Rasulullah saw. sedang memperlihatkan perbedaan antara harga diri dan tujuan perjuangan. Beliau tidak kehilangan kehormatan karena kata Rasulullah dihapus dari sebuah dokumen. Sebab kehormatan seorang nabi tidak bergantung kepada pengakuan orang yang menolaknya. Di sini ada pelajaran yang sangat besar bagi kita. Sering kali kita merasa harus menjawab setiap penghinaan. Kita merasa harus membuktikan bahwa kita benar. Kita merasa nama baik harus selalu dibela, bahkan ketika persoalannya kecil. Kita ingin orang lain mengakui kedudukan kita.
Rasulullah saw. justru menunjukkan bahwa seseorang yang benar-benar yakin dengan kedudukannya tidak selalu membutuhkan pengakuan dari orang lain. Orang yang yakin kepada kebenaran tidak harus menang dalam setiap percakapan. Dan orang yang kuat tidak harus menunjukkan kekuatannya setiap kali memiliki kesempatan.
Tetapi ujian terbesar belum selesai. Ketika isi perjanjian disepakati, para sahabat mendapati bahwa mereka harus kembali ke Madinah tanpa melakukan umrah pada tahun itu. Secara emosional, keputusan tersebut sangat berat. Mereka sudah datang begitu dekat dengan Makkah. Mereka telah membayangkan dapat memasuki Masjidil Haram. Mereka telah mengenakan ihram. Mereka telah membawa hewan kurban. Namun sekarang mereka diperintahkan untuk kembali.
Tidak mengherankan jika sebagian sahabat merasa berat menerima keadaan itu. Umar bin Khattab ra. bahkan datang kepada Rasulullah saw. dan mempertanyakan keadaan yang mereka hadapi. Pertanyaannya lahir dari kecintaan, tetapi juga dari kegelisahan seorang manusia yang belum mampu melihat apa yang sedang dilihat oleh Rasulullah saw.
Inilah yang menarik dari Hudaibiyah. Para sahabat tidak selalu langsung memahami keputusan Nabi. Mereka mencintai beliau, tetapi mereka tetap manusia. Mereka bisa kecewa. Mereka bisa bingung. Mereka bisa bertanya. Bahkan mereka bisa merasa bahwa sesuatu yang sedang terjadi tidak sesuai dengan harapan mereka.
Dan Rasulullah saw. tidak membenci mereka karena itu. Beliau memahami bahwa manusia membutuhkan waktu untuk menerima sebuah keputusan yang bertentangan dengan harapannya. Ketika Rasulullah saw. kemudian memerintahkan para sahabat untuk menyembelih hewan kurban dan mencukur rambut, mereka tidak segera bergerak. Suasana menjadi sunyi.
Perintah telah diberikan, tetapi tidak langsung dilaksanakan. Bagi seorang pemimpin, ini adalah situasi yang sangat sulit. Jika ego seorang pemimpin bekerja, ia mungkin akan marah. Ia mungkin berkata, “Bukankah kalian sudah berjanji untuk taat?” Tetapi Rasulullah saw. tidak memilih jalan itu. Beliau masuk menemui Ummu Salamah ra. dan menceritakan keadaan tersebut. Ummu Salamah memberikan nasihat yang sederhana tetapi sangat tajam: Rasulullah saw. tidak perlu mengulangi perintah. Beliau cukup keluar, menyembelih hewan kurbannya sendiri dan mencukur rambutnya. Rasulullah saw. melakukannya.
Dan ketika para sahabat melihat beliau, mereka segera mengikuti. Di sini kita menemukan salah satu rahasia kepemimpinan Rasulullah saw.: beliau tidak selalu menyelesaikan persoalan dengan menambah kata-kata. Kadang-kadang manusia tidak membutuhkan penjelasan tambahan. Mereka membutuhkan seseorang yang menunjukkan jalan dengan tindakan.
Rasulullah saw. tidak mempermalukan para sahabat karena keterlambatan mereka. Beliau tidak membangun jarak antara dirinya dan mereka. Beliau memahami bahwa kekecewaan adalah bagian dari psikologi manusia. Tetapi beliau juga tidak membiarkan kekecewaan menguasai perjalanan umat.
Hudaibiyah, karena itu, sesungguhnya bukan hanya cerita tentang diplomasi. Ia adalah cerita tentang pengendalian emosi. Rasulullah saw. mengajarkan bahwa tidak setiap provokasi harus dijawab, tidak setiap penghinaan harus dibalas, dan tidak setiap kesempatan untuk menang harus diambil.
Ada kemenangan yang justru rusak ketika kita terlalu cepat meraihnya. Beberapa orang mungkin melihat Hudaibiyah sebagai sebuah kompromi. Sebagian sahabat bahkan pada awalnya merasa berat. Tetapi Rasulullah saw. melihat sesuatu yang belum mampu mereka lihat: perdamaian akan membuka ruang yang jauh lebih luas bagi dakwah. Dan sejarah kemudian membuktikannya. Apa yang tampak seperti mundur ternyata menjadi jalan menuju kemenangan. Allah menyebut peristiwa itu dalam Surah al-Fath sebagai fathan mubinan, kemenangan yang nyata.
Di sinilah Hudaibiyah berbicara kepada kehidupan kita. Kita sering kali ingin menang dalam setiap persoalan. Dalam keluarga, kita ingin argumen kita diterima. Di tempat kerja, kita ingin pendapat kita dianggap paling benar. Dalam pergaulan, kita ingin harga diri kita tidak tersentuh. Ketika seseorang merendahkan kita, kita merasa harus segera membalas. Padahal mungkin tidak semua kemenangan harus diperjuangkan. Ada perkara yang cukup kita lepaskan. Ada kata yang tidak perlu kita jawab. Ada tuduhan yang tidak perlu kita klarifikasi. Ada penghinaan yang justru menjadi kecil ketika kita tidak memberinya panggung. Dan ada saat ketika kita harus rela kehilangan sesuatu yang kecil untuk mendapatkan sesuatu yang jauh lebih besar.
Rasulullah saw. mengajarkan semuanya di Hudaibiyah. Beliau bukan tidak mampu marah. Beliau bukan tidak mampu berperang. Beliau bukan tidak mampu membalas. Beliau mampu. Tetapi beliau memilih untuk tidak melakukannya. Di situlah letak kematangan jiwa. Sebab menahan diri ketika kita tidak berdaya adalah kesabaran. Tetapi menahan diri ketika kita memiliki kekuatan untuk membalas adalah kebijaksanaan. Hudaibiyah akhirnya mengajarkan kepada kita satu hal yang mungkin paling sulit dalam kehidupan: kadang-kadang Allah meminta kita mundur beberapa langkah, bukan karena kita kalah, tetapi karena dari tempat itulah kita akan melihat jalan kemenangan yang sebelumnya tidak terlihat.
Dan mungkin, dalam perjalanan hidup kita sendiri, ada Hudaibiyah-Hudaibiyah yang sedang kita hadapi. Sesuatu yang kita kira kegagalan. Sebuah keputusan yang terasa tidak adil. Sebuah penghinaan yang membuat dada sesak. Sebuah kesempatan yang terpaksa kita lepaskan. Kita mungkin belum memahami mengapa Allah membiarkannya terjadi. Tetapi Hudaibiyah mengajarkan: jangan terlalu cepat menyebut sesuatu sebagai kekalahan.
Sebab kadang-kadang, yang sedang kita alami bukanlah akhir dari perjalanan. Mungkin Allah sedang mengajarkan kita cara berjalan dengan lebih tenang. Dan mungkin, kemenangan itu sedang disiapkan, tepat di balik kesediaan kita untuk menahan diri. Allahumma Shalli ‘ala Sayyidina Muhammad, wa ‘alaa aalihi wa shahbihi ajma’in.