Gambar 8 Rabi’ul Awwal – Ana Muhammad wa Ana Ahmad

Bulan Rabi’ulawwal kembali menggeser tirai waktu. Kita sebaiknya beringsut ke pinggir sejarah, pada sebuah nama yang telah menggeser garis cakrawala dunia: Muhammad saw. Tapi, sebelum riuh rendah selawat dan panggung-panggung perayaan menyita ingatan kita, ada baiknya kita merenung sejenak. Menatap dua kata yang berkelindan dalam satu riwayat dari Nabi Saw. انا محمد و انا احمد Aku Muhammad, dan aku Ahmad.

Dua nama, satu manusia. Bahasa, bagaimanapun, adalah rumah kearifan. Dan orang-orang tua kita dulu gemar mengeja teka-teki dari rahim kata untuk meraba kedalaman jiwa. Ahmad. Kata yang mengalir dari akar puji, menunjuk pada subjek yang aktif. Ia yang paling banyak memuji. Sebelum dunia mengenalnya sebagai sosok yang dielu-elukan, ia adalah seorang hamba yang menenggelamkan diri dalam kesunyian malam. Allah SWT mengabadikan nama agung ini melalui lisan Isa Al-Masih, sebagaimana terekam dalam Surah Ash-Shaff ayat 6:

“Dan (ingatlah) ketika Isa ibnu Maryam berkata: ‘Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad.’”

Keningnya akrab dengan debu gua Hira, malam-malamnya panjang oleh munajat, dan lidahnya basah oleh zikir kepada Yang Tak Terlihat. Ia memuji bukan karena menuntut balas, melainkan karena takjub pada keindahan semesta. Ia merindu dalam diam, jauh sebelum bumi menyambut tapak kakinya.

Lalu, ada Muhammad. Bentuk pasif. Yang paling banyak dipuji. Nama yang disebut dengan sangat terang dalam Al-Qur'an, antara lain melalui firman-Nya dalam Surah Al-Fath ayat 29:

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka...”

Sebuah nama yang menjadi buah dari kesabaran yang tak bertepi, dari tapak-tapak kaki yang sabar meniti jalan terjal di Makkah dan Madinah, dari kelembutan hati yang merangkul bahkan mereka yang mencaci-maki.

Dalam sebuah riwayat yang penuh getar itu, Baginda Nabi bertutur dalam sabdanya: “Ana Muhammad wa ana Ahmad” Aku adalah Muhammad dan Aku adalah Ahmad. Seakan-akan terdapat isyarat agung bahwa jalan kemuliaan manusia bukanlah dimulai dari keinginan untuk disorot, melainkan dari kesediaan untuk memuji.

Di sinilah letak ironi umatnya saat ini, manusia modern. Kita hari ini hidup di abad yang gaduh, di mana setiap orang ingin segera menjadi Muhammad tanpa pernah sudi merangkak menjadi Ahmad. Kita mendambakan tepuk tangan, menadah tangan di ruang-ruang digital menanti validasi, gelisah ketika kebaikan kecil kita lewat tanpa ucapan terima kasih. Kita ingin dipuji, dihormati, dan dikenang, tapi berat melipat lutut di atas sajadah dalam senyap. Kita ingin memetik buah kemuliaan, namun lari ketakutan dari akar keikhlasan yang harus ditanam di dalam gelap dan air mata.

Padahal, sejarah mencatat jalan yang lain. Baginda Nabi saw tidak pernah merangkak naik ke tampuk kemuliaan di atas ambisi kekuasaan. Ketika kemenangan demi kemenangan diraihnya, beliau tetaplah manusia yang menambal sandalnya sendiri, memerah susu di biliknya yang sederhana, dan duduk tanpa sekat dengan orang-orang miskin. Kemuliaan itu datang sendiri seperti bayangan yang mengikuti tubuhnya, karena hulunya telah selesai di hadapan Allah.

Maka, manakala bulan Maulid ini datang menyapa, ia bukan sekadar pengingat kalender. Ia adalah cermin retak tempat kita menatap wajah kita sendiri dengan rasa gamang. Di dalam dada kita, bukankah tersimpan sebuah rindu yang kerap salah arah? Kita merindukan Nabi, kita melantunkan namanya dengan suara bergetar, tetapi kita lupa mengikuti jalan yang telah ditempunya. Kita ingin syafaatnya, tetapi enggan meneladani akhlaknya. Padahal, rindu yang sejati bukanlah sekadar basah di bibir, melainkan rela terbakar dalam laku hidup yang sabar, lembut, dan rendah hati.

Sudahkah kita belajar menjadi Ahmad sebelum bernafsu menjadi Muhammad?
Sudahkah kita berbuat baik tanpa perlu dihitung oleh manusia?
Sudahkah kita belajar tenang ketika dilupakan orang, dan tetap tersenyum ketika kebaikan kita bertepuk sebelah tangan?

Sebab, pada akhirnya, rahasia hidup yang paling inti adalah ini: kemuliaan sejati tidak terletak pada seberapa banyak lidah manusia yang menyebut nama kita, melainkan pada seberapa tulus kita mengingat-Nya dalam keheningan malam. Dan di situlah rindu menemukan rumahnya yang paling murni, ketika kita belajar memuji Allah dalam kesunyian, sebelum menuntut dunia memuji kita. Hiduplah sebagai Ahmad di hadapan Allah, agar kita pantas berjalan sebagai umat Muhammad di hadapan kemuliaan teladannya. Allahumma Shalli ‘ala Sayyidina Muhammad, wa ‘alaa aalihi wa shahbihi ajma’in. ***

Salman Ahmad