Gambar 7 Rabi’ul Awwal - Di Padang Bani Sa‘d: Masa Kecil yang Membentuk Sang Nabi

Masa kanak-kanak sering dianggap terlalu kecil untuk diceritakan. Kita lebih tertarik pada saat seseorang menjadi besar: ketika ia mulai dikenal, memimpin, menghasilkan karya, atau mengubah sejarah. Padahal, manusia dewasa yang kita kenal hari ini dibentuk oleh tahun-tahun pertumbuhan yang nyaris tidak diperhatikan siapa pun.

Begitu pula dengan baginda Nabi saw. Sebelum namanya disebut dalam azan, shalawat, dan doa jutaan manusia, ia adalah seorang anak kecil, yang hidup jauh dari hiruk-pikuk Makkah. Ia berada di bawah asuhan Halimah as-Sa‘diyah, di tengah perkampungan Bani Sa‘d. Belum ada wahyu. Belum ada Gua Hira. Belum ada Madinah. Belum ada sejarah besar yang kita kenal. Hanya seorang anak. Tetapi Allah sedang menyiapkannya.

Sudah merupakan kebiasaan keluarga-keluarga Quraisy Pada masa itu, menyerahkan bayi kepada perempuan-perempuan pedalaman untuk disusui dan diasuh beberapa tahun. Pedalaman dipandang lebih sehat bagi pertumbuhan anak. Udara lebih bersih, kehidupan lebih dekat dengan alam, tubuh lebih banyak bergerak, dan bahasa Arab yang digunakan masyarakat pedalaman dikenal lebih fasih dan terjaga.

Makkah adalah kota. Bani Sa‘d adalah padang. Makkah mengajarkan manusia berhadapan dengan manusia. Padang mengajarkan manusia berhadapan dengan dirinya sendiri. Di sana, seorang anak belajar mengenal panas, dingin, lapar, haus, jarak, kesunyian, dan luasnya langit. Ia belajar bahwa kehidupan tidak selalu menyediakan apa yang kita inginkan. Bahwa sesuatu yang berharga kadang harus dicari dengan sabar. Bahwa manusia ternyata kecil di hadapan alam yang luas.

Seorang Anak kecil, tidak hanya dibentuk oleh apa yang dikatakan kepadanya. Ia dibentuk oleh apa yang dilihatnya, lingkungan yang dihuninya, kesulitan yang dialaminya, dan tanggung jawab yang perlahan dipikulnya. Banyak Pendidikan yang tidak pernah ditulis dalam buku. Pendidikan yang diberikan oleh kehidupan. Muhammad kecil mengalami semua itu. 

Ada pengalaman yang sangat menarik: di masa kanak-kanak itu. Beliau saw,. menggembala kambing. Bahkan beliaupun bersabda bahwa tidak ada seorang nabi pun kecuali pernah menggembala kambing. Para sahabat bertanya tentang beliau, lalu beliau menjawab bahwa dirinya juga pernah menggembalanya untuk penduduk Makkah.

Pekerjaan itu tampak sederhana. Seorang anak. Beberapa ekor kambing. Padang yang luas. Tidak ada panggung. Tidak ada tepuk tangan. Tetapi di sanalah mungkin sebuah kepemimpinan sedang dilatih secara diam-diam dan tanpa disadari.

Penggembala harus memperhatikan yang lemah. Ia harus mengetahui siapa yang tertinggal. Ia harus mencari yang tersesat. Ia tidak boleh meninggalkan yang lambat hanya karena yang lain sudah sampai. Ia harus sabar, karena kambing tidak selalu berjalan ke arah yang ia kehendaki.

Bukankah kemudian kita menemukan watak yang sama dalam kepemimpinan Rasulullah saw.? Beliau tidak hanya melihat mereka yang kuat. Beliau mencari yang lemah. Beliau memperhatikan yang tertinggal. Beliau merasakan penderitaan orang miskin. Beliau membela anak yatim. Beliau tidak sekadar memimpin manusia menuju suatu tempat. Beliau menjaga mereka agar tidak tersesat.

Dan mungkin kita baru memahami kedalaman semua itu ketika mengingat bahwa Muhammad sendiri adalah seorang yatim. Ia mengenal kehilangan sebelum mengenal kekuasaan. Ia tahu bagaimana rasanya tidak memiliki ayah sejak sebelum kelahirannya. Ia kehilangan ibunya ketika masih kecil. Kemudian kehilangan kakeknya.

Kesunyian itu pernah menjadi bagian dari masa kecilnya. Tetapi Allah tidak membiarkan kesunyian itu sia-sia. “Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu?”  Seolah-olah ada rahasia pendidikan Ilahi di balik perjalanan itu: Allah memperkenalkan kepadanya rasa kehilangan, agar kelak ia mampu memahami orang-orang yang kehilangan. Ia pernah menjadi yatim, agar ia tidak membiarkan anak yatim terlupakan. Ia pernah hidup sederhana, agar ketika kekuasaan datang kepadanya, dunia tidak menjadi tuannya. Ia pernah menggembala, agar kelak ketika memimpin manusia, ia memahami bahwa kepemimpinan bukanlah soal berada di depan, tetapi bertanggung jawab atas mereka yang berada di belakang.

Kini, kita hidup dalam zaman ketika anak-anak berusaha kita lindungi dari segala kesulitan. Kita berikan fasilitas, kenyamanan, sekolah terbaik, teknologi terbaik. Kita ingin mereka tidak mengalami apa yang pernah kita alami. Itu adalah kasih sayang. Tetapi mungkin ada satu hal yang perlu kita tanyakan: Apakah kita sedang membesarkan anak-anak yang hanya nyaman, atau manusia yang mampu menghadapi kehidupan? Sebab pada akhirnya, hidup tidak selalu lembut. Dan manusia yang terlalu lama dijauhkan dari kesulitan mungkin akan mudah patah ketika kesulitan datang.

Muhammad kecil tidak dibesarkan untuk menjadi rapuh. Tetapi yang lebih indah: ketangguhannya tidak menghilangkan kelembutannya. Ia kuat tanpa menjadi kasar. Ia tegas tanpa kehilangan kasih sayang. Ia memimpin tanpa kehilangan kerendahan hati. Mungkin itulah yang membuat kita merindukannya.

Kita tidak pernah melihat wajahnya. Tidak pernah mendengar suaranya secara langsung. Tidak pernah berjalan bersamanya di padang Bani Sa‘d. Tetapi semakin kita membaca kehidupannya, semakin terasa aneh kerinduan itu: Dan semakin kita membacanya, bahkan hanya masa kecilnya, semakin kita ingin berkata dalam hati: “Ya Rasulullah, andai kami hidup di zamanmu. Andai kami pernah melihatmu berjalan di padang itu. Andai kami pernah mendengar suaramu. Andai kami pernah menjadi salah satu orang yang kau pandang dengan senyummu.”

Rindu kami padamu ya rasul, rindu tiada terperi. Berabad jarak, darimu ya rasul, serasa dikau disini...