Gambar 18  Rabi’ul Awwal – Hudaibiyah, Nabi saw., Mengajarkan Cara Menahan Diri

Ada bentuk kesabaran yang mudah kita pahami. Seseorang bersabar karena ia tidak memiliki pilihan lain. Tetapi ada kesabaran yang jauh lebih tinggi: ketika seseorang memiliki kekuatan untuk membalas, memiliki alasan untuk marah, memiliki orang-orang yang siap berdiri di belakangnya, tetapi ia memilih menahan semuanya karena mengetahui bahwa ada tujuan yang lebih besar daripada kemenangan sesaat.

Di Hudaibiyah, Rasulullah saw. berada pada keadaan seperti itu. Beliau berangkat dari Madinah bersama para sahabat dengan satu tujuan: umrah. Mereka tidak berangkat sebagai pasukan perang. Mereka mengenakan ihram dan membawa hewan kurban. Mereka datang dengan niat beribadah. Tetapi ketika semakin dekat dengan Makkah, Quraisy mengerahkan pasukan berkuda yang dipimpin Khalid bin Walid untuk menghalangi perjalanan kaum Muslimin. Rasulullah kemudian mengambil jalur lain dan berhenti di Hudaibiyah. 

Bayangkan suasana psikologisnya. Mereka telah menempuh perjalanan panjang. Mereka telah meninggalkan keluarga dan rumah. Di dalam hati mereka ada kerinduan kepada Ka'bah. Mereka datang bukan untuk menyerang siapa pun. Namun justru mereka diperlakukan seperti pasukan yang hendak menyerbu Makkah.

Di hadapan Rasulullah saw. terbentang sebuah kemungkinan yang sangat nyata: benturan. Dan benturan itu bukan sesuatu yang sulit dilakukan. Para sahabat telah memiliki pengalaman menghadapi peperangan dan menunjukkan kesetiaan yang besar. Mereka bukan orang-orang yang mudah gentar. Namun, keberanian itu justru harus diarahkan agar tidak berubah menjadi benturan yang merugikan. Tetapi justru di sinilah persoalannya. Rasulullah saw. harus mengendalikan keberanian orang-orang yang sangat mencintainya. 

Seorang pemimpin kadang-kadang menghadapi masalah bukan karena pengikutnya lemah, tetapi karena mereka terlalu siap melakukan apa pun untuk membelanya. Rasulullah saw. memahami bahwa satu keputusan yang lahir dari kemarahan dapat mengubah perjalanan umrah menjadi peperangan. Dan sekali perang terjadi di tanah yang suci, tidak seorang pun dapat memastikan bagaimana akhirnya. Akan ada darah yang tertumpah. Akan ada keluarga yang kehilangan anggota keluarganya. Dan mungkin yang paling berat, tujuan yang sejak awal ingin dicapai—membuka jalan dakwah—justru akan semakin jauh.

Karena itu, Rasulullah saw. memilih berbicara, mengirim utusan, mencari jalan keluar. Tetapi tekanan tidak berhenti. Utsman bin Affan ra. dikirim ke Makkah untuk berunding dengan Quraisy. Kemudian tersiar kabar bahwa Utsman telah dibunuh. Di titik ini, suasana berubah.

Berita kematian seorang sahabat dalam situasi seperti itu bukan sekadar informasi. Ia adalah pemantik emosi. Para sahabat berada di sebuah tempat yang penuh ketidakpastian. Mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di Makkah. Mereka hanya tahu bahwa salah seorang dari mereka mungkin telah dibunuh.

Maka lahirlah Bai'at ar-Ridhwan. Di bawah sebuah pohon, para sahabat menyatakan kesetiaan mereka kepada Rasulullah saw. Mereka siap menghadapi apa pun yang terjadi. Bagi Rasulullah saw., keadaan itu pasti merupakan tekanan yang sangat berat. Di satu sisi, beliau harus menjaga keselamatan umatnya dan menghindari perang. Di sisi lain, beliau tidak mungkin menunjukkan keraguan di hadapan orang-orang yang telah menyatakan kesetiaan sampai mati.

Tetapi seorang nabi bukan hanya pemimpin orang-orang yang sedang berani. Beliau juga harus menjadi orang yang paling tenang ketika semua orang mulai terbakar oleh keberanian. Dan kemudian datanglah Suhail bin Amr sebagai wakil Quraisy. Perundingan dimulai.

Di sinilah Hudaibiyah berubah menjadi ujian psikologis yang luar biasa. Rasulullah saw. meminta Ali bin Abi Thalib ra. menuliskan kesepakatan. Ali menulis Bismillahirrahmanirrahim. Suhail menolak. Ia meminta agar ditulis dengan ungkapan yang biasa dikenal oleh Quraisy. Rasulullah saw. menyetujuinya.  Kemudian Ali menulis Muhammad Rasulullah. Suhail kembali menolak.

Kalimat itu mungkin terasa seperti sebuah penghinaan. Bukan karena Rasulullah saw. membutuhkan pengakuan Suhail, tetapi karena gelar Rasulullah bukanlah gelar yang beliau ciptakan untuk dirinya sendiri. Itu adalah kedudukan yang diberikan Allah kepadanya. Namun justru pada saat seperti itu Rasulullah saw. memperlihatkan kedalaman jiwanya. Beliau tidak mempertahankan kata itu dengan mempertaruhkan seluruh perjanjian. Beliau meminta Ali menghapusnya dan menggantinya dengan Muhammad bin Abdullah.

Ali tidak sanggup menghapusnya. Kita dapat memahami perasaan Ali. Ia adalah orang yang sangat mencintai Rasulullah saw. Tangannya sendiri yang menuliskan kata itu. Bagaimana mungkin ia menghapus sebuah nama yang begitu mulia? Bagaimana ia berani menghapus kata Rasulullah saw.. di belakang nama Muhammad? Ali tidak berani, namun Nabi saw., sendirilah yang bertanya di bagian mana kata itu, dan beliau saw., sendirilah yang menghapusnya. Adegan itu pendek. Tetapi secara psikologis, ia sangat mengguncang.

Salman Ahmad