Kita terbiasa menyebut masa sebelum kedatangan Nabi Muhammad saw., sebagai zaman jahiliyah. Kita membayangkannya sebagai masa yang gelap. Masyarakat yang menyembah berhala, mengubur bayi perempuan, berperang antarsuku, mabuk, berjudi, dan hidup tanpa aturan. Lalu Islam datang seperti matahari yang terbit setelah malam yang panjang. Dan selesai. Tetapi, tentu tentu tidak sesederhana itu.
Sebab jika jahiliyah hanya berarti kebodohan, bagaimana mungkin masyarakat yang disebut jahiliyah melahirkan penyair-penyair besar, pedagang ulung, ahli nasab, pemilik tradisi lisan yang kuat, dan manusia-manusia yang memiliki keberanian serta kemurahan hati?
Barangkali kita perlu membaca kembali kata itu. Al-Qur'an menyebut jahiliyah beberapa kali. Al-Qur'an tidak menggunakannya semata-mata untuk menunjuk sebuah periode waktu. Ia berbicara tentang prasangka jahiliyah, hukum jahiliyah, tabarruj jahiliyah, dan fanatisme jahiliyah. Dengan demikian, jahiliyah bukan hanya sesuatu yang pernah terjadi. Ia juga sesuatu yang masih dapat terjadi pada manusia. Bahkan setelah Islam datang.
Ada sebuah hadis yang perlu direnungi. Ketika Abu Dzar ra., mencela seseorang dengan menyebut asal-usul ibunya, Rasulullah saw., menegurnya: إِنَّكَ امْرُؤٌ فِيكَ جَاهِلِيَّةٌ “Sesungguhnya pada dirimu masih terdapat sifat jahiliyah.”
Abu Dzar adalah sahabat Nabi. Ia telah beriman. Ia hidup di tengah masyarakat Islam. Tetapi Nabi saw., tidak mengatakan: “Engkau orang jahiliyah.” Beliau bersabda: “Di dalam dirimu ada jahiliyah.” Kalimat itu mengubah seluruh cara kita membaca istilah tersebut. Jahiliyah ternyata bukan hanya zaman. Ia bisa menjadi sifat. Ia bisa menyelinap ke dalam hati orang beriman.
Mungkin karena itu, jahiliyah bukan terutama persoalan berapa banyak yang kita ketahui, melainkan apa yang dilakukan pengetahuan itu terhadap jiwa kita. Seseorang dapat membaca ribuan buku, tetapi tetap jahil jika pengetahuannya membuatnya sombong. Seseorang dapat memiliki gelar akademik, tetapi tetap jahil jika ia tidak mampu berlaku adil. Seseorang dapat berbicara tentang agama, tetapi masih membawa jahiliyah jika ia menjadikan agama sebagai alasan untuk menghina orang lain.
Kita hidup dalam zaman ketika informasi begitu mudah diperoleh. Kita dapat mengetahui apa yang terjadi di belahan bumi lain hanya beberapa detik setelah peristiwa itu berlangsung. Namun, Apakah semakin banyak yang kita ketahui membuat kita semakin mengenal Tuhan? Sebab ada pengetahuan yang menerangi akal, tetapi tidak menerangi hati. Ada ilmu yang membuat manusia pandai berbicara tentang kebenaran, tetapi tidak membuatnya sanggup tunduk kepada kebenaran. Di situlah jahiliyah dapat bersembunyi.
Karena itu kita juga harus berhati-hati ketika menggunakan kata jahiliyah untuk orang lain. Kita mudah sekali menunjuk: “Ini perilaku jahiliyah.” “Orang itu jahiliyah.” “Masyarakat ini masih jahiliyah.” Tetapi mungkin Nabi saw., mengajarkan arah yang berbeda. Ketika beliau mengatakan kepada Abu Dzarr, فِيكَ جَاهِلِيَّةٌ, beliau sedang mengarahkan manusia untuk melihat ke dalam dirinya. Seakan-akan dikatakan: Jangan terlalu sibuk mencari jahiliyah di luar dirimu sebelum engkau selesai mencarinya di dalam dirimu sendiri. Sebab jahiliyah paling berbahaya bukanlah ketika seseorang tidak mengetahui kebenaran. Ia justru menjadi lebih berbahaya ketika seseorang mengetahui kebenaran, tetapi egonya tidak mengizinkannya tunduk. Iblis mengetahui Allah. Ia mengetahui perintah-Nya. Tetapi kesombongan membuatnya berkata: أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ “Aku lebih baik darinya.” Maka persoalannya bukan sekadar tidak tahu. Namun, jiwa yang tidak mau tunduk kepada kebenaran.
Di sinilah Islam datang. Islam bukan hanya memindahkan manusia dari satu kalender ke kalender yang lain. Ia memindahkan manusia dari keadaan batin kepada keadaan batin yang lain. Dari fanatisme menuju keadilan. Dari kesombongan menuju kerendahan hati. Dari hawa nafsu menuju penghambaan. Dari membela diri menuju mencari kebenaran. Dari merasa paling benar menuju kesediaan berkata: Wallahu a'lam.
Maka mungkin zaman jahiliyah yang paling perlu kita takuti bukanlah zaman yang telah berlalu empat belas abad yang lalu. Yang perlu kita takuti adalah jahiliyah yang belum selesai di dalam diri kita. Ia bisa muncul ketika kita marah karena dikritik. Ketika kita membela orang yang kita cintai meskipun ia salah. Ketika jabatan membuat kita merasa lebih tinggi daripada orang lain. Ketika kita menghina seseorang karena nasab, pekerjaan, pendidikan, atau hartanya. Ketika kita lebih mencintai kelompok daripada keadilan. Saat itu, mungkin sejarah tidak sedang berbicara tentang orang-orang Arab masa lalu. Sejarah sedang berbicara tentang kita.
Dan mungkin itulah makna terdalam dari mempelajari sirah Nabi saw., bukan untuk merasa lebih baik daripada manusia yang hidup sebelum beliau, tetapi untuk bertanya dengan jujur berapa banyak jahiliyah yang masih tinggal di dalam diri kita? Sebab manusia tidak menjadi bercahaya hanya karena hidup setelah datangnya cahaya. Ia menjadi bercahaya ketika cahaya itu benar-benar masuk ke dalam dirinya. “Maafkan Kejahiliyahan-ku yang pernah kepada Anda”.
Salman Ahmad