belas abad lalu. Ia adalah sebuah karakter. Ia muncul ketika seseorang lebih sibuk menjaga wibawa daripada mencari kebenaran. Ia muncul ketika seseorang menolak sebuah gagasan bukan karena gagasan itu salah, tetapi karena datang dari orang yang tidak ia sukai. Ia muncul ketika jabatan membuat seseorang merasa tidak mungkin keliru. Ia muncul ketika pengetahuan berubah menjadi alat untuk merendahkan orang lain. Dan ia muncul, diam-diam, di dalam diri kita sendiri ketika ego berkata: Aku lebih hebat.

Menariknya, Al-Qur’an tidak menyebut nama Abu Jahal secara eksplisit dalam surah ini. Berbeda dengan Abu Lahab yang disebut langsung dalam Surah al-Masad. Al-Qur’an memang menyebut Abu Jahal di tempat lain dengan sebutan “orang yang melarang” dalam konteks Surah al-‘Alaq, tetapi tidak menyebut nama pribadinya. Mengapa? Yang hendak ditunjukkan Al-Qur’an bukan hanya siapa orangnya, melainkan apa sifatnya. Sebab jika namanya disebut secara terang, kita mungkin dengan mudah menempatkannya sebagai tokoh masa lalu. Tetapi ketika yang disebut adalah “orang yang melarang”, pertanyaannya menjadi lebih dekat: Jangan-jangan, orang itu masih hidup? Bukan tubuhnya. Tetapi wataknya. Dalam orang yang merasa dirinya begitu besar sehingga kebenaran harus meminta izin kepadanya. 

Namun lihatlah bagaimana Nabi menghadapi manusia seperti itu. Beliau saw., tidak menjadi seperti Abu Jahal. Tidak membalas kesombongan dengan kesombongan. Tidak menjadikan dakwah sebagai pertandingan untuk mempermalukan lawan. Nabi tetap membaca, tetap menyeru, tetap bersujud. Dan Al-Qur’an memberikan kalimat yang sangat pendek tetapi sangat dalam: “Kalla, la tuthi‘hu wasjud waqtarib.” “Sekali-kali jangan! Janganlah engkau menaatinya. Bersujudlah dan dekatkanlah dirimu.”

Abu Jahal ingin menghalangi Nabi dari sujud. Allah justru memerintahkan Nabi untuk semakin bersujud. Seolah-olah wahyu sedang mengatakan: jangan biarkan kesombongan orang lain menentukan posisi tubuh dan hatimu. Jika seseorang ingin membuatmu tunduk kepada manusia, tunduklah kepada Allah. Jika seseorang ingin menghentikan langkahmu menuju Tuhan, jangan berdebat terlalu lama. Bersujudlah. Sebab mungkin, pada akhirnya, cara terbaik menghadapi Abu Jahal bukanlah dengan menjadi lebih keras daripada dirinya. Melainkan dengan tetap menjadi manusia yang tidak kehilangan arah kepada Tuhannya. Dan mungkin itulah sebabnya kisah Abu Jahal masih layak dibaca. Ia bukan hanya kisah tentang seorang lelaki Quraisy yang memusuhi Nabi. Ia adalah peringatan bahwa setiap zaman mempunyai Abu Jahal-nya sendiri. Setiap hati manusia juga mungkin menyimpan benihnya.

Karena itu, ketika kita membaca Iqra’ bismi rabbikalladzī khalaq, barangkali kita tidak hanya diperintahkan membaca buku, sejarah, dan dunia. Kita juga diminta membaca diri sendiri. Agar setelah membaca begitu banyak hal, kita tidak tumbuh menjadi manusia yang merasa paling tahu. Agar ilmu tidak membuat kita semakin tinggi hati. Agar pada akhirnya, setelah membaca, kita masih tahu bagaimana caranya bersujud. Allahumma Shalli ‘ala Sayyidina Muhammad, wa ‘alaa aalihi wa shahbihi ajma’in. ***

Salman Ahmad